Seba, seputar-ntt.com – Kampanye akbar Pasangan Bupati Marthen Dira Tome – Nikodemus Rihi Heke atau Paket Mandiri pada Sabtu, (2/11/2015) membuat jalan trans Seba-Bolou lumpuh. Jumlah massa yang ikut menjemput Paket Mandiri dari Kantor Bupati Sabu Raijua diperkirakan berjumlah belasan ribu orang. Massa yang tumpah ruah tersebut seperti semut yang beriringan sepanjang empat kilometer.
Kampanye akbar Paket Mandiri yang dipusatkan diujung jembatan Tenihawu, tumpah ruah oleh massa pendukung yang hadir dari enam kecamatan di Sabu Raijua. Marthen Dira Tome – Nikodemus Rihi Heke yang dijemput menggunakan mobil Panser berada di barisan tengan antara kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Suhu udara yang mencapai 34″ Celsius tidak menghalangi massa pendukung untuk terus meneriakan yel-yel Mandiri.
Kampanye akbar Mandiri dihadiri oleh para pemimpin Partai pendukung, masing-masing dari Partai Golkar ada Ketua DPD I Golkar NTT, Ibrahim Agustinus Medah, Pengurus DPP, Imanuel Blegur dan sejumlah pengurus lainnya. Dari Partai Gerindra, hadir anggota DPR RI yang juga Wakil Ketua Fraksi Nasdem, Jhonny Plate, Ketua DPW Nasdem NTT, Jacky Uly serta sejumlah pengurus. Partai Gerindra menghadirkan Ketua DPD I, Gerindra NTT, Esthon Funay, Anggota DPRD NTT, Alex Ena dan Welem Kale serta sejumlah pengurus lain.
Jacky Uly yang diberi kesempatan pertama untuk menyampikan orasi politiknya mengatakan, Nasdem mendukung Paket Mandiri setelah melalui berbagai pertimbangan. Kinerja Marthen Dira Tome-Nikodemus Rihi Heke menjadi alasan utama kenapa Nasdem harus mendukung paket Mandiri.
“Mereka berdua adalah pekerja keras, dan telah membawa perubahan yang signifikan bagi daerah ini. Mereka adalah petarung sejati yang tidak pernah surut semangatnya walaupun terus dihambat oleh berbagi kendala. Alangkah ruginya masyarakat Sabu Raijua jika tidak memilih paket ini,” ujar Jacky Uly disambut tepukan meriah massa pendukung.
Sementara Wakil Ketua Fraksi Nasdem di DPR RI, Jhonny Plate mengungkapkan, bahwa kehadirannya dalam kampnye Mandiri hanya untuk melihat dengan mata kepala sendiri tentang geliat pembangunan yang dilakukan oleh bupati fenomenal yang ada di NTT. Dia mengaku bangga melhat apa yang telah dibuat terutama tambak garam yang sedang digallakan pemerintah saat ini.
“Dari udara saya melihat, begitu indahnya tambak garam yang terhampar di garis pantai yang indah pula. Garam ini akan menjadi masa depan yang gemilang untuk Sabu Raijua yang tidak pernah dipikirkan oleh orang lain di NTT. Jika masyarakat Sabu ingin segera menuju kemandirian maka tidak ada pilihan lain selain melanjutkan pembangunan yang ada dan tetap berdiri teguh menetapkan pilihan kepada paket Mandiri,” pungkas Jhony Plate.
Ketua DPD I, Gerindra NTT, Esthon Funay dalam orasi politiknya mengatakan, ketika Paket Mandiri mendapatkan kepercayaan rakyat untuk bertarung melalui pintu independen, maka tidak ada pilihan lain dari Gerinda untuk tidak mendukung paket Mandiri dalam Pilkada Sabu Raijua.
“Sejak pertama, Kami telah melihat tanda-tanda alam serta penyertaan Tuhan bagi calon pemimpin daerah ini. Hal ini terlihat dari dukungan masyarakat lewat KTP untuk mendukung Mandiri. Ingat suara Rakyat adalah suara Tuhan dan dimana rakyat berdiri disitulah partai Gerindra bersama mereka,” ujar Esthon Funay.
Ketua DPD I Golkar NTT, Ibrahim Agustinus Medah yang juga anggota DPD RI dari NTT saat menyampikan orasi politiknya mengaku terkagum-kagum dengan apa yang yang telah dilakukan oleh Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke. Konsep pembangunan yang pro rakyat telah memberi perubahan tidak saja pada pembangunan fisik tapi juga pada peningkatan kehidupan masyarakat.
“Ketika daerah ini saya mekarkan, saya senmpat ragu apakah bisa survive aatau tidak. Namun saya yakin bahwa Tuhan akan mengirimkan pemimpin yang tepat untuk membangun daerah ini. Dan itu telah dinyatakan oleh Paket Mandiri lewat berbagi karya pembangunan selama kurang lebih lima tahun.Jika Tuhan sudah menyertai seorang pemimpin maka tidak ada yang bisa menghentikan langkah mereka,” tandas Iban Medah.
Dalam orasi politiknya saat deklarasi, Marthen Dira Tome menyampaikan alasan kenapa mereka kembali mencalonkan diri untuk periode kedua. Masa kerja selama lima tahun bagi Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi rasanya sangat singkat. Pasalnya, setelah pelantikan, mereka tidak langsung bisa melaksanakan program -programnya tetapi harus melakukan pembenahan terhadap sepuluh kegiatan wajib yang merupakan indikator penilaian dari Dirjen Otonomi Daerah.
Ada pekerjaan yang harusnya sudah diselesaikan oleh Penjabat Bupati waktu itu. Tetapi sampai dengan pelantikan Ma Tade dan Ma Balla belum diselesaikan. Malah ada yang dilakukan tetapi terbengkalai. Misalnya pekerjaan RTRW, itulah sebabnya Sabu Raijua saat itu hendak digabung kembali dengan kabupaten induk (kabupaten kupang) karena skor atau nilai dari sepuluh indikator yang dinilai Dirjen Otonomi daerah hanya berada dibawah 40.
Mereka menyadari kalau kondisi ini tidak segera diperbaiki maka Sabu Raijua kembali gabung dengan Kabupaten Kupang sebagai Kabupaten Induk. Tahun pertama bekerja memperbaiki semua yang dikerjakan dengan tidak benar oleh Penjabat Bupati. Tahun itu pun nilai meningkat menjadi 64, tahun kedua meningkat menjadi 72 dan tahun ketiga meningkat dengan tajam menjadi 76.12. Pada akhirnya Sabu Raijua termasuk rangking 7 dari 32 Daerah Otonomi Baru (DOB) se Indonesia. Dengan demikian Sabu Raijua terbebas dari ancaman untuk gabung kembali dengan Kabupaten Induk.
Tiga program pokok yang mereka lakukan adalah percepatan pembangunan Ekonomi masyarakat, percepatan pembangunan pendidikan, dan percepatan pembangunan kesehatan masyarakat dan program penunjang yaitu pembangunan infra struktur.
Pembangunan Ekonomi dengan pendekatan amphibi melejit dengan pesat “tak bisa dilaut maka di darat dan sebaliknya “ Laut digerakan Darat diurus”.
Pembukaan dan pengolahan lahan pertanian baru dengan menggunakan traktor dan hand traktor secara cuma-cuma, pembagian benih dan pupuk secara cuma-cuma, bantuan motor air dan selang secara cuma-cuma, mendorong terjadinya usaha tani pada musim kemarau, jagung, bawang serta horti kultura dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan dan mengatasi pengangguran semusim, produksi pangan meningkat luar biasa, padi jagung, bawang merah dan lain-lain
Ia menyampaikan, Kabupaten Sabu Raijua pernah diisukan sebagai salah satu daerah yang terancam bergabung kembali dengan kabupaten induk karena berbagai alasan, diantaranya Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tidak mencapai target. Namun, hal itu terjadi saat Kabupaten Sabu Raijua maisih dipimpin oleh penjabat bupati.
Menurut Marthen, setelah dirinya dan Nikodemus Rihi Heke memimpin Sabu Rauijua, ada banyak kendala, diantaranya mengangkat ketertinggalan daerah itu untuk sama dengan daerah lain adalah bukan hal yang gampang. Namun, hal itu terbukti bisa tercapai sehingga pada 2014 lalu, PAD Sabu Raijua mencapai Rp26 miliar lebih dari sebelumnya hanya Rp 326 juta lebih.
Sabu Raijua juga dikategorikan sebagai daerah miskin dan kering. Karena itu, dimasa pemerintahan MANDIRI periode pertama, telah dibangun ratusan embung untuk sektor pertanian, tambak garam, bawang dan rumput laut. “Sekarang dalam satu tahun hasil panen bawang mencapai 400 ton, itu karena manfaat dibangunnya embung-embung,” katanya.
Saat ini, Sabu Raijua adalah daerah penghasil garam dan bawang terbesar di NTT. Untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pangan, maka harus dibangun embung-embung untuk ketersediaan air baku.
Marthen juga menyampaikan, Sabu Raijua adalah daerah yang kaya dengan pohon lontar penghasil gula (tuak). Karena itu, pihaknya telah bekerjasama dengan lembaga akademisi untuk melakukan rekayasa genetik yang akan menghasilkan pohon lontar hibrida yang bisa disadap oleh semua orang. Selain itu, gula yang sudah disadap akan diproduksi menjadi minuman kerasa yang berharga.
Ia berpendapat, untuk meningkatkan pembangunan di Kabupaten Sabu Raijua tidak selamanya berharap pada APBN asalkan pemerintah daerah mampu melakukan pendekatan pelayananan masyarakat, percepatan kesejahteraan masyarakat, dan mampu menggali potensi alam yang tersedia.
(joey)

Follow



















