Tuntutan Hidup, Suami Terpaksa Jadi TKI Ilegal

  • Whatsapp
banner 468x60
Share Button

Kupang, seputar-ntt.com – Marni Tefnai (28) seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di Desa Nolebaki Kupang, Kabupaten Kupang, terpaksa merelakan suaminya menjadi Tenaga Kerja (TKI) Ilegal. Hal ini dilakukan Marni lantaran tuntutan hidup yang terasa berat. Mereka tak punya lagi pilihan untuk mengumpulkan rupiah untuk membiayai keluarga serta membangun pondok untuk buah hati mereka.

Penggelan kisah miris ini dikisahkan Marni Tefnai, di kediaman Pdt Yusuf Poli Rt 54,Rw19 Dusun Dendeng, Jumat (23/5/2014), dalam acara diskusi media bersama keluarga TKI dan para purna TKI di Desa Nolebaki yang diselenggarakan oleh Yayasan TIFA. Kegiatan ini didukung oleh Department Foreign Affairs and Trade (DFAT), Poverty Reduction Safety Facility (PRSF), Badan Nasional Penempatan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Tim Nasional Percepatan penanggulangan Kemiskinan(TNP2K) dan Mitra-mitra TIFA yang bekerja yang berada di NTT yakni Rumah Perempuan Kupang, Delsos Keuskupan Larantuka, PPSE Keuskupan Atambua.

“Saya terpaksa merelakan suami saya pergi ke Malaysia sekalipun itu secara ilegal. Semua ini hanya demi hidup karena kami orang miskin dan tidak punya pendidikan yang cukup sehingga tidak ada jalan lain lagi untuk kami bisa dapat uang,” kata Marni sambil mengelus ketiga anaknya yang masih balita.

Marni mengisahkan, saat suaminya pergi pada bulan November 2013 menuju Malaysia dengan cara ilegal membuat dia harus membesarkan sendiri buah pernikahan mereka tanpa seorang ayah. “Waktu itu ada teman yang pulang dan bilang masih butuh tenaga kerja di Malaysia. Kami juga melihat bahwa ada teman-teman yang pulang dari sana bisa bangun rumah sehingga saya dan suami bersepakat supaya dia menjadi TKI,” kisahnya.

Menurut Marni, karena suaminya pergi secara ilegal maka sering merasa takut dirasia Polisi Diraja Malaysia. Untuk itu suaminya kemudian berusaha untuk mendapatkan passport dan pada April 2014 berhasil mendapatkan passport. Saat ini sang suami bekerja sebagai buruh di kebun kelapa sawit. “Waktu pertama dia di Malaysia di telpon bilang selalu dirasia polisi jadi dia sering sembunyi di hutan. Tapi sekarang dia sudah ada passport,”ungkapnya.

Dua bulan selepas sang suami pergi menjadi TKI tutur Marni, dia harus menanggung sendiri hidupnya bersama ketiga anak dengan menjadi pembantu rumah tangga. “Sekarang saya tidak cuci orang punya pakaian lagi karena suami sudah bisa kirim uang dari Malaysia. Kita rencana mau beli tanah dan bangun rumah,” katanya.

Kisah Lain diceritakan Yance Blegur (49) warga Noelbaki yang juga pernah menjadi TKW sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia. Saat bekerja disana, ibu rumah tanggal asal Alor ini merasa senang katrena mendapatkan majikan yang baik dan tidak semana-mena. “Tahun 2008 saya pernah menjadi TKW. Saya bekerja selama 1,5 tahun dengan gaji 800 ringgit,”kisahnya.

Namun Yance harus pulang lantaran sang ayah meninggal dunia dan dia memutuskan untuk tdak kembali lagi kesana. Namun biarpun Yance tak kembali, dua orang anaknya mengikuti jejak menjadi TKI di Malaysia. “Dua anak saya masih kerja disana. Satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka juga senang karena mendapatkan majikan yang baik hati,” katanya.

Yance mengakui bahwa walaupun tidak mendapatkan perlakuan kasar dari sang majikan, namun semua aktifitas mereka selalu dipantau melalui camera CCTV. Tak tanggung-tanggung kata Yance, di kamar tidur serta kamar mandi juga di pasang camera pengawas. “Yang tidak enak itu kita dipantau terus dengan camera pengawas. Jadi kalau kita mandi saja tidak bebas,” ungkapnya.

Terpisah, Program Offiser Yayasan TIFA NTT, Jhones Bria mengatakan tujuan dari program ini adalah untuk mengatahui secara dekat kondisi buruh migrat setelah purna TKI. selain itu untuk memberi pemahaman kepada buruh migrat bagaimana mengelola manajeman keuangan sehingga bisa memberi manfaat bagi peningkatan ekonomi keluarga dari hasil keringat setelah menjadi TKI. “Selain itu bagaimana meningkatkan keamanan migrasi ,dan menginisiasi  dan mengedepankan komitmen Pemerintah Indonesia hingga daerah untuk memikirkan persoalan akan TKI,” katanya.

Menurutnya, sesuai data BP3TKI NTT per bulan Januari –November 2013, para tenaga kerja yang berangkat untuk bekerja ke luar negeri di bidang  formal dan informal lebih banyak ke Malaysia dibandingkan dinegeri lain yakni Singapura, Hongkong, Arab Saudi dan Kuwait.(riflan hayon/joey rihi ga)

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60