MBG di Mata Marthen Dira Tome, Mestinya Jadi Motor Ekonomi Lokal

  • Whatsapp

Seba, seputar-ntt.com — Bupati pertama Kabupaten Sabu Raijua, Marthen Dira Tome, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kebijakan strategis pemerintah yang tidak hanya menyasar pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga berpotensi menggerakkan ekonomi lokal.

Hal itu disampaikannya dalam wawancara terkait pengelolaan kebun “Kebun Masa Depan” dan usaha peternakan ayam potong yang kini ia kembangkan untuk memasok kebutuhan MBG di daerah tersebut.

Menurut Marthen, keberhasilan program MBG sangat bergantung pada tata kelola di tingkat daerah. Ia menekankan pentingnya distribusi dan pemanfaatan anggaran yang langsung menyentuh masyarakat, terutama petani, nelayan, dan peternak.

“Dana MBG ini sebenarnya akan mengalir ke masyarakat bawah. Kalau dikelola dengan baik, bukan hanya memberi makan bergizi, tapi juga menyelesaikan persoalan kemiskinan dan pengangguran,” ujarnya.

Ia juga mengkritik kecenderungan sebagian pihak yang hanya menyoroti kelemahan program tanpa melihat potensi besar yang dimilikinya. Marthen menilai, dalam kondisi fiskal negara yang menghadapi tekanan, program seperti MBG justru menjadi instrumen penting untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Kalau negara harus efisiensi, jangan sampai rakyat yang dikorbankan. Biarkan anggaran pemerintah yang menyesuaikan, tapi masyarakat tetap harus hidup layak,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kebutuhan bahan pangan untuk MBG seharusnya dipenuhi dari produksi lokal, bukan didatangkan dari luar daerah. Jika hal itu tidak dilakukan, maka akan terjadi aliran keluar uang daerah (capital flight) yang justru merugikan perekonomian lokal.

“Pengelola MBG harus beli dari masyarakat setempat. Sayur, ikan, telur, daging—semua harus disiapkan oleh rakyat sendiri,” tegasnya.

Saat ini, Marthen tengah mengembangkan kebun hortikultura dan peternakan ayam potong di Sabu Raijua sebagai bagian dari dukungan nyata terhadap program MBG. Hasil kebun seperti buah-buahan telah mulai dipasok untuk kebutuhan dapur MBG, sebagai upaya menciptakan ekosistem ekonomi berbasis lokal.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk bersikap rasional dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Menurutnya, partisipasi aktif masyarakat jauh lebih penting daripada sekadar kritik tanpa kontribusi.

“Kewajiban kita adalah mendukung, menanam, dan memproduksi. Bukan hanya berbicara. Kalau semua kebutuhan bisa kita penuhi sendiri, maka manfaat MBG akan benar-benar dirasakan,” ujarnya.

Marthen berharap, dengan keterlibatan semua pihak, program MBG tidak hanya sukses sebagai program sosial, tetapi juga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur.(jrg)

Komentar Anda?

Related posts