Takdir Warandoy, Kuli Tinta yang Jadi Sekda

  • Whatsapp

Kupang, seputar-ntt.com – Suasana di lantai II Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT pada Senin, 29 Agustus 2022 nampak sepi. Hanya ada tiga orang wanita muda yang cantik di reception desk. Di koridor samping kiri, dekat ruangan Sekda NTT sudah berdiri Elas Jawamara. Wartawan yang juga pemilik Portal berita Savana Paradise dan NTT Pedia.  Dia Nampak gelisah sambil terus menelepon seseorang. Andyos Manu belum tiba. Jam pertemuan sesuai janji sudah hampir tiba. Namun bujang lapuk asal Noemuti, TTU itu belum juga nongol. Itu yang bikin Elas kesal.

“Ayo kita masuk,” ajak Elas. Kami kemudian masuk menuju ruangan Sekda NTT. Kami harus menemui, Sekda NTT, Domu Warandoy. Ada tugas khusus dari Bunda Julie Laiskodat untuk kami mewawancarai Sekda NTT. Elas kemudian melapor pada staf yang ada di depan ruang kerja Sekda. Kami diarahkan untuk menunggu di Holding Room. Lima menit kemudian, Andyos Manu datang. Elas kemudian minta rokok. Mulut pahit kata dia sambil beranjak keluar untuk merokok. Dia baru saja menyulut rokok, saat ajudan Sekda menyuruh kami untuk masuk.

Saat kami masuk, Sekda sudah duduk di kursi tamu. Wajahnya Nampak Lelah. Sudah pukul 16 : 20. Para ASN sudah pulang. “Mari Adik,” kata Domu Warandoy menyambut kami. Bagi saya, ini adalah kali pertama bertemu orang nomer satu di jajaran ASN di Lingkup Pemerintah Provinsi NTT. Sebagai Sekda, dia adalah simpul yang mengikat dan mempersatukan ASN. Pejabat karier ASN paling tinggi. Saat diberitahu untuk bertemu Sekda NTT, awalnya saya agak jiper. Sebagai wartawan, tentu saya berhitung sebab saya harus mewawancarai seorang yang juga mantan wartawan.

Domu Warandoy adalah salah satu wartawan pertama yang ikut mendirikan Pos Kupang. Koran harian pertama di NTT. Kehadiran Pos Kupang langsung di sambut dengan Gempa Flores pada tahun 1992. Gempa yang terjadi pada 12 Desember 1992, pukul 13:29 WITA itu mengakibatkan tsunami setinggi 36 meter yang menghancurkan rumah di pesisir pantai Flores, membunuh setidaknya 2.100 jiwa, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, dan 5.000 orang mengungsi. Suka duka di Pos Kupang dilalui oleh Domu Warandoi. Masa-masa sulit bagimana Pos Kupang akhirnya harus bergabung dengan Kompas Media Group, Domu Warandoi salah satu saksinya.

Sebagai wartawan junior, saya punya keinginan untuk mengetahui bagimana seorang Domu Warandoy bisa menjadi Sekda NTT. Yang dulunya petantang-petenteng dengan tape recorder kecil dan selalu memburu narasumber, tapi takdir telah melemparnya setinggi mungkin. Dari kuli tinta yang selalu dibawah perintah menjadi komandan yang harus memerintah. Itulah takdir. Jalan hidup dan garis tangan. Selalu menjadi rahasia dalam kehidupan setiap insan manusia. Rupanya apa yang ingin saya dengar tentang kisah seorang Domu Warandoy, dia kisahkan sendiri. Dalam suasana yang hangat tanpa sekat antara narasumber dan pemburu berita. Antara Sekda dan kuli tinta. Ini kisah dan cerita antara senior dan junior dalam dunia jurnalistik.

“Awalnya saya ditugaskan ke Sumba. Lalu saya ditarik ke Kupang. Saya ditugaskan di desk Kota waktu itu,” ungkap Domu warandoy memulai kisahnya. Dia mengatakan bahwa, wartawan pada jaman dia, tidak sama dengan wartawan saat ini yang begitu mudah dimanja oleh teknologi yang berkembang luar biasa. Jaman Domu Warandoy saat itu masih berkutat dengan mesin ketik, telegram dan tape recorder kecil. Jangan omong soal camera. Itu barang mahal dan langka. Tidak semua wartawan punya itu. Memiliki tape recorder saja sudah hebat sekalipun harus sulit dan butuh waktu untuk kembali mendengar rekaman untuk kemudian diolah menjadi berita.

“Saya punya redaktur itu pak Wens Jhon Rumung. Dia kejam betul. Dia bikin kita pontang-panting. Yang Namanya wartawan tidak boleh bilang tidak bisa. Redaktur itu punya kuasa untuk kasih perintah apa saja dan kita harus laksanakan. Kalian tahu Wens Rumung kan. Sampai sekarang, begitu sudah modelnya. Tidak berubah dia. Tapi saya bersyukur, sekalipun dia keras dan tegas tapi dia mengajarkan kami bagimana disiplin dalam mencari berita. Disiplin itu yang menjadi modal bagi saya hingga saat ini. Di depan Pak Gubernur, Pak Wens bilang, ini saya punya anak buah. Pak Gubernur tanya apakah benar. Saya bilang, benar bapak Gubernur. Saya dulu anak buahnya Pak Wens. Saya selalu mengakui itu dan saya selalu cerita tentang bagimana saya dulu. Tanpa harus malu atau menyembunyikan masa lalu saya,” ujar Warandoy.

Mendengar kisah Domu Warandoy saat menjadi wartawan membuat kami lucu. Tertawa hingga perut sakit. Sungguh jauh berbeda dengan saat ini. Menjadi wartawan saat sekarang begitu mudah. Begitu juga dengan teknologi yang begitu maju dan memanjakan wartawan dalam bekerja. Domu Warandoy mengisahkan, pada Januari 1996 dia mengikuti tes PNS di Kabupaten Sumba Timur dan dinyatakan lulus. SK PNS terbit 1 maret 1996, tapi Domu Warandoy masih dilema. Apakah dia harus meninggalkan pekerjaan sebagai wartawan lalu memulai pengabdian sebagai PNS. Dia bingung. Soalnya Gaji sebagai wartawan saat itu sudah besar. 650 ribu rupiah. Sementara gaji pertama PNS hanya 150 ribu rupiah.

“Saya bingung waktu itu. Bagimana saya memulai hidup dengan gaji 150 ribu. Sudah punya anak dua orang. Ada kredit motor. Ditengah kebingungan itu, Bupati Sumba Timur waktu itu Lukas Kaborang datang ke Redaksi. Dia bilang sama saya, kalau kamu tidak mau pulang ke Sumba untuk kerja maka jatah PNS kamu saya kasih ke orang lain. Saya bilang bagimana dengan istri saya, karena dia guru PNS juga di SMP Negeri 2 Kupang. Bupati bilang nanti kita kasih pindah dia. Nah dari situlah saya kemudian memilih mengabdi jadi PNS. Meninggalkan gaji 650 ribu dan memulai hidup baru sebagai PNS dengan gaji 150 ribu setiap bulan,” ungkap Domu Warandoy.

Sebagai PNS, Domu warandoy tidak pernah berpikir akan menduduki posisi Sekda NTT seperti sekarang. Jabatan tertinggi untuk PNS di Provinsi NTT. Namun sebagai mantan wartawan dia selalu bekerja cerdas dan tuntas. Pelajaran 5 W, 1 H dan piramida terbalik selalu menjadi patokan dalam dia melaksanakan tugas. Semua harus tuntas. Layaknya produk jurnalistik. Harus press clear. Hal itu pula yang selalu dia lakukan dalam menjalankan tugas sebagai pimpinan. Dia sadar bahwa menegakkan disiplin itu tidak mudah tapi harus dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan dan gaya hidup.

Domu Warandoy, kuli tinta yang dulu mengejar narasumber itu, harus menerima takdirnya untuk diburu Kembali oleh para pencari berita. Dia yang dulu selalu siap dengan pertanyaan mematikan, harus menerima takdirnya untuk selalu bersedia dengan jawaban dan pernyataan yang cerdas. Begitulah hidup. Penuh misteri dan membuat kita tak percaya. Kemarin mungkin kita ada di bawah, tapi esok kita akan berada di puncak. Kisah Domu Warandoy, bukan dongeng pengantar tidur, itu adalah realita kehidupan yang harus menjadi pelajaran. Bahwa garis tangan seseorang adalah misteri. Kita hanya butuh untuk menjalaninya. Setulus-tulusnya. (joey rihi ga)

Komentar Anda?

Related posts