Kupang, seputar-ntt.com – Resah dan gelisah terkait status Universitas PGRI Kupang membuat mahasiswa dari kampus yang lagi kisruh itu mengirim surat terbuka kepada Presiden RI Joko Widodo. Dalam surat tersebut salah satu mahasiswa meminta kepada Presiden untuk bisa mengatasi persoalan yang sedang terjadi.
Untuk lebih jelas, inilah isi surat terbuka yang disampaikan oleh Mahasiswa PGRI kepada Presiden Joko Widodo.
Kepada Yth;
Presiden Republik Indonesia
Bapak Joko Widodo
Di Istana Negara
Salam Sejahtera !!
Salam hormat saya, semoga Bapak presiden senantiasa sehat selalu dalam penjagaan Tuhan Yesus Kristus Yang Maha Kuasa, dan masih memiliki semangat dan tanggung jawab dalam proses memperbaiki masa depan bangsa Idonesia yang kita cintai ini untuk dapat menjadi bangsa yang lebih sejathera. Saya juga berdoa kepada Tuhan Yesus agar Bapak presiden bersama keluarga semoga diberi hikmat kebijaksanaan dan ketabahan dalam menghadapi tantangan dan menanggapi berbagai tuduhan, kritikan dari berbagai kalangan yang mungkin mempunyai keinginan yang sama seperti Bapak agar bangsa ini lebih bisa mencapai masa depan yang lebih makmur dan sejathera selama kepemimpinan Bapak.
Bapak presiden yang saya hormati, perkenalkanlah, saya adalah seorang mahasiswa semester VIII jurusan FKIP, prodi Bahasa Inggris di Universitas PGRI Kupang NTT, daerah yang sangat jauh dari Jakarta Ibu kota Negara Republik Indonesia yang terletak di ujung Indonesia , kadang-kadang orang menyebutnya tanah timor Flobamora. Sebelum saya mengutarakan tujuan saya ini kepada Bapak, saya mau meminta maaf terlebih dahulu karena sudah mengganggu kesibukan Bapak, mungkin ini tidaklah penting untuk Bapak, akan tetapi sebagai ketakutan dan keresahan yang saya alami selama ini dalam diri saya harus sampaikannya kepada Bapak Presiden sebagai otoritas tertinggi dan sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia, dan apabila Bapak menerima surat saya ini, itu sudah bisa mengobati rasa gelisah dan rasa takut saya selama kurang lebih tiga tahun.
Bapak presiden yang saya hormati, melalui surat ini juga saya mau katakan demikian, mungkin dari sekian banyak Mahasiswa yang berada di semua Universitas di Kupang NTT, khususnya di ruang lingkup Universitas PGRI Kupang NTT yang berjumlah sekitar 13.000 orang yang masih aktif belajar.Satu-satunya mahasiswa yang sedang mengirim surat terbuka ini adalah saya sendiri. Bukan hanya itu saja Bapak saya juga mau berterus terang bahwa ini juga adalah pertama kali saya mengirim surat kepada Bapak. Sebelumnya saya tidak pernah mengirim surat kepada pemimpin-pemimpin dalam negeri ini, baik kepala daerah tingkat provinsi maupun tingkat kota/kabupaten apalagi kepada Bapak presiden sebagai orang yang berkuasa dalam negeri ini. Tetapi ketika saya menyaksikan dan sering menonton sosok Bapak Joko widodo yang begitu, bersaja, merakyat,tegas,dan sosok yang sangat peduli terhadap hak-hak rakyat kecil, sayapun memberanikan diri untuk menulis surat terbuka ini kepada Bapak presiden dengan penuh keyakinan dan harapan bahwa surat ini bisa sampai ketangan bapak dan bisa membacanya.
Bapak presiden yang terhormat, lewat surat ini saya mau menyampaikan apa saja yang menjadi pergumulan saya, dan yang saya sedang alami sekarang. Tetapi sebelumnya saya mau menceritakan sedikit cerita ketika saya datang di Kupang. Ketika empat tahun yang lalu saya menamatkan diri dari sebuah sekolah jenjang SMA/SMK dari sebuah pulau kecil terluar disebelah selatan pulau timor ini yaitu pulau Sabu Raijua. Saya berkeinginan agar saya bisa melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi di Ibu kota provinsi NTT kota Kupang NTT. Walaupun saya tahu kondisi perekonomian keluarga saya tidak mungkin bisa untuk menyanggupi biaya pendidikan saya sebenarnya, tapi karena cita-cita dan mimpi saya yang begitu besar yang ingin tercapai dan terwujud, sayapun nekad dan meninggalkan orang tua saya mengikat perut, karena biaya yang untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya harus ambil untuk membayar biaya pendidikan saya ketika masuk di perguruan tinggi nanti. Ketika pembukaan seleksi SMPTN pada perguruan tinggi pada tahun 2012 lalu, saya pun ikut mendaftarkan diri di Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang, yang satu-satunya Universitas Negeri di NTT. Tetapi setelah setelah mendengar hasil tes seleksi saya di nyatakan tidak lolos, kemudian gelombang ke dua melalui jalur mandiri saya kembali mengikuti seleksi, tapi lagi lagi saya tidak lolos yang ke dua kali. Akan tetapi itu tidak mengurangi semangat saya, saya tetap terus berjuang agar bias masuk perguruan tinggi entah di Universitas apapun. Ketika saya mendengar bahwa di Universitas PGRI ada pembukaan penerimaan mahasiswa baru, lalu saya mendaftarkan diri agar dapat mengikuti seleksi di sana. Setelah mendengarkan hasil seleksinya, saya di nyatakan lolos pada jurusan yang saya pilih pada saat pendaftaran, saya bersyukur karena sudah masuk di perguruan tinggi. Setelah itu saya mulai mengikuti kegiatan awal di Universitas PGRI yaitu ospec dan Pengenalan Kehidupan Kampus (PKK).
Bapak presiden yang terhormat, itulah sedikit cerita mngenai perjalan saya ketika mau mengejar cita cita. Kalender akademik sudah mulai berjalan di kampus dan saya mulai mengikuti semua kegiatan belajar mengajar. Sementara tahun akademik berjalan, entah apa yang terjadi dengan ke dua pemimpin de lembaga itu, yaitu ketua yayasan dan rektor, mereka saling lapor dan melapor ke kepolisian daerah NTT, ini mulai terjadi tahun 2013 lalu. Kami seluruh mahasiswa yang berjumlah sekitar 13.000 lebih orang merasa terkejut karena terus terang kami tidak tau duduk perkara atau permasalahannya atau sebabnya apa sehingga ke dua pimpinan lembaga yang sama ini sama sama mencari kebenaran dengan menempuh jalur hokum. Pada waktu itu kami sebagai mahasiswa hanya bisa mengikuti aktifitas perkuliahan tanpa terlalu mempedulikan dengan masalah tersebut. Kami hanya berharap masalah tersebut cepat selesai.
Waktu berlalu terus tapi masalahnya belum juga selesai malah tambah besar dan kelihatan tidak ada penyelesaian dari ke dua pimpinan ini, masiswa juga ikut tercerai-berai sehingga terbentuklah dua kubu mahasiswa dalam Universitas PGRI, yaitu kubu mahasiswa versi Rektorat dan kubu masasiswa versi Yayasan. Dalam keadaan seperti inilah masalah semakin menjadi-jadi, karena pemimpin sudah saling mengklaim diri yang paling benar dalam kepengurusan lembaganya. Bahkan mereka sudah saling gugat sampai ke PT. TUN Jakarta dan jalur hukum yang lain. Pokonya mereka sudah saling mengklaim dan membenarkan diri siapa yang berhak mengurus lembaga Universitas PGRI. Sampai masalahnya sudah sampai di ketahui oleh Bapak Mohammad Nazir selaku Menristek yang mempunyai otoritas penuh dalam masalah perguruan tinggi. Akan tetapi Bapak mentri juga tidak mau ambil pusing dengan masalah yang sedang terjadi. Setiap kali kami mendengar di berita-berita dan media cetak tentang masalah ini, kami mahasiswa semakin gelisah dan nyaris putus asa. Kami berulang kali melakukan aksi demo kepada pemerintah di NTT untuk menyampaikan orasi dengan tujuan agar pejabat daerah khususnya DPR yang membidangi pendidikan bisa mendengar dan menanggapi apa yang menjadi tuntutan kami, namun nyatanya mereka sedikit pun tidak pernah memberikan rasa simpati dan peduli terhadap kami. Kami memohon kepada Gubernur dan DPR agar agar bisa turut menyelesaikan masalah yang sedang kami alami di Universitas PGRI, tapi mereka sama sekali tidak peduli dan mengabaikan kami, seolah olah kami orang yang tidak ada gunanya sama sekali bagi mereka, Gubernur NTT dan DPR NTT tidak pernah merasa ada tanggung jawab terhadap kami, mungkin menurut mereka kami bukanlah orang orang NTT tidak ada artinya sama sekali bagi mereka. Sungguh miris nasib kami dalam keadaan seperti ini, kami mau berjuang untuk masa depan, tapi tidak di perhitungkan sama sekali ketika mengalami masalah.
Bapak presiden yang terhormat, ketika kami mahasiswa mendengar bahwa Bapak Mohammad Nazir sebagai Menristek sudah mengetahui akar masalah yang ada di Universitas PGRI, kami sangat senang dan gembira dengan besar harapan kemelut yang sudah berlangsung hampir tiga setengah tahun ini akan berakhir sudah. Karena menurut kami, orang yang paling punya hak dan punya otoritas yg bisa mengakhiri masalah di lembaga perguruan tinggi adalah menristek sendiri. Akan tetapi sampai saat ini bapak mentri juga kelihatannya tidak mau mempedulikan kami,bahkan pangkalan data ( PDPT) Universitas PGRI masih tertutup sampai sekarang. Bapak mentri juga sudah melarang kampus agar jangan melaksanakan kegiatan penerimaan siswa baru dan wisuda tapi penyelesaian masalahnya tidak ada.Kami tau memang ada proses hukum yang sedang berjalan, tapi apakah pak mentri tidak bisa mengambil langkah penyelesaian yang tegas demi masa depan kami yang ribuan orang ini? Masalah semakin besar saja, terus terang kami tidak tau lagi kami harus mengadu dan memohon kepada siapa, tetapi kami masih mempunyai satu harapan pasti, yaitu langkah tegas dan keputusan dari Bapak Presiden sendiri jikalau Bapak masih menganggap kami sebagai generasi yang harus di selamatkan dari kegagalan masa depan. Besar harapan saya sebagai yang menulis surat ini Bapak bisa merasakan apa yang sedang kami alami dan semoga Bapak memepunyai waktu dan sedikit kesempatan buat kami di Universitas PGRI NTT.
Bapak presiden yang saya hormati, saya berharap surat saya ini benar-benar bisa sampai ke tangan Bapak, setelah Bapak membacanya sudilah kiranya agar Bapak menyempatkan sedikit waktu utuk kami. Dengan ini kami memohon dengan hormat agar bapak sendiri yang bisa mengambil keputusan dan jalan keluar terhadap masalah ini, jikalau bisa Bapak tolong menyuruh atau memerintahkan Bapak Menristek dating langsung ke NTT atau ke kampus PGRI Kupang. Kalau tidak, kami akan kehilangan masa depan, kami akan di rugikan oleh Universitas PGRI Kupang. Bapak orang tua kami di kampong kasian, mereka hidup susah tapi hanya karena demi kami saja mereka rela makan tidak makan pun tidak masalah, hanya karena demi masa depan kami saja.
Bapak presiden yang saya hormati, di akhir dari surat saya ini jika ada kata-kata atau kalimat saya yang menyinggung atau terkesan tidak sopan, saya mohon maaf yang tak terhingga kepada Bapak. Janganlah Bapak menilai bahasa yang saya tulis tapi saya mohon agar bapak bisa mengerti dengan isi hati saya, dengan air mata saya menangis sementara menulisnya kepada Bapak, kiranya apa yang saya sampaikan ini Bapak bisa merimanya dengan baik.
Sekian dan terima kasih.
Kupan 18 juli 2016
Hormat saya;
THOMAS HINA

Follow



















