Gembalakanlah Gembala-GembalaKU

  • Whatsapp

Kisah seorang janda yang dengan syukur menerima panggilan tugas pelayanan, menjalani pelayanan dari ketulusan, bermodalkan kepolosan, yang kemudian merasa gelisah melihat asiknya praktek perhambaan pada dua Tuan, dan gembala yang memanfaatkan kawanan domba yang demi kepentingannya.

Dasar Cerita Matius 6: 24, Yehezkiel 34 : 1-11,-

Masih dengan aku, Ibu Jean yang sering disapa ma E’en, seorang janda yang dengan semangat menerima panggilan pelayanan. Namun di dalamnya harus melihat dan merasakan kegelisahan super menyayat hati. Kalau dalam cerita sebelumnya aku mengisahkan bagaimana persekongkolan licik pengurus gereja mempengaruhi aku dan rekan-rekan pelayanan untuk bekerja sama mengamankan rumusan anggaran pelayanan yang tidak benar. Dalam cerita kali ini aku mengisahkan dinamika yang terjadi dalam rapat anggaran pelayanan, diwarnai strategi licik oleh beberapa oknum pengurus dan gembala-gembala, demi mensahkan rancangan anggaran yang tidak benar itu. Begini ceritanya:

Senin, 26 Februari 2024, aku pergi ke gereja untuk mengikuti rapat anggaran program pelayanan. Aku tiba sudah sangat terlambat kurang lebih pukul 16.45 wita, rapat sudah berlangsung dengan sangat alot. Ternyata harapanku terkabul, banyak rekan-rakan sepelayanan yang paham dan begitu keras menolak rumusan anggaran yang dinilai tidak adil untuk UMAT itu. Disaat rapat begitu riuh dengan pro dan kontra akan rumusan anggaran, tiba-tiba ada teriakan interupsi dari seorang peserta rapat berparas muda, Kira-kira yang saya ingat dari perkataan orang muda itu begini “ Apakah gereja punya sumber pendapatan lain yang besar setiap minggu selain dari persembahan UMAT? Suasana sekejab hening dan tidak ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang jawab, berarti tidak bisa dipungkiri, UMAT adalah penyumbang terbesar kas gereja lewat persembahan mereka, baik itu pada kebaktian minggu, maupun kebaktian kelompok-kelompok sel di setiap wilayah, yang kemudian disetor ke gereja setiap bulan. Lanjut orang muda itu memprotes rumusan anggaran tersebut dengan bertanya, “ Kenapa anggaran pelayanan untuk UMAT begitu kecil lewat pos-pos group pelayanan? Kenapa anggaran yang sifatnya konsumtif bagi gembala dan pengurus lainnya selama 1 tahun begitu besar?, mohon dipertimbangkan. Suasana makin hening, kemudian teriakan kecil ”setuju” oleh seseorang dan disusul dengan yang lain, dan tanpa sadar saya pun berteriak setuju.

Namun, ada hal aneh yang aku lihat. Beberapa tokoh umat yang aku nilai cukup vocal, dalam rapat hanya diam, tetapi mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain lalu berbicara dengan rekannya lain, dan secara tidak sengaja seorang dari mereka mendekati dua orang bapak yang duduk di belakangku, dan aku sedikit mendengar pembicaraan mereka, “ kita terima saja, nanti kita urus di belakang, saya dapat pesan dari ketua, kita punya anggaran nanti akan dinaikan, dan kita punya kerabat yang kerja urus anak-anak, gaji mereka juga akan naik. Sudah kita terima saja. ;diikuti dengan kata oke oleh kedua bapak di belakangku. Aku hanya bisa memendam dan merahasiakan hal ini sejenak, sampai aku bertemu orang yang tepat untuk aku ceritakan semua. Rapat masih dengan teriakan-teriakan interupsi dari peserta yang lain. Karena begitu riuh, rapat diskors untuk makan malam, dengan janji dan sepakat setelah makan malam, pengurus akan menjawab dan merumuskan kembali dengan baik. Akhirnya kami pun meninggalkan ruang rapat untuk makan bersama. Di tempat makan, tepatnya di samping ruang rapat, aku ambil kesempatan duduk di samping orang muda yang tadi begitu lantang memprotes. Permisi saya ijin duduk makan disini, dengan sedikit membungkukan badan. Ohhhh mari oma, silahkan, dengan sopannya orang muda ini memberi aku tempat, dan mengangkat botol minumnya dari kursi yang akan aku duduki.

Selama makan kami tidak bercengkrama, sampai ada seorang rekan datang menyapa orang muda ini dengan sapaan Rizky. Disitu aku baru tahu nama orang muda ini. Aku memberanikan diri membuka pembicaraan;, Nak Rizky, tadi bicara saat rapat betul-betul mewakili saya punya kegelisahan selama ini, pemuda itu cuma mengangguk diikuti dengan senyum tipis, kemudian meletakan piring makannya dan mulai menanggapiku. Oma, salam kenal. Saya orang lama di kampung ini, namun baru ikut melayani. Kebetulan saya bekerja sebagai staf honorer di kantor kelurahan, di bagian keuangan. Jadi membuat rancangan anggaran belanja, mengawasi dan memonitor keuangan sudah jadi makanan saya setiap hari. Yaaah di semua tempat bila pemimpinnya tidak takut akan Tuhan, bisa membuat mereka lupa diri, dan ujung-ujung menyelewengkan apa saja termasuk uang untuk kepentingan mereka. Saya cuma bawahan jadi tidak bisa buat apa-apa selain membukukan keuangan keluar dan masuk secara rinci. Tapi masa praktek yang sama bisa terjadi di gereja? Itu yang membuat saya tadi sangat berani untuk bersuara. Rizky menjelaskan apa yang melatarbelakanginya untuk berani bersuara.

Nak, oma senang sekali, oma bisa berbicara dengan orang yang tepat, oma harap nak Rizky terus bersuara. Oma tahu banyak hal, hanya oma takut bersuara, mereka sudah sangat baik dengan oma. Sambil berbisik, aku menceritakan apa yang aku tahu, menunjukan kepadanya pesan Whatsaap dari seorang gembala, termasuk apa yang aku dengar tadi. Bukan untuk menghasut, tapi ini yang bisa aku lakukan sebagai bagian dari bersuara, walau nantinya akan diwakili oleh anak muda ini. Dengan ekspresi kecut dan menggelengkan kepala, Rizky berpamitan dengan sedikit berpesan, terima kasih oma, saya akan bersuara lagi, walau nanti saya akan dibenci mereka. Risky pun beranjak, berdiri di tempat yang agak jauh dariku sambil merokok. Aku masih duduk sejenak sambil berdoa “Tuhan sadarkan gembala-gembala kami, agar mereka tidak meninggalkan kawanan domba yang sudah Tuhan percayakan kepada mereka, amin”. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca, aku bergegas ke toilet untuk merapikan diri, sebelum kembali masuk ke dalam ruang rapat. Saat aku berada dalam toilet, terdengar langkah kaki beberapa orang dengan samar aku mendengar ada suara dua orang perempuan dan suara satu orang laki-laki. Aku sangat kenal suara-suara mereka, dengan tidak sengaja lagi aku mendengar rencana busuk mereka untuk mensahkan rumusan anggaran itu, diakhiri dengan tertawa kecil, kemudian mereka pergi. Akupun bergegas keluar dari toilet dan masuk ruang rapat.

Berjalan masuk ruang rapat, aku melihat pak Tigor berdiri di belakang meja pimpinan rapat dengan memegang mic, aku berjalan cepat ke tempat dudukku dan mendengar dengan seksama. Pak Tigor adalah salah seorangpengurus keuangan gereja. Bapak, Ibu!!, rumusan anggaran ini kami buat dengan seksama, mengatur dengan baik, tanpa ada kepentingan apa-apa. Karena waktu saya memegang keuangan, kas gereja itu NOL, suaranya sangat besar dan keras membuatku gemetar, apakah ada yang berani menanggapinya? Tanyaku dalam hati dan mengelus dada, sambil terus memasang telinga baik-baik penjelasan pak Tigor. Dari Kas gereja yang NOL ini, saya coba membuat rancangan pendapatan berpatokan pada pendapatan tahun lalu. Kemudian berdasarkan rancangan itu, kami mengatur secara baik peruntukannya dengan adil. Lanjut pak Tigor dengan suaranya yang keras “KALAU ADA PROGRAM YANG SIFATNYA KONSUMTIF, PASTI SAYA AKAN PANGKAS ATAU HAPUS”. Pak Tigor kemudian memaparkan rancangan belanja rutin yang besar itu. anggaran itu hampir dua milyar dibandingkan dengan anggaran belanja pelayanan untuk UMAT, yang hanya sebesar lima ratus juta. Dalam hati saya sedih, untuk apa anggaran dua milyar itu, kenapa anggaran pelayanan untuk UMAT kecil sekali?, lalu pak Tigor meletakan mic dan berjalan kembali ke belakang ruang rapat, dikuti suara riuh dengan begitu banyak peserta rapat yang mengangkat tangan minta bicara. Perasaanku mulai kalut, takut akan terjadi keributan.

Sembilan orang peserta rapat yang diberi kesempatan untuk berbicara, hampir semua menentang penjelasan pak Tigor. Rizky adalah pembicara kesepuluh, dengan tenang orang muda ini berbicara menanggapi, “berbicara keuangan dengan informasi kas awal 2024 NOL harus disertakan laporan Kas Tahun 2023”. Dalam lembaran dokumen yang peserta rapat pegang, tidak disertakan dengan laporan Kas 2023, maka penjelasan Pak Tigor tadi saya sangsikan, lanjut Rizky menyampaikan rancangan anggaran dalam belanja rutin yang tidak penting, yang sifatnya konsumtif agar dipangkas atau dihapus seperti yang pak Tigor sampaikan tadi. begitu kira-kira tanggapan dari Rizky sebagai pembicara terakhir. Aku merasa ada kejanggalan, ketika pemimpin rapat kembali menanggapi, tidak disertai dengan laporan kas 2023 sebagai bukti apa yang disampaikan Pak Tigor. Lalu untuk mensahkan rumusan anggaran, pemimpin rapat menyampaikan bahwa semua yang tadi disampaikan akan dipertimbangkan dan untuk rumusan anggran kita serahkan ke bendahara dan tim perumus untuk lakukan rasionalisasi anggaran, dilanjutkan dengan seruan kata SETUJU ? diikuti teriakan SETUJU oleh sebagian peserta rapat. Rapat pun selesai, ditutup dengan doa. Aku berdosa, Aku tidak mau dan tidak bisa berdoa. Dalam pikiranku berkecamuk, apa keputusan yang diambil? Rapat anggran ini tidak mengahasilkan suatu keputusan yang jelas. mereka yang merumuskan, mereka pula yang kemudian akan lakukan rasionalisasi anggaran. Apa hasil rasionalisasi akan kembali adil? Ataukah tetap mengamankan anggaran yang besar itu untuk kepentingan mereka?. Tuhan tolong kami, tolong UMAT-MU, gembala – gembala kami asik dengan kepentingan mereka. kata amin mengagetkanku, aku mengambil hand phone dari dalam tas, ternyata sudah pukul 22.30 Wita, akupun beranjak pulang.

Sesampai dirumah, kegalauanku sedikit terobati, ternyata anak-anakku dan suami mereka ada di rumah, plus cucu semata wayangku yang lucu, sukacitaku kembali. Akhirnya mereka; anak–anak dan suami-suami mereka, jadi tempat curhat tentang dinamika yang terjadi selama rapat di gereja tadi. Disela-sela aku bercerita, suami dari anakku yang pertama, memotong ceritaku dengan berkata ; mama, bukan hanya gereja disini yang seperti itu. Hal yang sama seperti mama cerita tadi, terjadi juga di gereja kami di bagian barat sana, bahkan fenomena sekarang, pelayan tetap yang melayani di gereja kami minta dibayar kalau memimpin kebaktian perayaan. Kebetulan saya ketua panitia pasakah digereja. Lalu anakku yang kedua menyambung, mama; ini bukan hal baru, di gereja kami di bagian timur juga begitu, pelayan diatas mimbar menghimbau UMAT dari atas mimbar, ditengah-tengah khotbah berkata “UMAT harus mendandani kami para pelayan”. Lah… bukannya harus kebalikan ya? Tuhan kan bilang harus melayani bukan dilayani, sahutku. Mama, mantuku lanjut bercerita, di gereja teman, kebetualan itu gereja yang tidak sealiran dengan kita, pelayan-pelayannya berkelahi berebut mimbar, siapa yang khotbah saat itu, ya ujung-ujung semua tentang uang persembahan UMAT.

Dari cerita-cerita anak-anak dan mantu-mantuku tadi, aku kemudian merenung, mau jadi apa pelayanan dan apa jadinya kawanan domba-domba, bila gembala – gembala hanya memikirkan kepentingannya atas nama pelayanan. Kita tinggal menunggu murka Tuhan seperti firman Tuhan dalam kitab Yehezkiel 34 : 1-10, tentang Gembala-gembala Israel. _GM_

*Cerita ini diangkat dari kisah nyata. Namun nama dan peran disamarkan*

Bersambung ———————————————————//————————————————————-

Komentar Anda?

Related posts