Panen Perdana Garam di Sabu Raijua, Gereja Dukung Pengembangan Potensi Laut Berbasis Kelestarian

  • Whatsapp

Seba, seputar-ntt.com — Panen perdana garam yang dilakukan PT. Nataga Raihawu Industri (NRI) di tambak garam Lobobali, Desa Bodae, Kabupaten Sabu Raijua, Jumat (8/5/2026), mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk gereja.

Panen pertama tersebut dipimpin langsung oleh Marthen Dira Tome selaku penanggung jawab PT. NRI. Momentum itu juga dihadiri Ketua Klasis Sabu Barat Raijua, Pendeta Femy Susanti Neno yang menilai pengembangan industri garam merupakan langkah visioner dalam memanfaatkan potensi alam daerah.

Menurut Femy, potensi laut di Sabu Raijua merupakan kekayaan yang tidak dapat dipungkiri dan harus dioptimalkan demi kesejahteraan masyarakat. Ia menilai sektor garam dapat membuka lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan pendapatan warga.

“Kalau kita lihat, memang potensi Sabu salah satunya adalah laut. Kalau itu tidak dioptimalkan, tentu akan merugikan masyarakat sendiri, terutama dalam hal pekerjaan dan penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Ia menjelaskan, meski industri garam membutuhkan investasi dan teknologi seperti membran, terdapat sumber daya utama yang tersedia secara alami dan tidak perlu dibeli, yakni sinar matahari. Kondisi geografis dan iklim di Sabu Raijua dinilai menjadi modal besar untuk pengembangan tambak garam.

Namun demikian, Femy mengingatkan bahwa pengembangan ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan. Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam yang tidak disertai pemeliharaan hanya akan menimbulkan persoalan di kemudian hari.

“Ketika ini dilihat sebagai peluang pekerjaan dan peningkatan pendapatan masyarakat, maka harus diikuti juga dengan upaya menjaga dan melestarikan alam, supaya tetap berdampak baik bagi masyarakat dan tidak menjadi sumber persoalan di masa depan,” katanya.

Sebagai pihak gereja, lanjut dia, pihaknya mendukung setiap upaya pemerintah maupun inisiatif pribadi yang berorientasi pada pengembangan potensi daerah, termasuk yang dilakukan Marthen Dira Tome melalui PT. NRI.

Ia menyebut pengembangan tambak garam di Sabu Raijua merupakan bentuk inovasi dan keberanian menangkap peluang dari sumber daya yang dimiliki daerah sendiri.

Femy juga merefleksikan pesan kemandirian melalui kisah Alkitab tentang mukjizat lima roti dan dua ikan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan harus dimulai dari potensi yang tersedia di daerah dan diolah dengan kesungguhan.

“Kita tidak bisa terus berharap bantuan dari luar. Kita harus memberdayakan apa yang ada pada kita. Ketika itu diupayakan dengan sungguh-sungguh, pasti akan diberkati dan juga memberkati banyak orang,” ujarnya.

Ia berharap pengembangan industri garam di Sabu Raijua tidak hanya menjadi sumber ekonomi baru, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan alam sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Pada kesempatan yang sama, Marthen Dira Tome menegaskan, Nusa Tenggara Timur, dengan iklim semi aritnya yang menawarkan musim panas lebih lama, menjadi salah satu wilayah yang sangat potensial untuk menjadi daerah penghasil garam. Kabupaten Sabu Raijua, dengan tambak garam yang menggunakan teknologi geomembran, telah menunjukkan hasil yang luar biasa.

“Garam yang dihasilkan bersih dan putih seperti kristal, dengan kadar Natrium Klorida (NaCl) mencapai 98%. Faktor alam yang mendukung, seperti panas yang konsisten, angin yang stabil, dan air laut yang tidak tercemar, menjadikan Sabu Raijua sebagai salah satu daerah penghasil garam terbaik,” ujar Marthen.

Produktivitas lahan di Sabu Raijua ungkap Marthen Dira Tome, sungguh mengesankan, dengan satu hektar lahan kinu mampu menghasilkan hingga 60 ton garam per bulan. Ini bukan hanya menunjukkan potensi besar bagi Kabupaten Sabu Raijua tetapi juga bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur secara keseluruhan. Dengan penutupan impor garam, NTT memiliki peluang emas untuk menjadi salah satu penyumbang utama kebutuhan garam nasional.

“Langkah ini bukan hanya tentang meningkatkan produksi garam, tetapi juga tentang membangun kemandirian dan meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Dengan teknologi yang tepat dan dukungan yang kuat, NTT dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mencapai swasembada garam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” ujarnya.

Marthen Dira Tome juga berpesan kepada semua pihak yang terlibat dalam penanganan garam Sabu mulai dari hulu atau tambak, proses pengkutan atau kondektur dan sopir serta para buruh dipelabuhan menjaga kualitas garam Sabu Raijua.

“Panas matahari tidak boleh dilihat sebagai bencana tetapi harus ditatap sebagai anugerah. Karena Tuhan sudah kasih anugerah, maka kita boleh menjual kemiskinan dengan berbagai macam alasan kesulitan” tegas Marthen .

Bupati pertama di Kabupaten Sabu Raijua itu  menegaskan, membangun tambak garam di Sabu Raijua, akan menciptakan efek domino yang luar biasa. Rantai kehidupan ekonomi yang terbangun akan memberikan manfaat bagi banyak orang, dari pekerja tambak hingga pedagang kaki lima di dermaga. Dengan demikian, garam bukan hanya menjadi komoditas ekonomi tetapi juga simbol kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

“Tugas pemimpin itu mencari dan menemukan serta mengolah potensi yang ada di daerah untuk membangun daerah dan masyarakatnya. Sabu Raijua dan NTT secara keseluruhan dapat melangkah menuju masa depan yang lebih cerah. Garam bukan hanya komoditas, tetapi simbol harapan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat,” pungkas Marthen.(jrg)

Komentar Anda?

Related posts