Handicap Internasional Fokus Pada Isu Disabilitas

  • Whatsapp
Share Button

Kupang, seputar-ntt.com – Selama lima tahun keberadaan Handicap Internasional (HI) di Provinsi NTT, isu disabilitas tetap menjadi fokus bahkan tagline, disamping melaksanakan kegiatan lain seperti pengurangan bencana dan pendidikian.

Hal ini disampaikan Yohanes Bela yang akrab dipanggil Yoris, selaku Koordinator HI NTT saat berlangsung diskusi di OCD Cafe Lasiana, Jumat (15/4/2016).

“Handicap bekerja untuk isu disabilitas, kantor pusat kami ada di Perancis, yang fokus pada isu disabilitas. Sudah hampir 30 tahun, dan tersebar disekitar 50 negara,” jelas Yoris.

Diakui Yoris, keberadaan HI di  NTT baru mulai project tahun 2010, lebih kepada masyarakat publik untuk mendorong dan mengkampanyekan tentang hak-hak dasar penyandang disabilitas, yang mereka juga bagian dari manusia sehingga mempunyai hak yang sama atau  ada kesetaraan.

HI NTT, lanjut Yoris, kedepan ada project advokasi untuk perubahan, yang didanai oleh dua lembaga, yakni BMZ dari Jerman dan EU dari uni Eropah.

“Project ini intinya adalah bagaimana kita mendorong partisipasi penyandang disabilitas, dan juga kelompok-kelompok marginal lainnya untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan,” ujar Yoris.

Diakui Yoris, selama ini para penyandang disabilitas sering terlupakan, misalnya saat digelar musyawarah rencana pembangunan (musrenbang), yang diundang hanya jajaran pemerintah dari tingkat  RT sampai kabupaten/kota, dan LSM sedangkan kelompok-kelompok penyandang disabilitas ini tidak dilibatkan, padahal mereka punya prioritas kebutuhan yang perlu disampaikan melalui sarana musrenbang.

Disamping itu, tambah Yoris, pihaknya  juga akan mendorong kaum perempuan, kaum yang terpinggirkan dan penyandang disabilitas lainnya untuk terlibat dalam proses penyusunan rencana anggaran dan monitoring pelaksanaan  desa.

“Dua tujuan ini akan dilaksanakan dalam sub-sub kegiatan, baik dalam bentuk peningkatan kapasitas, pelatihan-pelatihan, penyadaran-penyadaran juga melibatkan jurnalis dalam mengawal proses kegiatan ini di lapangan,” terang Yoris.

Yoris mengakui, peran media akan sangat penting ketika memediasi informasi, baik di tingkat desa untuk diinformasikan  ke ranah publik.
“Project advokasi ini kita ingin mendorong, supaya wilayah-wilayah pendampingan kita terpublikasi secara transpran, termasuk dana desa,”kata Yoris.

Untuk dua tahun kedepan, ujar Yoris, HI punya project dari BMZ itu dua wilayah, yakni di Gunung Kidul Provinsi Yogyakarta dan Kota Kupang Provinsi NTT. Untuk Kota Kupang tepatnyadi Kelurahan Oebobo, Nunbaun Sabu dan Nunbaun Dela.

Sedangkan untuk kegiatan yang didukung EU, paparnya,  ada tiga desa di Kabupaten Kupang. “Saat ini kami belum menunjukan  project itu secara resmi, dalam perencanaan dalam peluncuran project mereka dari Uni Eropa harus ada, mereka akan mengadakan salah seorang duta besar, maka peluncuran akan ditunda pada bulan Mei,” tambahnya lagi.

Pada kesempatan yang sama, Robby, Pengurus  HI NTT juga memiliki mimpi bahwa para penyandang disabilitas di desa-desa, bisa terlibat dalam proses perencanaan pembangunan, pengambil kebijakan, pengambilan keputusan, mengontrol dan lain sebagainya, terkait dengan proses-proses pembangunan yang ada.

“Kalau mereka tidak pernah terlibat, bagaimana kebutuhan mereka bisa terpenuhi,” kata Robby.

HI dengan Bengkel Appek dan mitra lainnya, aku Robby,  selama selain melakukan advokasiuntuk keterlibatan-keterlibatan penyandang disabilitas dalam proses pembangunan ini, juga pernah mempunyai program pendidikan inklusif, pengurangan resiko bencana yang melibatkan penyandang disabilitas. (*kursor)

Komentar Anda?

Related posts