Kolaborasi Nautika Foundation Hidupkan Ekonomi dan Pelestarian Laut

  • Whatsapp

Kalabahi, seputar-ntt.com – Desa Alor Besar turut memeriahkan Festival Pekan Wisma Raya 2025 dengan menghadirkan stand bertema “All Best”, yang menampilkan segala potensi terbaik desa Alor Besar di satu ruang kolaboratif.

Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Mini Kalabahi sejak 13 hingga 18 Oktober 2025 ini menjadi ajang promosi bagi masyarakat untuk memperkenalkan budaya, hasil laut, kerajinan tangan, hingga upaya pelestarian alam yang mereka jalankan bersama Nautika Foundation.

Semangat kolaborasi antara masyarakat pesisir dan lembaga lokal kembali tampak dalam kegiatan ini. Tak hanya memamerkan produk lokal unggulan, Pekan Wisma Raya juga menandai bagaimana upaya ekonomi dan konservasi dapat berjalan beriringan, dua hal yang kini menjadi fokus utama Nautika Foundation.

Melalui kegiatan pendampingan, Nautika Foundation terus mendukung kelompok-kelompok masyarakat di Desa Alor Besar untuk mengembangkan produk kreatif sekaligus menjaga alam laut yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Empat kelompok yang berpartisipasi dalam kegiatan ini antara lain Mama-Mama Ikan Asap Sebanjar, Pokmaswas Bunga Bali Alor Besar, dan Alor Besar Craft (ABC), serta keikutsertaan Sentra Tenun Gunung Mako yang dikenal berkat kiprah Mama Sariat, ikon tenun Alor di kancah nasional maupun internasional.

Produk-produk yang ditampilkan, mulai dari nasi ikan asap, olahan sambal ikan asap khas Alor Besar, hingga kerajinan tangan berbahan limbah kayu dan kain tenun, mendapat sambutan hangat dari pengunjung.

Pada hari pertama, Tiar Karbala, S.Mn., M.Sc, selaku Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital, bersama Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo turut mengunjungi booth All Best dan berbelanja produk lokal.

Antusiasme juga datang dari wisatawan mancanegara asal Jerman dan Singapura yang memadati booth All Best Selama kegiatan berlangsung, kelompok dampingan mencatat peningkatan omzet hingga tiga kali lipat dari penjualan mingguan biasanya.

“Kami melihat masyarakat semakin percaya diri membawa hasil karyanya ke ruang publik. Prinsipnya sederhana, ekonomi tumbuh, memperkuat gotong royong sambil alam tetap terjaga,”ujar Mohammad Dinifajrian Jong, Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Nautika Foundation.

Selain menggerakkan UMKM, Nautika Foundation juga bekerja sama dengan Pokmaswas Bunga Bali dan UPTD Pengelola Kawasan Konservasi Taman Perairan Kepulauan Alor dalam kegiatan edukasi serta pemulihan ekosistem laut.

Kelompok masyarakat ini aktif memantau kawasan perairan di sekitar Desa Alor Besar, yang termasuk dalam Zona Pemanfaatan Berkelanjutan kawasan konservasi.

Sebelumnya, masih ditemukan praktik penggunaan racun tuba di wilayah tersebut. Kini, Pokmaswas berupaya menegakkan kembali fungsi zona pemanfaatan agar laut dapat digunakan secara berkelanjutan dengan metode penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

Salah satu program yang dijalankan bersama Pokmaswas dan UPTD Pengelola Kawasan Konservasi Taman Perairan Kepulauan Alor adalah pembangunan area pembibitan terumbu karang di situs Molugara.

Area yang sebelumnya didominasi oleh pasir vulkanik dan beberapa terumbu dijadikan sebagai area pembibitan/pengasuhan karang (nursery area) bagi wilayah-wilayah terumbu yang terdegradasi.

Setelah tujuh bulan berjalan, hasil pemantauan menunjukkan perkembangan positif, dengan munculnya komunitas ikan seperti Kakatua, Giant Trevally (GT), Snapper, Grouper, hingga ikan hiu, yang menjadi indikator bahwa ekosistem berfungsi secara baik di lokasi pembibitan.

Manager Konservasi dan Perikanan Nautika Foundation, Haries Sukandar menambahkan, pihaknya terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar memahami pentingnya pengelolaan laut baik dari sisi keilmuan praktis, regulasi dan terpenting adalah memupuk kesadaran.

Menurutnya, menjaga laut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat pesisir yang hidup berdampingan langsung dengan alam.”Masyarakat pesisir selalu butuh bukti nyata. Karena itu, setiap upaya pelestarian yang kami lakukan bisa mereka lihat sendiri. Di area yang dijaga, ikan mulai kembali berkumpul, dan dari situ mereka paham bahwa konservasi bisa menopang ekonomi. Ini investasi cerdas, ketika masyarakat merasakan manfaat langsung, kepercayaan tumbuh, dan semangat menjaga laut ikut terbentuk. Tapi kami tidak bisa bergerak sendiri; dukungan semua pihak sangat dibutuhkan agar upaya ini terus berlanjut,” ungkap Haries.

Dikatakannya, kegiatan Pekan Wisma Raya ini juga menjadi momentum bagi Nautika Foundation bersama Desa Alor Besar untuk menjangkau masyarakat lebih luas, memperkenalkan secara langsung bahwa konservasi laut, ekonomi, dan budaya bisa berjalan beriringan melalui kerja bersama di tingkat desa.

“Dengan kolaborasi antara pelaku UMKM, kelompok konservasi, dan dukungan Pemerintah Kabupaten Alor, Pemprov NTT, Desa Alor Besar dan kini mulai bertransformasi menjadi komunitas yang tumbuh dari kekuatan warganya sendiri, menjaga laut yang selama ini telah menghidupi mereka,” tutup Haries Sukandar. (Pepenk)

 

Komentar Anda?

Related posts