Oleh : Daniel Manuel Faritus Mare Baru, Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Di tengah arus modernitas yang semakin berkembang dan seiring dengan zaman yang serba canggih Masyarakat desa Woko Mbambo mempunyai cara yang unik dan khas dalam membangun hubungan dengan Allah. Hal ini dapat dilihat dari suatu praktik kebudayaan yang senantiasa dijalankan yakni ritual Ura Dera Poke Sengga yang menjadi ritual untuk pemulihan hubungan yang rusak dengan Allah, sesama dan lingkungan alam sekitar. Dalam kehidupan masyarakat setempat yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, keharmonisan, konflik bukan semata-mata hanya dimengerti sebagai suatu masalah antara dua individu tetapi dapat menjadi hubungan yang rusak dan mengganggu keseluruhan hidup bersama. Karena konflik yang dilakukan tidak hanya diselesaikan secara internal tetapi mesti melibatkan semua masyarakat setempat. Di sinilah letak ritual Ura Dera Poke Sengga memiliki makna yang besar yakni memulihkan hubungan yang retak dan mempersatukan kembali tali persaudaraan. Menariknya di sini nilai-nilai ritual ini memiliki suatu hubungan yang sangat dekat dengan ajaran resmi Gereja Katolik tentang Sakramen tobat. Keduanya sama-sama memiliki peran sebagai nilai yang memulihkan kembali hubungan yang sudah retak, adanya pengakuan dan komitmen untuk hidup kembali dalam perdamaian dan persaudaraan. Oleh karena itu, dialog antara tradisi adat dan iman Katolik menjadi bagian yang sangat penting bahwa Injil dapat berakar dalam budaya tanpa kehilangan identitasnya.
Masyarakat di Kabupaten Nagekeo pada umumnya melihat perdamaian sebagai suatu kondisi ideal yang semestinya tetap dipelihara. Permasalahan yang dibiarkan berlarut-larut dan tidak ada jalan keluarnya tidak semata-mata dapat merusak hubungan dengan sesama, tetapi lebih dari itu dapat mengganggu keseimbangan hidup bersama. Oleh sebab itu, berbagai mekanisme adat dapat dikembangkan untuk memulihkan relasi yang rusak. Dalam konteks ritual Ura Dera Poke Sengga memiliki makna yang sangat besar dan dapat dimengerti sebagai sebuah nilai pemulihan yang melibatkan tiga ruang sekaligus yakni pengakuan, pemulihan dan pembaharuan. Rekonsiliasi bukan hanya penghentian konflik tetapi menciptakan kembali hubungan dengan sesama yang sudah rusak. Secara filosofis, rekonsiliasi menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk relasional. Seorang filsuf Aristoteles, menyebutnya sebagai zoon politikon, makhluk yang hanya dapat berkembang dalam kehidupan bersama. Ketika hubungan rusak karena suatu masalah, atau fitnah di sini juga dapat dilihat bahwa martabat manusia ikut terluka. Dari pandangan ini, ritual Ura Dera Poke Sengga bukan hanya ritual adat tetapi sebuah tindakan yang memulihkan kembali hubungan yang rusak antar manusia.
Dalam tradisi Gereja Katolik, sakramen tobat merupakan sakramen yang memulihkan kembali atau sakramen penyembuhan yang diberikan Kristus kepada Gereja untuk memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Melalui pengakuan dosa, penyesalan, absolusi imam, dan silih, umat mengalami kembali belas kasih dari Allah. Pandangan ini memiliki hubungan dengan nilai rekonsiliasi dalam budaya atau ritual Ura Dera Poke Sengga di mana dalam kebudayaan seseorang dipanggil untuk berdamai kembali dengan sesama, maka dalam Sakramen Tobat seseorang dipanggil untuk berdamai dengan Allah sekaligus sesamanya. Dengan demikian pengampunan tidak semata-mata berhenti pada kata-kata tetapi juga melalui tindakan nyata.
Ada beberapa pokok yang menjadi hubungan antara Ritual Ura Dera Poke Sengga dengan Sakramen tobat. Pertama, keduanya sama-sama berangkat dari kesalahan, keduanya menuntun keberanian untuk mengakui kesalahan. Dalam ritual adat pengakuan dilakukan di hadapan para tua adat setempat atau yang disebut dengan Mosalaki dan dalam Sakramen Tobat, pengakuan dilakukan di hadapan Allah melalui pelayanan Imam. Ketiga, keduanya sama-sama membangun relasi setelah adat jalanya pertobatan. Karena itu nilai-nilai yang terkandung dalam Ritual Ura Dera Poke Sengga menjadi jembatan pastoral yang menjelaskan makna sakramen tobat kepada umat. Budaya lokal bertujuan membantu umat untuk memahami bahwa pertobatan bukan hanya sebagai nilai perdamaian individu dengan Tuhan tetapi lebih dari itu menjadi panggilan untuk memperbaiki relasi dengan sesama. Dalam konteks masyarakat yang semakin terpecah oleh konflik, individualisme, dan polarisasi, pesan yang lahir dari perjumpaan antara budaya lokal dan iman kristiani ini menjadi semakin relevan karena tidak ada perdamaian tanpa pengampunan dan tidak ada pengampunan tanpa keberanian untuk bertobat. (*)

Follow



















