Oleh : Dr. Deford Nasareno Lakapu, MM Ahli Pengembangan System Manajemen Risiko
Kota Kupang hari ini bergerak dengan cepat. Jalan-jalan penuh kendaraan, kafe dan pusat kuliner tumbuh di mana-mana, dan ruang-ruang publik dipenuhi anak muda yang memotret hidup mereka dengan senyum. Di permukaan, kota ini tampak cerah dan penuh harapan. Namun di balik ritme yang ramai itu, ada sebuah kenyataan sunyi yang terus membesar sebagai sebuah suara yang pelan tetapi mendesak, seperti bisikan yang menunggu didengarkan.
KPA/KPAD Kota Kupang baru-baru ini merilis data terbaru: 1.934 warga terinfeksi HIV/AIDS. Angka itu mungkin terlihat biasa jika dibaca sepintas, tetapi setiap angka sebetulnya adalah seorang manusia lengkap beserta cerita, keluarga, dan masa depannya. Lebih jauh lagi, sebaran geografis kasus ini mengungkap sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan. Kecamatan Oebobo sebagai jantung interaksi dan ekonomi anak muda mencatat sekitar 425 kasus, tertinggi di kota. Disusul Kelapa Lima (367 kasus), Maulafa (348 kasus), Alak (309 asus), Kota Lama (271 kasus), dan Kota Raja (213 kasus). Enam kecamatan yang seharusnya menjadi wajah optimisme urban Kota Kupang justru menjadi titik paling rawan. HIV tidak lagi berputar di pinggiran kota; ia telah masuk ke pusat kehidupan sehari-hari.
Namun, fakta yang paling mengguncang justru datang dari data September 2025. KPAD melaporkan bahwa 254 kasus berasal dari pelajar dan mahasiswa, lebih banyak daripada pekerja seks komersial yang berjumlah 203 kasus. Ini adalah pergeseran dramatis dalam pola epidemi. Ketika penularan bergeser dari lokalisasi menuju sekolah, kampus, dan kos-kosan, maka kota ini sedang menghadapi bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi krisis sosial.
Beberapa laporan lapangan bahkan menemukan adanya prostitusi antar-pelajar SMP, dilakukan tanpa pengaman dan tanpa pemahaman. Tidak ada dorongan edukasi seks yang memadai, tidak ada ruang aman untuk berdialog, dan tidak ada pendampingan emosional yang cukup. Anak-anak yang baru belajar memahami dirinya justru terjerumus dalam risiko yang tidak bisa mereka kalkulasi. Di titik ini, pertanyaan penting muncul: di mana jaring pengaman kita selama ini?
Di banyak keluarga, tekanan ekonomi membuat kehadiran orang tua semakin jarang dirasakan. Orang dewasa bekerja lebih lama, pulang lebih lelah, dan menjalani hari-hari dengan beban bertumpuk. Anak-anak kemudian tumbuh dalam ruang yang kosong secara emosional. Mereka tidak kehilangan orang tua secara fisik, tetapi kehilangan kehadiran yang hangat dan membimbing. Kekosongan itulah yang kemudian diisi oleh teman sebaya, relasi daring, dan eksperimen berisiko. Dalam dunia digital yang tanpa tanda batas, mereka belajar lebih cepat dari sumber-sumber yang tidak peduli pada keselamatan mereka.
Di sekolah, situasinya tak kalah rumit. Banyak guru memahami pentingnya pendidikan seks, tetapi terkendala tabu sosial. Diskusi soal tubuh, batas personal, dan relasi sehat masih dianggap memalukan. Akibatnya, remaja mempelajari seksualitas dari TikTok, film pendek, atau bisik-bisik di lorong sekolah. Ketika ketidaktahuan bertemu rasa ingin tahu, risiko meningkat secara eksponensial.
Sementara itu, data KPA menunjukkan kelompok tertinggi penularan berasal dari pekerja swasta (20%), lalu ibu rumah tangga (13%), pekerja seks (10%), ASN (8%), dan mahasiswa (7%). Fakta bahwa ibu rumah tangga menempati posisi kedua seharusnya menjadi alarm keras bagi semua orang. Mereka tidak berada dalam lingkungan berisiko tinggi, tetapi tetap terinfeksi—menunjukkan bahwa HIV dapat menyelinap lewat relasi rumah tangga yang tidak transparan, kurang edukasi, dan minim komunikasi.
Di tengah kenyataan ini, Kota Kupang sesungguhnya memiliki nilai filosofis yang bisa menjadi cahaya penuntun: Lil Au Nol Dael Banan yang diartikan sebagai “bangunlah aku dengan hati yang tulus”. Ini bukan sekadar semboyan, tetapi sebuah pesan mendalam dari leluhur Helong tentang pentingnya kesadaran kolektif yang jujur. Kata “bangunlah” menunjukkan bahwa masalah sosial sering lahir dari ketidaksadaran, dari kebiasaan menutup mata pada hal-hal yang tidak nyaman. Sementara frasa “dengan hati yang tulus” menegaskan bahwa perubahan hanya mungkin terjadi ketika kita berhenti berpura-pura peduli dan benar-benar memulai tindakan yang bermakna.
Jika kita menasihati remaja tanpa memberi mereka informasi, itu bukan ketulusan.
Jika kita menstigma ODHA hingga mereka takut memeriksa diri, itu bukan ketulusan.
Jika kita membiarkan keluarga runtuh pelan-pelan tanpa dukungan sosial, itu juga bukan ketulusan.
Dalam konteks ini, Lil Au Nol Dael Banan menjadi cermin yang menatap kita kembali: apakah kita sudah jujur melihat kondisi kota ini?. Untuk itu, Kota Kupang tidak cukup hanya mengandalkan program rutinitas. Kota ini perlu strategi baru yang berbasis data, empati, dan pendekatan yang manusiawi.
Pertama, pemetaan risiko (risk heat-map) perlu dibuat hingga tingkat kelurahan dan sekolah, agar intervensi kesehatan seperti VCT mobile tepat sasaran di Oebobo, Kelapa Lima, dan Maulafa.
Kedua, akses PrEP (obat pencegahan HIV) harus diperluas bagi kelompok paling rentan, termasuk mahasiswa, pekerja swasta, dan ibu rumah tangga yang berada dalam relasi berisiko.
Ketiga, pendidikan seks komprehensif harus masuk sekolah tanpa rasa takut atau tabu. Anak muda butuh pengetahuan, bukan penghakiman.
Keempat, Lembaga agama dan komunitas lokal di Kota Kupang harus ikut mematahkan stigma. Tempat ibadah bukan hanya ruang sembahyang, tetapi ruang pembentukan moral dan solidaritas. Pembahasan HIV dalam khotbah, kelas pemuda, dan kelompok kategorial bisa menurunkan stigma secara signifikan.
Kelima, Warga Peduli AIDS (WPA) di setiap kelurahan harus diaktifkan kembali. Mereka menjadi jembatan antara rumah tangga dan layanan Kesehatan, ruang ini yang sering luput dari pantauan.
Pada akhirnya, HIV/AIDS di Kota Kupang adalah cermin dari ekosistem sosial yang rapuh. Ia bukan musibah yang muncul tiba-tiba; ia tumbuh dari celah-celah ketidaktahuan, stigma, keheningan keluarga, dan pendidikan yang lambat berubah. Kota ini dapat bangkit, tetapi hanya jika kita berani membuka mata dan mengakui bahwa anak-anak muda kita sedang berjalan tanpa perlindungan yang layak.
Kota Kupang harus memilih tetap berlari mengejar pembangunan fisik atau berhenti sejenak untuk membangun kesadaran sosial yang lebih mendalam. Dan mungkin, menjadi kota yang benar-benar hidup dimulai dari keberanian untuk mendengarkan pesan itu sekali lagi:
Lil Au Nol Dael Banan (bangunlah aku dengan hati yang tulus).
Kota ini ingin dibangun. Tinggal pertanyaannya: siapa yang berani membangunkannya dengan hati yang tulus?

Follow



















