Seba, seputar-ntt.com – Di tanah kering yang akrab dengan angin dan debu, di sudut Kabupaten Sabu Raijua, Marthen Dira Tome memilih menanam harapan dengan caranya sendiri. Di antara barisan tanaman dan kandang-kandang ayam potong yang ia rawat, ia melihat sesuatu yang lebih dari sekadar panen—ia melihat masa depan yang perlahan tumbuh dari tanah yang selama ini kerap dipandang keras dan tak ramah.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), di matanya, bukan sekadar kebijakan yang datang dari pusat kekuasaan. Ia adalah denyut baru yang, jika dirawat dengan sungguh, bisa mengalirkan kehidupan hingga ke akar-akar masyarakat.
“Kalau dikelola dengan baik,” katanya pelan, “ini bukan hanya soal memberi makan anak-anak. Ini soal memastikan orang tua mereka tetap bekerja, tetap punya harapan.” Suaranya tidak meninggi, tapi mengandung keyakinan yang padat—seperti tanah yang telah lama ia kenal.
Di kebun yang ia sebut “Kebun Masa Depan”, buah-buah tumbuh bukan hanya untuk dipanen, tetapi untuk menjawab kebutuhan yang lebih besar: memberi makan, menghidupi, dan menjaga martabat. Ayam-ayam yang dipelihara pun bukan sekadar ternak, melainkan bagian dari rantai kehidupan yang ia bayangkan harus berputar di dalam daerah sendiri.
Baginya, setiap rupiah yang beredar di kampung adalah napas yang memperpanjang hidup banyak orang.
Ia kerap merasa heran, ketika di luar sana orang sibuk berdebat, menuding, bahkan mencela. Sementara di sini, tanah menunggu untuk ditanami, laut menunggu untuk ditangkap ikannya, dan tangan-tangan masyarakat menunggu untuk diberi pekerjaan.
“Kalau semua didatangkan dari luar,” ujarnya, “lalu apa yang tersisa untuk orang-orang di sini?” Pertanyaan itu menggantung, sederhana tapi menggugah.
Bagi Marthen, tugas pemerintah tidak pernah rumit: memastikan rakyatnya tidak lapar dan tidak kehilangan pekerjaan. Dalam situasi negara yang tak selalu lapang, ia percaya satu hal—biarlah yang ‘kempes’ itu anggaran negara, jangan kehidupan rakyatnya. Maka uang yang turun ke daerah, menurutnya, harus dijaga agar tidak kembali mengalir keluar, tetapi berputar, menghidupi, dan menguatkan.
Ia juga menaruh harapan pada kesadaran bersama. Bahwa menjadi bagian dari demokrasi bukan berarti bebas berkata tanpa arah, melainkan ikut bekerja, ikut menanam, ikut menjaga. “Hak kita menerima,” katanya, “tapi kewajiban kita adalah memastikan semuanya berjalan.”
Di Sabu Raijua, harapan itu kini tidak lagi abstrak. Ia tumbuh di kebun, berkokok di kandang, dan perlahan mengisi dapur-dapur MBG. Barangkali, dari tempat sederhana inilah, sebuah gagasan besar menemukan bentuknya yang paling nyata: ketika program negara bertemu dengan kerja tangan rakyat, dan keduanya berjalan dalam irama yang sama.(joey rihi ga)

Follow

















