Mimpi Dua Puteri Indonesia Jadi Gubernur NTT

  • Whatsapp
banner 468x60
Share Button

Jakarta, seputar-ntt.com – Jika itu dijalankan, tidak mustahil, suatu saat NTT akan menjadi sesuatu untuk Indonesia dan dunia.

MENJADI Puteri Indonesia berarti menjadi duta perjuangan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan berpegang pada tiga prinsip kecantikan, kecerdasan, dan tata karma (brain, beauty, behaviour), para puteri Indonesia dilatih dan mempersiapkan diri untuk menjadi sahabat dan juru bicara bagi perlindungan nilai-nilai kemanusiaan dan keberlangsungan lingkungan hidup dan budaya di atas bumi Indonesia.

Setelah menyelesaikan masa belajar (karantina) di Puteri Indonesia, mereka akan berkiprah dalam berbagai profesi sesuai panggilan dan pilihan hidup masing-masing. IndonesiaSatu.co berkesempatan mewawancarai kedua Puteri Indonesia dari NTT, Maria Carolina Theresa Noge (Carolina, 2015) dan Gloria Angelica Radja Gah (Gloria, 2016) di Jakarta, belum lama ini.

Ketika IndonesiaSatu.co meminta kedua puteri kebanggaan masyarakat Flobamora (Flores, Sumba, Timor dan Alor) itu menjawab pertanyaan, “LSM atau Birokrasi?”, Carolina dan Gloria serentak menjawab dengan tegas: “Birokrasi”. Kedua Puteri sependapat, untuk memajukan NTT ke depan, hal pertama yang harus diubah adalah wajah birokrasi dan model kepemimpinan.

Selama ini, cerita dan pengalaman Gloria dan Carolina menunjukan, birokrasi NTT masih ditandai dengan pelayanan yang berbelit-belit dan lemah inisiatif. Reformasi birokrasi menuju pelayanan yang cepat dan tranparan masih berada di atas langit seolah-olah tidak bisa dibumi-badankan. Hal itu berkaitan langsung dengan wajah kepemimpinan yang terbelenggu pada model patriakhi, lemah inisiatif dan miskin inovasi.

Berikut adalah petikan wawancara lengkap IndonesiaSatu.co dengan Carolina dan Gloria.

Apa yang Anda pelajari dari kontes Puteri Indonesia?

Carolina : Sejak kecil, saya suka menonton ajang kecantikan Puteri Indonesia. Dengan semangat brain, beauty and behaviour yang mereka emban, saya seperti mendapat gambaran menjadi perempuan ideal. Sejak saat itu, saya belajar pada sekolah-sekolah yang memungkinkan kecerdasan saya berkembang maksimal. Saya tidak hanya menyukai pelajaran-pelajaran, tetapi juga musik dan olahraga. Saya melatih diri dan membiasakan hal-hal baik.

Ketika kuliah, saya memilih masuk Puteri Indonesia. Ada banyak hal yang dipelajari seperti bertemu semakin banyak orang yang inspiratif. Lalu, saya mendapati cara-cara untuk menajamkan hal-hal yang membantu saya mewujudkan diri sebagai perempuan ideal.

Gloria: Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi Puteri Indonesia yang mewakili NTT, tanah leluhur saya. Pada akhirnya, saya rasa ini seperti jalan Tuhan. Sebelumnya, saya seorang yang pemalu dan kurang percaya diri.

Saya sempat stressed karena selalu dihantui rasa kurang jika dibandingkan dengan kontestan lainnya. Apalagi, ini kompetisi. Ternyata, saya menemukan hal yang sebaliknya. Puteri Indonesia seperti sekolah baru untuk saya. Tempat saya belajar dan bertemu teman dan keluarga baru dari seluruh Indonesia.

Kiranya, ada dua hal nyata yang saya dapati setelah Puteri Indonesia. Pertama, kepercayaan diri saya yang naik signifikan. Kedua, kemampuan public speaking menjadi potensi baru saya yang selama ini belum saya ketahui.

Menurut Anda, apa masalah utama NTT saat ini? Apa solusi terbaik menurut Anda?

Carolina: Saya sudah mengunjungi 14 kabupaten di NTT. Saya selalu suka mendatangi sekolah-sekolah seperti SMP dan SMA. Saya bertemu banyak sekali anak sekolah di sana yang tidak percaya diri kendati mereka mungkin mempunyai banyak hal yang bisa dibanggakan. Salah satu hal yang bisa jadi penyebabnya adalah kehadiran dan komentar lepas para guru, tentu tidak semua, yang tidak menguatkan, bahkan cenderung membuat labeling yang melemahkan para murid. Hal ini kemudian menjadi mentalitas.

Saya senang mengunjungi sekolah-sekolah dengan harapan semoga saya bisa menginspirasi dan menguatkan kepercayaan diri mereka melalui cerita-cerita yang memotivasi. Saya selalu percaya, pendidikan menjadi akar dari sebuah masyarakat yang baik. Jika pendidikan tidak bagus, kita akan bertemu dengan masa depan yang suram.

Saya membayangkan sebuah pendidikan budi pekerti yang diintegrasikan secara benar ke sekolah-sekolah. Terutama, ke rumah-rumah keluarga. Pada gilirannya, budaya-budaya yang memiskinkan kemanusiaan juga harus berani dikritik dan dikoreksi.

Gloria: NTT ini menarik, kita sudah melompat dengan promosi yang gencar tentang New Tourism Territory. Namun, infrastruktur kita masih buruk. Kita harus berpikir dan mulai berinisitif soal membangun infrastruktur yang berkualitas. Wisatawan butuh kenyamanan. Kita berkewajiban membuat NTT welcome bagi semua orang.

Hal lain adalah pendidikan karakter. Saya melihat, karakter unggul orang NTT adalah keramahan. Pemerintah perlu menggali dan memperhatikan karakter unggul itu. Saya percaya, kita tidak kalah dibandingkan Bali dan NTB. Suatu saat nanti, saya ingin sekali terlibat dalam proyek infrastruktur di sana

Bagaimana pandangan Anda tentang perempuan NTT?

Carolina: perempuan selalu menjadi nomor dua di sana. Hal itu terbukti dengan masih banyaknya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sudah saatnya, perempuan NTT harus dengan cerdas menempatkan diri menjadi istri, ibu, dan pribadi otonom yang mandiri.

Menurut saya, perempuan ideal itu tetap menjadi ibu-istri-ratu sambil membawa diri secara benar dalam pergaulan yang lebih luas. Pendidikan yang membebaskan bisa menjadi jalan keluar yang baik.

Gloria: Peran perempuan NTT untuk kehidupan social-politik di sana belum signifikan. Padahal, ada banyak perempuan NTT yang berprestasi.

Siap jika suatu saat masyarakat meminta Anda menjadi gubernur NTT?

Carolina: Siap. Ini malah menjadi peluang bagus. Kita membutuhkan pemimpin yang mempunyai perasaan yang mampu peduli dan berbela rasa. Saya pikir, keutamaan itu paling mencolok ada pada perempuan.

Gloria: Siap. Kapan lagi perempuan NTT jadi gubernur? Hehe… Sensitivitas yang ada pada perempuan tidak selalu negatif. Figur pemimpin perempuan membawa angin sedar dengan “perhatian”, “lembut hati”, “peduli”, “bela rasa”, “respek”, “cinta kasih”, dan lain-lain. Bukan hanya pada tataran pemikiran, tetapi terutama pada pilihan sikap, simpati, dan komitmen mereka di tengah dunia sosial dan politik yang terlalu melulu menekankan nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan ketegasan yang seringkali terlalu diperdengarkan dan diperjuangkan secara klise untuk maksud busuk dan tujuan jahat pihak tertentu.

Apa harapan Anda untuk NTT hari ini dan masa depan?

Carolina: Saya berharap supaya semua orang NTT mengambil sisi positif dari internet dan gadget. Terutama, para guru untuk mengembangkan kompetensinya. Kita perlu saling memotivasi dalam relasi saling tukar pembelajar-pengajar.

NTT adalah miniatur Indonesia dengan semua kekayaan alam, budaya, letak geografis, sejarah dan lain sebagainya. Tugas kita adalah mewartakan NTT dalam kerja dan hal-hal terpuji lainnya.

Gloria: Pemerintah NTT perlu menjadi pembangun yang kompeten untuk masyarakat. Pemerintah harus fokus membangun hal-hal penting seperti pendidikan dan infrastruktur. Apa sih yang diurus pemerintah kalau bukan masyarakatnya? Singkatnya, pemerintah perlu semakin sensitif memahami masyarakatnya.

Jika itu dijalankan, tidak mustahil, suatu saat NTT akan menjadi sesuatu untuk Indonesia dan dunia.

Terima kasih Gloria dan Carolina…

***

SEKILAS TENTANG MARIA CAROLINA TERESA NOGE

TTL             : Jakarta, 22 Maret 1994

Pendidikan : Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung

Hobi           : Baca, nonton, olahraga.

SEKILAS TENTANG GLORIA ANGELICA RADJA GAH

TTL             : Jakarta, 21 September 1991

Pendidikan : Fakultas Teknik Bina Nusantara University, Jakarta

Hobi           : Main music dan olahraga voli

Sumber : Indonesiasatu.co

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60