Pencinta Paduan Suara Diminta Waspadai Mazmur Chorale Palsu

  • Whatsapp
Share Button

Kupang, seputar-ntt.com – Masyarakat Kota Kupang, khususnya pencinta musik paduan suara  dihimbau untuk untuk waspada dan berhati-hati terhadap pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab menggunakan nama Paduan Suara Mazmur Chorale. Pasalnya,  Paduan Suara (PS) Mazmur Chorale telah memiliki Sertifikat Hak Kekayaan dan Intelektual (HAKI).

Demikian penegasan dari Penasehat Hukum, Paduan Suara Mazmur Chorale, Mario Kore Mega, SH,MH., saat jumpa pers dalam rangka HUT ke-22 Paduan Suara Mazmur Chorale di Kupang pada Jumat, (28/4/2023).

“Bagi pihak-pihak yang tidak diakui dan masih memakai nama PS. Mazmur Chorale atau nama yang sama pada pokoknya dengan nama Mazmur Chorale, agar tidak lagi memakai nama Paduan Suara Chorale atau nama yang sama pada pokonya, baik dalam kegiatan pelayanan atau kegitan yang bersifat komersil,” kata Mario Kore Mega.

Dia juga meminta kepada pihak-pihak yang tidak memiliki hak yang sah untuk tidak lagi mengelola akun media social Baik itu Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, TikTok, dan lain-lain atas nama Paduan Suara Mazmur Chorale atau nama yang sama pada pokoknya, dengan cara menghapus nama dan logo palsu atau menutup akun-akun media social tersebut.

“Kami minta untuk segera mengembalikan Piagam atau Sertifikat serta Piala atas nama Paduan Suara Mazmur Chorale selambat – lambatnya 2 kali 24 jam dari himbauan ini disampaikan. Pihak-pihak yang sudah terlanjur melakukan kerja sama dengan pihak yang tidak diakui sebagai Paduan Mazmur Chorale, untuk tidak memakai nama Mazmur Chorale dalam periklanan, publiksi kegiatan yang akan dilaksanakan, dan atau kami membuka peluang kepada pihak – pihak tersebut untuk berkoordinasi dengan kami Paduan Mazmur Chorale yang SAH secara Hukum dan diakui Oleh Negara,” tegas Mario Kore Mega.

Mario Kore Mega mengatakan, para pendiri berinisiatif mengurus Penerbitan HAKI Mazmur Chorale, dikarenakan Badan Pengurus Mazmur Chorale, tidak lagi menghargai dan menghormati para pendiri ketika para pendiri memanggil Badan Pengurus untuk menyerahkan Akte Pendirian Paduan Mazmur Chorale tahun 2008, sebagai bentuk dukungan dan perhatian Pendiri kepada BP Mazmur Chorale. Selain itu, juga untuk mengevaluasi 21 tahun pelayanan Paduan Suara Mazmur Chorale, dengan beberapa dasar pertimbangan sesuai dengan Akte Pendirian.

“Pendiri melihat adanya perpecahan yang terjadi diantara anggota Mazmur Chorale. Pendiri melihat adanya perubahan Logo Paduan Suara Mazmur Chorale secara sepihak tanpa adanya pemberitahuan kepada para pendiri dan beberap hal lainnya. Pendiri merasa perlu mengambil alih dengan mengangkat Badan Pengurus sementara untuk melakukan hal – hal yang dianggap perlu untuk mengembalikan pelayanan Paduan Suara Mazmur Chorale pada Visi sebenarnya,” pungkas Mario Kore Mega.

Mewakili pendiri Paduan Suara Mazmur Chorale, Roy Roland Kedoh mengisahkan, pada tahun 1999 adalah seorang Jimmy Mourits Ronald Sine, bersama Roy Kedoh, Merlin Kedoh, Jordhan mandala berinisiatif menghidupkan kembali Vocal Group Ebenhaizer. Dalam perkembangan waktu, jumlah anggota bertambah kemudian disepakati untuk dibentuknya Paduan Suara.

“Awalnya paduan suara ini bernama Paduan Suara Ebenhaizer, karena didominasi oleh pemuda GMIT Ebenhaizer Oeba Kupang dan juga masih dimotori Oleh keempat orang yang disebutkan diatas. Anggotapun bertambah dari berbagai gereja GMIT, kemudian nama pun diganti menjadi Paduan Suara Pemuda GMIT Se – kota Kupang. Setelah berjalan beberapa waktu di tahun 2000, paduan suara ini juga diisi lagi oleh personil anggota PSM Undana yang telah pulang dari lomba Pesparawi Mahasiswa di Universitas Petra Surabaya. Dikarenakan personil saat itu  tidak hanya beragama Kristen Protestan, sehinggaPaduan suara ini berubah nama menjadi Paduan Suara Oikumene,” ungkap Rocket, sapaan akrab Roy Roland Kedoh.

Dalam perjalanan pelayanan Paduan Suara Oikumene, Jimmy M.R. Sine, Roy Kedoh, Merlin Kedoh, Jordhan Mandala ditambah Rexy I. Sine, berniat mengganti nama Paduan Suara oikumene yang dinilai terlalu universal, pergumulan panjang untuk sebuah nama pun tercetus dimana Roy Kedoh Mencetus Nama Mazmur yang adalah Pujian dan Jimmy Sine Mencetus Nama Choral karena jumlah anggota saat itu hanya 21 orang. Dan akhirmya kelima orang bersaudara ini bersepakat mencetus nama Paduan Suara baru dengan nama PADUAN SUARA MAZMUR CHORAL, pada tanggal 28 April 2001, dilakukan Konser  di Gedung Serbaguna Ina Bo’I dengan thema God So Loved The World. Konser ini merupakan ungkapan rasa syukur resminya nama Independen Paduan Suara Mazmur Choral serta tanggal konser ini dipakai sebagai hari berdirinya Paduan Suara Mazmur Choral. Sehingga per 28 April 2023, Paduan Suara Mazmur Chorale akan genap 22 Tahun.

“21 orang secara bersama-sama, menjalankan pelayanan dan memberikan warna baru dalam perpaduan suara di kota kupang, dan pada tahun 2002 Nama Mazmur Choral direvisi dengan menambahkan huruf “E” pada akhir kata Choral menjadi Mazmur Chorale yang berarti “ kelompok pemuji dalam jumlah yang besar”.  Akhirnya lewat suatu pengakuan dan pernyataan dari Jimmy Mourits Ronald Sine, menganggap Pendiri Paduan Mazmur Choral adalah mereka yang berdiri konser 28 April 2001 dan yang masih setia bersama bersamanya sesuai visi Paduan Suara Mazmur Choral untuk meneruskan Pelayanan Paduan Suara Mazmur Choral kedepan,” pungkas Roy Roland Kedoh. (joey rihi ga)

Komentar Anda?

Related posts