Oleh : Anizetus Ceunfin, Mahasiswa Fakultas Filsafat, Unwira Kupang
Dalam kehidupan umat Katolik, masih terdapat pandangan yang cukup kuat bhwa sakramen pengurapan orang sakit merupakan sakramen yang diberikan ketika seseorang sudah berada di ambang kematian. Tidak jarangkeluarga baru memanggil imam ketika anggota keluarganya sudah tidak sadarkan diri atau ketika dokter menyatakan bahwa harapan hidupnya sangat kecil. Akibatnya sakramen ini sering dipahami sebagai “sakramen terakhir” yang menandakan bahwa ajal sudah mendekat. Pandangan yang demikian sebenarnya tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Gereja. Sakramen pengurapan orang sakit bukanlah tanda akhir kehidupan melainkan tanda kehadiran Allah yang membebaskan manusia dari ketekutan, penderitaan dan kuasa dosa dalam situasi sakit yang dialaminya.
Pemahaman yang keliru tentang sakramen ini sering membuat orang merasa takut ketika melihat imam datang membawa minyak suci. Kehadiran imam seolah menjadi pertanda bahwa kematian sudah menunggu didepan pintu. Padahal Gereja mengajarkan bahwa sakramenpengurapan orang sakit diperuntukkan bagi siapa saja yang sedang mengalami sakit berat, lanjut usia atau kondisi kesehatan yang memburuk. Sakramen ini tidak diberikan untuk mepersiapkan kematian semata, tetapi untuk memberikan rahmat penghiburan, kekuatan, dan penyembuhan sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian fokus utama sakramen ini bukanlah kematian melainkan kehidupan dan keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada umat-Nya.
Dalam terang iman Kristiani, sakit bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga meneyntuh dimensi psikologis, sosial dan spiritual. Seseorang yang sakit sering mengalami ketakutan,, kecemasan, kesepian, bahkan kehilangan harapan. Pada saat seperti itu sakramen pegurapan rang sakit menjad sarana pembebasan. Melalui sakramen ini, Kristus hadir sebagai tabib Ilahi yang menyembuhkan lika –luka manusia. Pembebasan yang diberikan tidak selalu berarti kesembuhanfisik secara langsung, tetapi pembebasan dari keputusasaan, rasa takut, dan keterasingan yang muncul akibat penyakit. Rahmat sakramen membantu orang sakit untuk menerima keadaan dengan iman dan menemukan makna pederitaan dalam persatuan dengan Kristus yang menderita.
Lebih jauh lagi, sakramen pengurapan oarng sakit memiliki dimensi pembebasan dari dosa. Gereja mengajarkan bahwa melalui sakramen ini, Tuhan memberikan pengampunan dosa apabila orang sakit tidak dapat menerima saktamen tobat. Dengan demikian, pengurapan menjad tanda rekonsiliasai dan pemulihan hubungan manusia dengan Allah. Dosayang sering menjadi beban batin seseorang dibersihkan oleh belaskasih Tuhan sehingga orag sakit dapat mengalami kedamaian dan kebebasan rohani. Dalam konteks ini sakramen pengurapan tidak hanya menyembuhkan tubuh yang sakit,tetapi juga jiwa yang membutuhkan penghiburan dan pemulihan.
Ditengah budaya modern yang seringmemandang sakit sebagai kegagalan atau beban, sakramen pengurapan orang sakit mengingatkan bahwa martabat manusiatidak pernah hilang karena penyait. Orang sakit tetap berharga dimata Allah dan tetap memiliki tempat dalam komunitas Gereja. Kehadiran imam yang memberikan pegurapan menjadi tanda bahwa Gereja tidak meninggalkan anggotanya yang menderita. Sebaliknya, Gereja hadir untuk mendampingi, menguatkan dan membebaskan mereka dari perasaan tidak berguna atau ditinggalkan. Sakramen ini menjad wujud nyata solidaritas Kristus dan Gereja terhadap mereka yang sedang bergumul dengan penderitaan.
Pandangan bahwa sakramen pengurapan orang sakit adalah “sakramen orang yang akan meninggal” perluterus diperbarui melalui katekese yang tepat. Umat perlu memahami bahwa sakramen ini sebaiknya diterima sejak seseorang mengalami sakit berat atau memasuki usia lanjut yang disertai kelemahan fisik. Dengan menerima sakramen ini lebih awal, orang sakit dapat merasakan rahmat penguatan dan pembebasan secara lebih mendalam. Mereka tidak perlu menunggu sampai pada keadaan mejadi kritis. Sakramen ini adalah anugerah Allah bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan, bukan sekedar ritual menjelang kematian.
Pada akhirnya, sakramen pengurapan orang sakit merupakan sakramen pengharapan. Di dalamnya, Kristus hadir untuk mengangkat, menguatkan , dan membebaskan manusia dari segala bentuk penderitaan yang menghalangi mereka untuk hidup dalam damai bersama Allah. Sakramen ini bukanlah tanda bahwa hidup telah berakhir, melainkan tanda bahwa kasih Allah tetap bekerja bahkan di tengah kelemahan dan sakit yang paling berat sekalipun. Oleh karena itu, sakramen pengurapan orang sakit hendaknya dipahami bukan sebagai simbol kematian yang menakutkan, tetapi sebgai tanda pembebasan dan keselamatan yang membawa pegharapan baru bagi setiap orang yang menderia. Melalui sakramen ini, Gereja mewartakan bahwa dalam sakit maupun sehat, menusia tetap berada dalam pelukan kasih Allah yang menyelamatkan. (*)

Follow



















