Orang yang berseragam khaki ini adalah seorang guru, yang dulu kuliah sambil bekerja serabutan. Dari tukang ojek, jual ikan, kuli bangunan, dan sebagainya.
Kisah perjuangan raga dan cita yg telah saya lalui, ada baiknya saya tulis di sini. Bahwa sebetulnya, pelajaran hidup tidak semata didapatkan di bangku pendidikan tetapi juga di jalanan.
Ketika menjadi tukang ojek, di saat mentari pagi menyapa, bau bensin dan aspal adalah aroma khas yg selalu menemani. Bukan aroma buku baru. Sebelum tas kuliah tersampir, jaket ojek sudah melekat di badan. Kala itu, saya bukan sekadar mahasiswa di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Undana Kupang; saya juga menjadi tulang punggung diri sendiri, pemegang kendali stir motor Revo di pagi hari, dan kadang kala, menjadi penerus gerobak ikan segar di pasar subuh Oeba ke dalam ember Mateks untuk dijual dari rumah ke rumah hingga Bismarak dan Nekamese.
Kampus menuntut saya menghafal teori-teori pendidikan, tapi kehidupan menuntut saya menghitung receh demi receh. Uang kuliah ditanggung orang tua. Tetapi uang makan tiap hari yang saya cari sendiri selalu terasa seperti jurang yang menganga; sebuah lubang besar yang harus diisi dengan tetes keringat dan lelah.
Selain ojek, saya juga mengangkat semen dan pasir sebagai kuli bangunan. Debu semen dan pasir menempel di kulit yang gosong, seakan menyamarkan cita-cita saya. Malamnya, saya harus mencuci seragam kuliah, mencoba menghilangkan jejak-jejak pasir dan lumpur, berharap tak ada satu pun teman yang tahu.
Sebenarnya banyak pelajaran berharga dari semua yang saya tekuni dulu. Jual ikan misalnya. Bukan hanya soal untung rugi, tapi soal pelajaran hidup. Saya bisa belajar tawar-menawar, bisa belajar membaca karakter orang, dsb. Menjadi kuli bangunan memberi pemahaman tentang kekuatan fisik dan mental yang dibutuhkan untuk membangun sesuatu, bahkan membangun masa depan.
Namun, di sela-sela beraneka kesibukan itu, mimpi saya tak pernah redup. Di atas tumpukan buku yang berbau amis ikan dan keringat kuli, saya selalu membayangkan suatu saat akan berdiri di depan kelas, memegang spidol dan menceritakan kisah tentang arti sebuah perjuangan. Sampai giliran tiba, toga kemenangan itu mendarat indah di kepala. Jadilah ahli muda pendidikan, gelar diploma dua.
Bermodal ijazah diploma dua itu, sy mencoba peruntungan melalui seleksi CPNS Pemkot Kupang di penghujung tahun 2008. Pengumuman kelulusan di Januari 2009. Lulus dan menanti SK hinga enam bulan lamanya. Juli 2009, saya lupa tepatnya di tanggal berapa. Sebuah sekolah negeri memberi saya kesempatan utk merealisasi mimpi di saat kuliah dulu. Jadilah padaku menurut mimpiku: guru sekolah dasar. Hari pertama saya berdiri di depan kaca, menatap pantulan diri dalam balutan pakaian khaki. Bukan lagi jaket lusuh atau kaus kotor. Senyum lebar terukir, senyum kemenangan atas diri sendiri.
Perjuangan untuk meraih gelar masih terus berlanjut. Kuliah lanjut ke jenjang sarjana. Pada perjuangan lanjutan ini, aktifitas serabutan saya tinggalkan. Bermodal gaji dan beasiswa peningkatan kualifikasi guru dari kemdikbud, modal utk hidup dan biaya kuliah cukup terpenuhi. Perjuangan lanjutan ini final di tahun 2011.
Hingga hari ini saya masih terus kuat berdiri. Kekuatan saya ini bukan terletak pada gelar di belakang nama, tetapi pada fakta bahwa selain uang dari orang tua, saya berhasil menambal cita-cita dengan uang hasil keringat sendiri, menjahit mimpi-mimpi dengan benang keberanian.
Dari tukang ojek ke panggung sekolah, dari gerobak ikan ke meja guru, dari semen ke papan tulis—sy telah membuktikan bahwa latar belakang apa pun tidak bisa menghalangi tekad yang kuat. Semua ini saya tulis bukan untuk berbangga diri tapi saya hanya mau menegaskan bahwa pelajaran terbesar dalam hidup tidak hanya ditemukan di dalam kelas, melainkan di kerasnya perjuangan jalanan. (*)
Tulisan Jon Peu, Guru UPTD SDI Bertingkat Kelapa Lima 3

Follow



















