Oknum Polisi di Polda NTT Tipu Warga, Ratusan Juta Melayang

  • Whatsapp
Share Button

Kupang, seputar-ntt.com – Kasus penipuan Calon siswa bintara Polri kembali terjadi di Kota Kupang dan kasus ini menimpa Indirawan (19) asal Kabupaten Manggarai Timur yang menjadi korban penipuan oleh anggota Polda NTT, Bripka Hendra Yusuf yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri.

Merasa tidak puas dan kecewa terhadap perilaku oknum anggota Polda NTT itu membuat keluarga korban melayangkan laporan ke Polda NTT, dengan melaporkan dua perbuatan yakni perbuatan penipuan dan perampasan kemerdekaan untuk tindak pidana umum dan perbuatan pelanggaran disiplin dan kode etik anggota Polisi kepada Bidang Propam.

Adapun penipuan casis telah menelan biaya sebanyak Rp 122.950.000 yang ditransfer dengan jumlah transfer uang bervariasi mulai dari Rp 2,5 juta hingga Rp 5 juta dan dilakukan berulangkali, dengan modus uang tersebut dipakai untuk membiayai semua kebutuhan korban mulai dari tes hingga menjalani pendidikan.

Indirawan selaku korban kepada wartawan, Selasa (5/4/2016) di Polda NTT mengatakan setelah lulus SMA, dirinya diajak oleh terduga tersebut untuk mendaftar menjadi casis Polri.

Dalam perjalanan, lanjut korban, dirinya kemudian disekap dalam asrama Polda NTT dalam sebuah kamar pada lantai 2, bahkan dirinya dilarang untuk berkomunikasi dengan keluarganya di kampung, serta handpone miliknya juga disita oleh pelaku.

“saya disekap kunci dalam kamar dan tidak dapat keluar dari asrama, saat makan pun saya hanya diberikan makanan lalu pintunya dikunci lagi, dan begitu seterusnya. Penyekapan itu berlangsung selama hampir 4 bulan lamanya,” jelas korban.

Kata korban, bahkan untuk meyakinkan keluarganya, korban digundul kepalanya, lalu dikenakan pakaian seragam lalu difoto oleh pelaku, kemudian dikirimkan kepada keluarganya di kampung. Sementara transaksi pengiriman uang yang dilakukan antara pelaku dengan orangtua korban pun tidak pernah diketahuinya, sebab komunikasi dengan keluarga pun terputus.

Tidak hanya penyekapan saja, korban pun diancam oleh pelaku apabila berani melangkah keluar dari asrama.

Secara terpisah, kakak kandung korban Iwan Setyo dan Jusmiati menjelaskan ibu korban merasa terpukul dengan kelakuan pelaku yang memberitahukan bahwa mereka mencari korban di Watukose (PusdikBrimob) namun tidak terdaftar, sehingga mereka mencari ke Mojokerto, namun tidak ada peserta dari luar. Sehingga mereka pun kembali ke Kupang dan bertemu dengan pelaku, lalu pelaku hanya pasrah dan menerima tindakan dari keluarga korban serta meminta maaf.

Menanggapi laporan itu, Kabid Humas  Polda NTT, AKBP Jules Abraham Abast mengatakan pihaknya telah menerima laporan tersebut, dan akan mendalaminya dengan melakukan pemeriksaan terhadap para pihak diantaranya korban, pelaku, dan para saksi yang mengetahui kejadian tersebut.

“Karena laporan tersebut terkait dengan perbuatan anggota, maka kami akan memprosesnya sesuai dengan ketentuan disiplin dan kode etik, serta perbuatan pidananya akan diproses oleh bidang Reskrimum,” jelas Abast.

Abast berharap agar masyarakat pro aktif dalam melaporkan setiap perbuatan menyimpang dari anggota Polri yang meresahkan masyarakat karena pimpjnan akan menindak tegas.(che)

Komentar Anda?

Related posts