Kupang, seputar-ntt.com — Di tanah kering yang dijuluki Negeri Seribu Lontar, di antara hamparan padang sabana dan angin asin dari Laut Sawu, seorang lelaki pernah menanam mimpi di tanah yang gersang itu. Namanya Marthen Luther Dira Tome bupati pertama Sabu Raijua yang sejak 2013 menatap laut bukan hanya sebagai bentang biru, tetapi sebagai cermin masa depan. Dari laut itu, ia melihat putihnya garam kristal kecil yang kemudian mengubah arah sejarah daerahnya.
Kini, lebih dari satu dekade sejak ia mulai membangun tambak-tambak garam di Sabu Raijua, mimpi itu menjelma nyata. Garam dari Sabu Raijua telah melanglang buana, menembus pasar nasional, bahkan menjadi rebutan empat perusahaan besar: PT. Cheetam, PT. Susanti Mega, PT. Garindo, dan PT. Unichen.
“Banyak yang ingin membeli, karena garam dari Sabu Raijua ini kualitasnya super. Kita berusaha memenuhi permintaan mereka secara adil, agar tidak ada yang pulang dengan tangan kosong,” ujar Marthen, kini sebagai Penasehat PT. Nataga Raihawu Industri (NRI), dalam percakapan dibalik telpon dari Sabu Raijua, Selasa (17/9/2025).
Di tengah kerasnya iklim semi-arit yang bagi banyak orang dianggap kutukan, Marthen justru melihat berkat. Ia tahu panas yang panjang dan angin yang stabil adalah anugerah langka bagi pergaraman. Ia mengubah matahari menjadi sekutu, dan tanah tandus menjadi wadah kehidupan baru. “Satu hektar lahan di Sabu bisa menghasilkan 60 ton garam per bulan,” katanya pelan, seolah masih menyimpan keajaiban di balik angka itu.
Garam yang dihasilkan dari tambak-tambak itu putih bening seperti kristal, dengan kadar Natrium Klorida (NaCl) mencapai 98% sebuah kualitas yang membuatnya menempati kasta tertinggi di antara garam lokal. Air laut yang murni, angin yang tak henti, dan matahari yang setia, berpadu mencipta keseimbangan alam yang tak banyak dimiliki daerah lain di Nusantara.
Mimpi Marthen kini berpadu dengan arah kebijakan nasional. Presiden Prabowo Subianto melalui Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 telah menutup keran impor garam. Langkah itu membuka babak baru: menuju swasembada garam nasional 2027. Di tengah semangat besar itu, Sabu Raijua muncul sebagai bintang dari Timur pengingat bahwa kemandirian bangsa bisa dimulai dari pulau kecil yang dulu dipandang sepi.
“Langkah ini bukan sekadar meningkatkan produksi garam,” ujar Marthen, “tapi tentang membangun kemandirian dan martabat masyarakat.” tambahnya. Ia tahu, di balik tiap butir garam yang dijemur, ada peluh dan harapan banyak orang: pekerja tambak, pengangkut di dermaga, hingga pedagang kecil yang menggantung hidup dari denyut ekonomi baru.
Bagi Marthen, membangun tambak garam bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan perjuangan eksistensial membuktikan bahwa dari lahan yang keras pun, kehidupan bisa tumbuh jika disentuh dengan keyakinan. “Tugas pemimpin itu mencari dan menemukan potensi yang ada di daerah untuk membangun masyarakatnya,” katanya lirih. “Garam bagi kami bukan hanya komoditas. Ia adalah simbol harapan.”
Hari ini, saat garam-garam dari Sabu Raijua dimuat ke kapal tol laut menuju berbagai kota di Indonesia ribuan ton setiap bulannya nama Marthen Luther Dira Tome kembali disebut dengan rasa hormat. Ia pernah berjalan sendirian menembus panas, menggali tanah asin dengan keyakinan bahwa suatu hari, dari Sabu Raijua, akan lahir cahaya putih yang menyinari Nusa Tenggara Timur.
Dan benar di bawah terik matahari yang dulu ia percayai, kini berkilau garam-garam yang menjadi lambang kebangkitan ekonomi dari Timur. Sebuah pembuktian bahwa dari tanah yang kering, bisa tumbuh kemakmuran jika ada seorang yang berani bermimpi dan bekerja dengan sepenuh hati. (jrg)

Follow



















