Energi yang Menyalakan Harapan: Refleksi Setahun Pemerintahan Prabowo–Gibran dari Kupang

  • Whatsapp

Kupang, seputar-ntt.com – Di sudut sebuah restoran di jantung Kota Kupang, aroma kopi hitam dan debur angin di siang yang terik dari Teluk Kupang, bercampur dengan percakapan yang hangat. Senin, 3 November 2025, bukan sekadar hari biasa bagi para wartawan ekonomi dan para pemikir kebijakan publik di Nusa Tenggara Timur.

Di Resto Celebes, sekelompok intelektual dan jurnalis berkumpul dalam sebuah diskusi yang sederhana tapi sarat makna: “Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran dari Sudut Pandang Energi.”

Tiga sosok duduk di depan ruangan — Frits Fanggidae, Fred Benu, dan David Pandie tiga nama yang akrab dalam wacana ekonomi dan energi di timur Indonesia. Mereka berbicara bukan dengan jargon teknokratik yang kaku, melainkan dengan keprihatinan yang mengalir dari suara rakyat: soal kedaulatan, soal keberlanjutan, dan soal masa depan negeri ini yang masih bergantung pada bara minyak dan batu bara.

Frits Fanggidae, dengan gaya tutur yang tenang namun tajam, membuka percakapan tentang makna nasionalisme di era energi modern.

“Nasionalisme itu bukan sekadar bendera dan pidato. Nasionalisme adalah bagaimana semua sumber daya alam kita digunakan untuk membangun kedaulatan ekonomi bagi kepentingan rakyat.”suaranya serupa riak kecil yang perlahan menohok kesadaran.

Baginya, ekonomi Indonesia tengah berproses menuju keseimbangan baru. Ada geliat daya saing yang mulai terasa, ada semangat baru yang sedang tumbuh. Ia menyinggung Danantara — gagasan besar tentang kebangkitan nasionalisme ekonomi. Dalam suaranya, terasa optimisme yang tidak lahir dari euforia, melainkan dari keyakinan bahwa bangsa ini sedang belajar berdiri di atas kaki sendiri.

Sementara itu, Fred Benu membawa percakapan ke ranah yang lebih teknis namun tak kalah getir: energi.

“Indonesia masih tergantung pada impor BBM,” ucapnya pelan, seperti mengulang fakta lama yang seolah tak pernah berubah. “Padahal, potensi energi baru terbarukan kita luar biasa. Tapi kita belum sungguh-sungguh mengelolanya.”tambahnya.

Ia mengingatkan, setiap tetes bahan bakar yang kita bakar di jalan-jalan adalah bagian dari hutang yang kian menumpuk di buku besar negara. Subsidi energi yang membengkak menjadi beban, sementara potensi geothermal di NTT yang bisa jadi tumpuan energi masa depan justru ditolak karena masyarakat merasa tak dilibatkan.

“Pemerintah harus memastikan pembagian hasil yang adil. Energi tidak boleh menjadi kutukan baru. Ia harus menjadi berkat bagi rakyat yang hidup di atas tanah tempat energi itu diambil.”tegas mantan Rektor Undana itu.

Di sisi lain, David Pandie menautkan benang merah antara energi dan politik. “Pemerintahan bisa guncang jika terjadi krisis energi,” katanya, dengan nada yang lebih dalam. Energi, baginya, bukan sekadar urusan listrik dan BBM, tapi fondasi dari kedaulatan negara.

Ia menyinggung visi besar Prabowo untuk mencapai swasembada pangan dan energi sebuah cita-cita lama yang kini kembali dihidupkan. Namun David tak menutup mata pada kenyataan: jalan menuju energi baru terbarukan bukanlah jalan lurus.

“Butuh komitmen, kerja keras, dan keberanian. Subsidi energi kita mencapai ratusan triliun, sementara korupsi di sektor ini juga luar biasa,” ujarnya lirih.

Ia kemudian menoleh pada potensi besar yang terabaikan di tanahnya sendiri: Nusa Tenggara Timur. “Kita punya arus laut Pukuafu yang luar biasa, bisa jadi sumber energi. Tapi yang kita andalkan justru PLTU di Bolok. Ini ironi,” katanya.

Suaranya menggema di ruangan, menggugah kesadaran kolektif para pendengar bahwa sumber daya bukan hanya soal apa yang dimiliki, tetapi bagaimana kita memperlakukan apa yang kita punya.

Diskusi di Resto Celebes sore itu mungkin tak akan mengubah kebijakan nasional dalam semalam. Tapi di antara cangkir kopi yang mendingin dan catatan kecil para wartawan, tersimpan satu hal yang lebih besar: kesadaran bahwa energi bukan hanya urusan listrik dan kilowatt, tapi tentang kehidupan, tentang keadilan, dan tentang masa depan bangsa.

Dari Kupang, percakapan itu menyalakan cahaya kecil, tapi tulus. Sebuah cahaya dari timur yang mengingatkan Jakarta bahwa di luar gedung-gedung kementerian, ada rakyat yang menunggu perubahan. Bahwa energi sejati bukan hanya yang menggerakkan mesin, tapi juga yang menyalakan harapan.(*)

Komentar Anda?

Related posts