Oleh : Angelus Hilarius Tamonob, Mahasiswa Fakultas Filsafat, UNIKA Kupang
Pendahuluan
Sakramen Baptis merupakan pintu masuk seseorang dalam tubuh Gereja Katolik. Menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK) nomor 849, Sakramen Baptis merupakan pintu gerbang sakramen-sakramen, tanda penghapusan dosa asal, dilahirkan kembali sebagai anak Allah, dan digabungkan dengan Gereja Katolik. Kanon ini menegaskan bahwa Sakramen Baptis bukan hanya sekedar upacara simbolis, melainkan peristiwa yang mengubah esensi identitas personal.
Kendati demikian, fenomena yang sering dijumpai di kalangan umat Kristen adalah Sakramen Baptis dipandang sebagai tradisi keluarga, syarat administratif Gereja, atau sekadar bagian dari budaya rohani. Karena itu, seseorang setelah dibaptis tidak lagi bergabung dalam kegiatan-kegiatan Gereja, menghilang dari Gereja, dan muncul kembali saat akan memenuhi syarat administratif Gereja untuk menerima sakramen-sakramen berikut (misalnya Sakramen Ekaristi, Krisma, dan lain-lain). Kemudian muncul kesenjangan status hidup sebagai orang yang telah dibaptis dan kehidupan iman sehari-hari. Sakramen Baptis seharusnya tidak boleh dilihat sebagai upacara formalitas belaka, tradisi keluarga, atau pemenuhan administratif Gereja, melainkan Sakramen Baptis harus dilihat sebagai perubahan esensi identitas seseorang, penerimaan identitas baru sebagai anak Allah dan anggota Gereja, dan secara otomatis orang yang telah dibapti memiliki tanggung jawab untuk menghidupi imannya dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena Sakramen Baptis sebagai formalitas keagamaan, muncul pertanyaan besar, yakni, apakah Sakramen Baptis masih dipahami sebagai awal hidup baru dalam Kristus, atau hanya dipandang sebatas pada formalitas keagamaan?
Sakramen Baptis Sebagai Awal Hidup Baru
Baptis menurut ajaran Gereja merupakan sakramen pertama dan menjadi dasar seluruh kehidupan Kristiani. Melalui Sakramen Baptis, seseorang menjadi anggota Gereja dan bagian dari Tubuh Mistik Kristus. Menurut Rasul Paulus, melalui Sakramen Baptis, orang beriman dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus sehingga dapat hidup sebagai manusia baru. Dengan pembaptisan, manusia yang pada dasarnya berdosa, bahkan saat baru lahir – dalam hal ini dosa asal – akan dibersihkan, dimurnikan, dan dipersatukan dengan Kristus. Maka itu, Sakramen Baptis menandai kelahiran kembali dalam kehidupan rahmat.
Sakramen Baptis memiliki konsekuensi bagi kehidupan umat Kristiani, yakni konsekuensi panggilan. Penerimaan Sakramen Baptis tidak hanya selesai pada penerimaan rahmat, tetapi pada saat yang sama penerima Sakramen Baptis juga dipanggil untuk hidup sesuai Injil dan mewartakan Injil dalam karya hidup sehari-hari. Bagi penerima Sakramen Baptis dalam usia bayi akan mendapatkan bimbingan iman dari orang tua agar kelak (ketika sudah besar) dapat hidup sesuai Injil dan menjadi pewarta. Dengan demikian, konsekuensi Sakramen Baptis adalah tanggung jawab untuk menjadi saksi Kristus dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat.
Ketika Baptis Kehilangan Maknanya
Berdasarkan makna dan konsekuensi Sakramen Baptis dapat dipahami bahwa Sakramen Baptis bersifat dasariah dan tidak hanya selesai dalam upacara sakral, melainkan harus terus berlanjut dalam pola kehidupan sehari-hari untuk menunjukan identitas sebagai anak Allah. Mirisnya, Sakramen Baptis dalam kehidupan umat mulai muncul gejala formalisme. Sakramen Baptis tidak lagi dimaknai sebagai Sakramen yang berkelanjutan, melainkan hanya dilihat sebatas pada tradisi turun temurun. Hal ini nampak pada pola karakter umat yang menganggap baptis cukup dilakukan sekali tanpa perlu pertumbuhan iman setelahnya. Kehadiran dan keterlibatan dalam karya menggereja dan pelayanan menjadi minim. Akibatnya, umat yang telah menerima sakramen mengalami krisis kesadaran akan identitas sebagai anggota Gereja.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan umat kurang memaknai Sakramen Baptis, yakni lemahnya pembinaan iman setelah baptis, yang mana keterlibatan yang kurang di Gereja dan karya pelayanan, dan pembinaan iman dalam keluarga yang kurang memadai. Selain itu, pengaruh budaya individualisme dan materialisme juga menjadi faktor umat kehilangan makna Sakramen Baptis. Ketika ego seseorang yang selalu mencari keuntungan materi bagi diri sendiri berhadapan dengan karya pelayanan di Gereja yang membutuhkan banyak pengorbanan, akhirnya pilihan untuk tidak terlibat di Gereja menjadi pasti dan hanya melihat Gereja sebatas pada asas manfaat (pemenuhan administratif) kehidupan beragama. Faktor lain lagi adalah pemahaman umat yang lebih menekankan aspek ritual daripada makna spiritual dari Sakramen Baptis. Dengan pemahaman yang demikian, Sakramen Baptis hanya dilihat sebagai tradisi keluarga dan tidak memahami aspek konsekuensi dari Sakramen Baptis.
Menghidupkan Kembali Kesadaran Baptisan
Baptis harus menjadi identitas yang harus dihidupi dalam kehidupan iman. Bertolak dari hukum kanonik nomor 204 paragraf 1, mereka yang telah dibaptis dan bersatu dengan Kristus secara otomatis akan mengambil bagian dalam tugas imam, nabi, dan raja Kristus sesuai dengan kemampuan dan jabatan masing-masing, lalu menghidupi perutusan tersebut di dunia sebagai eksistensi identitas Kristiani. Implikasinya adalah identitas baptisan harus tampak dalam tindakan nyata. Orang yang beriman dipanggil menjadi saksi kasih, keadilan, dan perdamaian.
Bentuk Gereja yang paling kecil di dunia adalah keluarga. Keluarga sebagai wadah pertama dalam pendidikan iman Katolik. Setelah dari keluarga sebagai bentuk Gereja terkecil, kemudian komunitas Gereja yang lebih besar, yakni Paroki melanjutkan pendidikan iman secara lebih mendalam. Pada fase pendidikan ini kaum muda perlu diajak untuk memahami baptis sebagai panggilan hidup, bukan sekadar status keagamaan saja, yang mana akan berujung pada pola hidup ateisme praktis.
Penutup
Sakramen Baptis bukanlah titik akhir dari iman Katolik, melainkan gerbang masuk dan awal perjalanan hidup Kristiani. Fenomena formalisme dalam menghayati Sakramen Baptis, mengganggap Sakramen Baptis hanya sebatas pada tradisi keluarga keluarga, pemenuhan administrative Gereja, dan budaya rohani semata dapat mengaburkan makna mendalam sakramen ini. Karena itu, kesadaran akan identitas baptisan yang telah diterima perlu terus diperbarui agar setiap orang beriman sungguh hidup sebagai murid Kristus. Sakramen Baptis perlu dirayakan sebagai identitas iman yang melekat dalam karya hidup sehari-hari. Sakramen Baptis akan kehilangan maknanya apabila hanya dirayakan, tetapi tidak diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Follow



















