Peluh di Kening Laiskodat

  • Whatsapp
Gubernur Viktor Laiskodat saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Ende pada Senin, (11/4/2022).
Share Button

Ende, seputar-ntt.com – Hari belum terlalu siang, tapi suasana di Desa Roa, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende pada Senin, (11/4/2020) sudah membuat kulit kepala terasa perih. Tenda yang disiapkan untuk menyambut Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat seperti tak mampu menahan hawa panas. Itu hari ke-5 Gubernur NTT, Viktor Laiskodat melakukan kunjungan Kerja (Kunker) di daratan Lembata dan Flores. Tiga kabupaten telah dia lewati yakni Kabupaten Lembata, Flores Timur dan Sikka. Kunjungannya selalu membawa berkah bagi rakyat kecil lewat berbagai bantuan yang diberikan.

Ratusan masyarakat sudah memenuhi tenda untuk berdialog dengan Gubernur Viktor Laiskodat. Mama-mama yang diasuh oleh Yayasan Bambu Lestari mengisahkan kepada gubernur bagimana mereka mulai menanam bambu dan menjadikannya sumber penghasilan. Banyak hal yang mereka sampaikan dan langsung dijawab oleh gubernur untuk ditindaklanjuti oleh pihak terkait. Soal dana sudah ada Bank NTT yang akan membantu dan memfasilitasi. Seperti di tempat yang sudah dilalui, guebrnur selalu memberi motivasi masyarakatnya untuk bekerja keras sehingga bisa melepaskan diri dari jeratan kemiskinan yang telah beranak-pinak. Gubernur menngatakan kepada mereka bahwa Bambu akan menjadi masa depan bagi masyarakat di NTT. “Kita akan menyaingi China dalam produksi bambu. Dan ini akan menjadi sumber ekonomi yang luar biasa di masa dating,” kata Gubernur.

Pertemuan berakhir pada pukul 11:20- Wita. Disamping tenda pertemuan, ibu-ibu dapur sudah menyiapkan dua buah meja makan dengan berbagai menu untuk menjamu gubernur Bersama rombongan. Ada pisang yang ranum menggoda. Ada pula kue resoles yang bikin selera membara di siang yang membara pula. Kami yang duduk dekat meja makan, sudah lebih dulu mengunyah sebelum mereka mempersilahkan gubernur untuk santap siang Bersama. Naasnya, Gubernur tidak mau makan siang. “Saya mohon maaf, tidak makan ya, karena jadwal hari ini padat sekali,” kata Gubernur. Kami lalu dengan Gerakan secepat kilat lalu membungkus apa yang bisa kami bawa untuk makan di mobil.

Saat berjalan turun dari kampung Roa menuju ke mobil, nampak gubernur berjalan santai. Keringat membasahi wajah dan membanjiri kepalanya yang botak. Kami pikir mungkin karena cuaca yang cukup panas. Atau bisa jadi gubernur sedang menahan lapar. Pasalnya sejak pagi waktu peresmian kantor fungsional Bank NTT Moni, Gubernur tidak menyantap sajian yang ada diatas meja. Dia hanya sempat merasakan kopi hasil racikan barista yang dilatih oleh Bank NTT. Selebihnya tidak makan dan tidak minum.

Dari Desa Roa di Kecamatan Detusoko, Kami lalu melaju menuju Kota Ende. Gubernur akan meresmikan Puskesmas Onekore. Jam sudah menunjukkan pukul 13:20 ketika kami disodori kotak bersisi kue. Lumayan untuk mengisi perut. Saat itu gubernur sedang berpidato tentang penangan stunting. Suaranya tetap menggelagar. Diksi dan intonasi yang dia gunakan seperti lebiih indah dari saat dia kampanye dulu. Gesturnya saat berpidato tidak lagi sekaku saat keliling menjual visi NTT Bangkit, NTT Sejahtera. Sudah lebih luwes dan selalu dibumbui senyum. Saat menyuapi anak-anak yang kurang gisi dan berpotensi stunting, gubernur masih berseloroh dengan ibu-ibu yang menggendong anaknya.

Saat hendak menuju Kampung Nelayan Arubara di Kelurahan Tetandara, ada seorang pejabat yang membisiki saya. “Bapak Gubernur tidak makan karena sedang menghormati Bapak Bupati Ende yang sedang menjalankan ibadah puasa”. Saya terhenyak. Ada pantas kami tidak melihat Gubernur makan dan minum. Rupanya dia sedang memberi pelajaran tentang toleransi kepada kami di bumi pancasila. Tanpa dia omong. Lalu timbul tanya dalam hati, apakah peluh yang membasahi wajahnya itu lantaran menahan lapar dan haus atau memang karena cuaca yang sangat panas?

Suara tepuk tangan begitu riuh terdengar di Kampung Nelayan Arubara, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan pada menyambut Kedatangan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat.  Di kampung yang rata-rata berpenduduk muslim itu, Viktor Laiskodat disambut meriah diringi musik timur tengah. Hadirnya Gubernur di tengah masyarakat setempat yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan seperti memberi energi lebih dan semangat yang luar biasa bagi warga. Kesempatan itu digunakan oleh masyarakat untuk menyampaikan keluh kesah mereka kepada sang pemimpin. Tanpa jarak dan tanpa sungkan.

Tenda yang sempit dipenuhi ratusan kepala yang duduk berdempetan membuat suasana panas mekin menggigit. Masyarakat yang tidak mendapatkan kursi berdiri mengelilingi tenda. Suasana yang benar-benar menunjukkan sebuah kerinduan terhadap hadirnya seorang pejabat di wilayah itu. Gubernur lebih banyak mendengar apa yang menjadi kendala masyarakat setempat. Sebagai masyarakat pesisir, Viktor Laiskodat tidak mau mereka terus hidup dalam kemiskinan sebab laut akan menjadi wilayah ekonomi biru di NTT. Maka Gubernur siap membangun dermaga untuk para nelayan. Tak hanya itu sarana tangkap hingga jalan menuju Arubara juga akan segera disiapkan. Spirit NTT bangkit, NTT sejahtera benar-benar menyala di Arubara siang itu.

Dari sekian pejabat yang hadir mendampingi Viktor Laiskodat, ada Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho. Sepanjang kunjungan kerja gubernur di wilayah Lembata dan Flores, Alex Riwu Kaho memang tidak pernah jauh dari sisi Viktor Laiskodat. Kehadirannya menjadi representasi dari Bank NTT yang memiliki moto melayani lebih sungguh untuk bersama-sama mengeksekusi Visi NTT Bangkit, NTT Sejahtera. Bank NTT hadir dan selalu siap mengeksekusi permintaan masyarakat yang disampaikan melalui gubernur. Sebagai Bank, mereka tak hanya berpikir tentang untung semata, tapi benar-benar bersinergi untuk melepaskan NTT dari kemiskinan yang telah mencengkram sekian lama.

“Nanti Bank NTT tolong bantu Coolstorage ya bagi para nelayan di Kampung Arubara. Biar hasil tangkapan mereka bisa awet dalam tempat pendingin” Kata Gubernur dalam nada meminta sekaligus ada perintah dalam intonasinya. Permintaan tersebut langsung disambut dengan kata siap oleh Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho. Sontak tepuk tangan kembali menggema di siang yang begitu panas di kampung yang diapit gunung Meja dan gunung Ia tersebut. Itu hanya salah contoh bagimana Bank NTT selalu hadir sebagai spare pocket saku cadangan Pemerintah NTT untuk melayani rakyat ketika hal itu tidak perlu sampai pada anggaran di OPD yang ada di Pemprov NTT.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sejak Viktor Laiskodat memimpin NTT, dia selalu berusaha mengoptimalkan semua sumber daya yang ada untuk menggapai mimpinya membawa NTT menjadi sejahtera. Bank NTT benar-benar dimanfaatkan secara baik, tidak hanya berfungsi untuk mengejar keuntungan semata ataupun hanya sekedar menyalurkan kredit. Bank NTT benar-benar sudah menjadi harapan dan tumpuan masyarakat ketika gubernur datang. Ada saja bantuan yang diberikan oleh Bank NTT bagi masyarakat, apakah itu dalam bentuk Simpanan Pelajar atau Simpel bagi generasi penerus sehingga mereka bisa terbantu dalam membiaya pendidikan. Atau juga dalam bentuk Kredit tanpa bunga bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM.

Terobosan yang luar biasa dilakukan oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat demi membangkitkan semangat dan harapan agar perekonomian masyarakat NTT menjadi lebih baik dan membebaskan masyarakat dari belenggu rentenir, maka Pemerintah Provinsi NTT bersama OJK Provinsi NTT dan Bank NTT mendesain suatu skema pembiayaan yang diberi nama Kredit MIKRO MERDEKA. Merdeka dari Bunga, Merdeka dari Agunan dan Merdeka dari Rentenir, sehingga memudahkan para pelaku usaha mikro dalam memperoleh permodalan dengan Mudah, Murah dan Cepat. Hingga kini, total penyaluran Kredit Mikro Merdeka secara konsolidasi pada 23 Kantor Cabang Bank NTT sebesar Rp 14.091.012.500,- (Empat Belas Milyar Sembilan Puluh Satu Juta Dua Belas Ribu Lima Ratus Rupiah) kepada 2.566 pelaku usaha.

Hari sudah petang, sesaat lagi umat muslim yang sedang berpuasa akan sholat ashar. Viktor Laiskodat pamit dari kampung nelayan Arubara. Dari raut wajahnya, Nampak dia juga sedang puasa. Ibu-ibu menjadi ramai untuk berfoto. Dilayaninya dengan senyum. Gubernur masuk ke mobil dengan baju yang basah dengan peluh. Dia akan melanjutkan perjalanan menuju kabupaten Nagekeo sebelum berakhir nanti di Labuan Bajo. Peluh yang membasahi anak dari pulau Semau itu menandakan dia serius membangun negeri bernama Flobamora ini. Jika dia hanya berakal bulus untuk sekedar meraih jabatan, lalu untuk apa juga dia harus berpeluh menahan haus dan lapar serta membuang tenaga di kampung dan pelosok NTT? Satu mimpinya, NTT harus Bangkit, NTT harus Sejahtera. Dia tak bisa sendiri membangun NTT. Dia bukan pesulap. Dia juga bukan Tuhan yang hanya dengan berkata kun fayakun, jadi maka jadilah. Ayo, mari Bersama-sama membangun NTT. (joey rihi ga)

Komentar Anda?

Related posts