Ritus dan Air Mata di Jalan Frans Lebu Raya

  • Whatsapp
Share Button

Suasana sore di Bundara Tirosa pada hari Jumat, (22/4/2022) tidak seperti biasanya. Kita seperti sedang berada di Kampung Wato’one, Adonara. Budaya Lamaholot sedang dipertontonkan di tempat yang kini viral dengan air mancur menari di Kota Kupang tersebut. Lima Watan (etnis) dari rumpun keluarga besar Lamaholot yakni Watan Larantuka Flores Darat, Solor, Adonara, Lembata dan watan Pantar Alor tumpah ruah di Bundara Tirosa, lengkap dengan pakaian adat dari masing-masing etnis.

Petang itu sedang ada sebuah acara peresmian sebuah jalan protokol di Kota Kupang. Jalan yang dulunya bernama Perintis Kemerdekaan akan berganti jalan Frans Labu Raya. Putra Terbaik yang lahir dari rahim Pulau Adonara. Yang tumbuh dalam keterbatasan lalu melesat tinggi memegang tampuk kekuasaan di negeri bernama Flobamora. Anak alam yang memiliki jejak gemilang di kancah politik. Gubernur NTT dua periode yang lahir pada 16 Mei 1960 itu meninggal di RSUP Sanglah Bali pada 19 Desember 2021. Empat Bulan setelah Frans Lebu Raya tiada, Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore kemudian memberi penghargaan dalam bentuk nama jalan protokol di Kota Kupang.

Peresmian jalan Frans Lebu Raya di Ibu Kota Provinsi NTT tidak hanya ditandai dengan ritus dan tari. Tapi air mata mengalir dari pelupuk orang-orang yang mencintai suami dari Lusia Adinda  Lebu Raya itu. Saat rombongan Wali Kota tiba ditempat acara, mereka sudah disambut dengan tarian soka selen. Tak hanya itu, tarian Hedung dari Adonara, tarian Lego-Lego dari Alor hingga tarian hegong dari Maumere membuat suasana benar-benar meriah penuh haru. Semua penari begitu gembira, seperti Frans Lebu Raya hidup kembali di Kota Kupang. Politisi PDIP itu seperti hadir Kembali dalam situasi yang mengoyak isi dada. Frans Lebu Raya seperti tiada tapi ada, ada tapi tiada.

Tak hanya tari-tarian yang dipertontonkan, peresmian Jalan Frans Lebu Raya juga ditandai dengan ritual Bau Lolon. Ritual Bau Lolon sendiri adalah ritual untuk memadukan kekuatan Rera Wulan dan kekuatan Tanah Ekan, sebagai sumber kekuatan manusia (ata diken). Inilah keyakinan anak manusia dan sumber kekuatan anak lewotanah, bahwa hidup atau pun mati ditentukan diatas ‘koda’. Ritual ini benar-benar memiliki aura magis yang luar biasa. Usai ritual Bau Lolon, Wali Kota Kupang, Jefri Rriwu Kore lalu mengambil parang dan memotong pita selubung pada tiang nama jalan Frans Lebu Raya.

Yang bikin air mata seperti tak lagi bisa ditampung oleh pelupuk adalah ketika Lusia Adinda Lebu Raya menyampikan ucapan terimakasih mewakili keluarga besar Lamaholot. Suaranya sedikit gemetar menandakan dia menahan haru yang membuncah dalam dada. Sebagai perempuan yang baru empat bulan ditinggal pergi oleh suami yang begitu mencintainya, Adinda tak mampu menahan haru akan kehilangan. Suaranya sedikit serak menandakan dia sedang berusaha tampil tegar menyampaikan ungkapan terimakasih kepada Pemerintah Kota Kupang yang telah memberi penghargaan terhadap sang suami Frans Lebu Raya dalam bentuk nama jalan protokol di Kota Kupang.

“Mewakil keluarga besar saya mengucapkan terimakasih atas penghargaan yang diberikan oleh pemerintah Kota Kupang kepada almarhum. Dia adalah sosok yang begitu mencintai daerah ini. Almarhum telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Nusa Tenggara Timur tercinta. Untuk semua doa, apresiasi hingga penghargaan yang kami terima, kami mengucapkan terimakasih yang tak terhingga,” kata Lusia Adinda Lebu Raya.

Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore dalam sambutanya secara tulus menyampaikan bahwa Frans Lebu Raya adalah kebanggaan NTT yang kebetulan ada di Kota Kupang. Niat untuk mempersembahkan penghormatan besar kepada Frans Lebu Raya, kata Jefri Riwu Kore, datang dari hati yang tulus  karena merasakan perjuangan dan dedikasi Almarhum bagi NTT. Tak bisa dipungkiri kata Jefri, Frans Lebu Raya telah menorehkan sejarah yang tidak bisa dilupakan atau ditutupi. 15 tahun memimpin NTT, adalah waktu pengabdian yang luar biasa dengan segala upaya untuk memberi yang terbaik bagi daerah ini.

“Ini bukan karena pertemanan, tapi karena memang jasa beliau yang luar biasa untuk NTT. Saya harus akui bahwa awalnya sulit untuk menghubungi keluarga, sebab setelah saya mendengar Pak Frans telah tiada, saya langsung berpikir untuk mengenang jasanya lewat nama sebuah jalan di Kota Kupang. Saya ragu apakah keluarga setuju jika saya memberikan nama jalan atas nama Beliau. Sebab belum setahun meninggal. Tapi setelah kita berhasil menghubungi Ibu Lusia dan mendapatkan persetujuan keluarga, maka hari ini kita meresmikan jalan Frans Lebu raya,” kata Jeriko, sapaan akrab Jefri Riwu Kore.

Suasana peresmian jalan Frans Lebu Raya yang berakhir hingga malam menjelang, benar-benar meninggalkan suasana haru. Tokoh NTT yang selalu tersenyum itu seperti hidup Kembali. Dengan kisah-kisahnya yang melekat dalam benak anak Flobamora. Cerita tentang angin sepoi-sepoi hingga bos yang bodoh adalah kisah yang selalu  disampaikan Frans Lebu Raya disela-sela sambutannya. Dia akan selalu meninggalkan sesuatu untuk dikenang, apakah senyumannya, atau selorohnya yang bikin rindu. Frans Lebu Raya boleh pergi tak Kembali, tapi namanya akan tetap  hidup di Kota Karang. Bukan hanya pengendara yang akan membacanya, tapi google map juga akan membaca namanya ketika Grab dan Gojek mengantar pesanan.

Diujung tulisan ini, ijinkan saya memberi rasa hormat pada Putra Adonara asal Kampung wato’one itu dalam bentuk sebuah puisi berikut ini :

𝕃𝕖𝕓𝕦 ℝ𝕒𝕪𝕒

𝔸𝕟𝕒𝕜 𝕒𝕝𝕒𝕞 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕙𝕒𝕕𝕚𝕣 𝕕𝕒𝕝𝕒𝕞 𝕕𝕚𝕒𝕞 𝕝𝕒𝕝𝕦 𝕡𝕖𝕣𝕝𝕦 𝕕𝕚𝕓𝕒𝕝𝕦𝕥 𝕤𝕖𝕡𝕚.

𝔹𝕚𝕟𝕥𝕒𝕟𝕘 𝕗𝕒𝕛𝕒𝕣 𝕡𝕖𝕞𝕓𝕖𝕣𝕚 𝕙𝕒𝕣𝕒𝕡 𝕓𝕒𝕘𝕚 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕚𝕤𝕜𝕚𝕟 𝕦𝕟𝕥𝕦𝕜 𝕞𝕖𝕣𝕒𝕚𝕙 𝕥𝕒𝕞𝕡𝕦𝕜 𝕜𝕦𝕒𝕤𝕒.

𝔸𝕣𝕒𝕙 𝕓𝕦𝕣𝕚𝕥𝕒𝕟 𝕓𝕒𝕘𝕚 𝕟𝕖𝕝𝕒𝕪𝕒𝕟 𝕕𝕒𝕟 𝕖𝕞𝕓𝕦𝕟 𝕡𝕒𝕘𝕚 𝕦𝕟𝕥𝕦𝕜 𝕡𝕖𝕥𝕒𝕟𝕚.

𝕐𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕒𝕥𝕚 𝕕𝕚 𝕥𝕒𝕟𝕒𝕙 𝕣𝕒𝕟𝕥𝕒𝕦 𝕝𝕒𝕝𝕦 𝕓𝕖𝕣𝕜𝕒𝕝𝕒𝕟𝕘 𝕥𝕒𝕟𝕒𝕙 𝕕𝕚 𝕜𝕒𝕞𝕡𝕦𝕟𝕘 𝕤𝕖𝕟𝕕𝕚𝕣𝕚.

 

ℙ𝕖𝕣𝕘𝕚𝕞𝕦 𝕒𝕕𝕒𝕝𝕒𝕙 𝕕𝕦𝕜𝕒 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕖𝕟𝕚𝕜𝕒𝕞 𝕜𝕒𝕝𝕓𝕦, 𝕤𝕖𝕡𝕖𝕣𝕥𝕚 𝕝𝕒𝕟𝕘𝕚𝕥 𝕣𝕦𝕟𝕥𝕦𝕙 𝕕𝕚 𝕒𝕥𝕒𝕤 𝕜𝕖𝕡𝕒𝕝𝕒.

𝕂𝕖𝕞𝕒𝕥𝕚𝕒𝕟 𝕞𝕦 𝕒𝕕𝕒𝕝𝕒𝕙 𝕤𝕖𝕣𝕚𝕓𝕦 𝕝𝕒𝕣𝕒 𝕕𝕒𝕝𝕒𝕞 𝕕𝕦𝕜𝕒 𝕝𝕒𝕜𝕤𝕒𝕟𝕒 𝕜𝕦𝕝𝕚𝕥 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕥𝕖𝕣𝕡𝕚𝕤𝕒𝕙 𝕕𝕒𝕣𝕚 𝕥𝕦𝕝𝕒𝕟𝕘.

𝕋𝕚𝕒𝕕𝕒𝕞𝕦 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕕𝕖𝕞𝕚𝕜𝕚𝕒𝕟 𝕤𝕚𝕟𝕘𝕜𝕒𝕥 𝕞𝕖𝕟𝕪𝕚𝕤𝕒𝕙𝕜𝕒𝕟 𝕒𝕚𝕣 𝕞𝕒𝕥𝕒 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕞𝕖𝕟𝕪𝕚𝕜𝕤𝕒 𝕡𝕖𝕝𝕦𝕡𝕦𝕜.

 

ℙ𝕖𝕞𝕚𝕞𝕡𝕚𝕟 𝕟𝕖𝕘𝕖𝕣𝕚 𝕓𝕖𝕣𝕟𝕒𝕞𝕒 𝔽𝕝𝕠𝕓𝕒𝕞𝕠𝕣𝕒 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕡𝕦𝕤𝕒𝕣𝕒 𝕓𝕦𝕜𝕒𝕟 𝕕𝕚 𝔻𝕙𝕒𝕣𝕞𝕒𝕝𝕠𝕜𝕒.

𝕂𝕖𝕞𝕒𝕟𝕒 𝕓𝕦𝕟𝕘𝕒 𝕒𝕜𝕒𝕟 𝕜𝕒𝕞𝕚 𝕥𝕒𝕓𝕦𝕣, 𝕜𝕖𝕥𝕚𝕜𝕒 𝕣𝕚𝕟𝕕𝕦 𝕕𝕚 𝕡𝕦𝕝𝕒𝕦 𝕋𝕚𝕞𝕦𝕣 𝕞𝕖𝕞𝕓𝕦𝕟𝕔𝕒𝕙 𝕕𝕒𝕝𝕒𝕞 𝕕𝕒𝕕𝕒?

ℍ𝕒𝕣𝕚 𝕚𝕟𝕚 𝕜𝕒𝕦 𝕒𝕜𝕒𝕟 𝕕𝕚𝕓𝕒𝕣𝕚𝕟𝕘𝕜𝕒𝕟, 𝕕𝕒𝕝𝕒𝕞 𝕞𝕒𝕜𝕒𝕞 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕤𝕖𝕡𝕚.

𝕋𝕒𝕟𝕘𝕚𝕤 𝕜𝕒𝕞𝕚 𝕙𝕒𝕟𝕪𝕒 𝕝𝕦𝕣𝕦𝕙 𝕕𝕒𝕝𝕒𝕞 𝕤𝕖𝕡𝕚. 𝕄𝕖𝕟𝕘𝕖𝕟𝕒𝕟𝕘𝕞𝕦 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕤𝕖𝕝𝕒𝕝𝕦 𝕙𝕒𝕟𝕘𝕒𝕥 𝕕𝕒𝕝𝕒𝕞 𝕤𝕖𝕟𝕪𝕦𝕞.

 

*𝕁𝕠𝕖𝕪 ℝ𝕚𝕙𝕚 𝔾𝕒*

Komentar Anda?

Related posts