Mengurus Perut Rakyat, TRP – Hegi Paparkan Program Pertanian

  • Whatsapp
Paket TRP - Hegi saat Kampanye di desa Bolua, Kecamatan Raijua, Senin (28/9/2020)
Share Button

Seba, seputar-ntt.com – Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sabu Raijua dengan nomer urut 3, Takem Irianto Radja Pono dan Herman Hegi Radja Haba atau Paket TRP Hegi melakukan kampanye di Kelurahan Ledeunu, Kecamatan Raijua, Rabu, (30/9/2020). Disana Paket TRP-Hegi memaparkan berbagai program percepatan dan pemerataan pembangunan ekonomi melalui sektor pertanian, sektor kemaritiman dan sektor industri sebagai kegiatan primer, sekunder dan tersier.

Takem Radja Pono mengatakan pihaknya  menaruh sektor pertanian pada hal yang paling utama, karena usaha  pertanian merupakan usaha yang akan menghasilkan pangan. Tanpa pangan yang cukup dan  baik orang tidak bisa hidup. Tanpa pangan yang baik orang tidak bisa berbicara tentang masa depan dan suatu  generasi baik yang ada saat ini maupun yang akan datang

“Coba selama kita masih kecil dulu saat kesekolah tidak pernah makan, hanya minum air gula atau tuak saja, jam 8 atau 9 mereka dalam kelas tidak bertenaga lagi. Sulit menerima pelajaran. Hanya karena perut keroncong. Kalau kita mau anak-anak kita kedepan, melihat masa depan yang baik, tidak ada cerita lain kecuali  masalah pangan yang  harus diperkuat. Betapa pentingnya pangan, bicara  masa depan baru dan kehidupan,” kata Takem yang saat orasi didamping Calon Wakil Bupati, Hegi Radja Haba..

Takem Radja Pono memberi contoh, ada sebuah negara adidaya pada masa lalu, namanya Uni Soviet, yang kekuatannya setara dengan Amerika. Negara ini jadi bubar salah satu alasannya hanya karena pemerintah tidak bisa menyiapkan pangan yang baik dan cukup bagi masyarakatnya. “ Kita tidak boleh mengikuti contoh ini, Sabu bisa bubar, kalau  kita tidak bisa menyelesaikan masalah pangan kita,”  pangan adalah sesuatu yang tiada subtitusi atau penggantinya karena kalau tidak makan yaa mati, ungkap Takem.

Takem Radja Pono menjelaskan, ada dua kegiatan besar dalam dunia pertanian yang akan dilakukan oleh Pasangan TRP-Hegi. Pertama yakni Pertanian pada musim hujan. “Pada musim hujan ini saya pikir bahwa hampir tidak ada orang Sabu yang tidak usaha pertanian, kecuali mereka yang berdagang di pantai. Sehingga mereka tahu apa yang harus mereka buat. Tapi walau demikian mereka berpikir sendiri tentang hal ini,  dari waktu ke waktu mereka melakukannya sesuai dengan apa yang mereka tahu saja, sesuai kemampuannya. Lahan yang mereka usahakan  sempit saja, musim tanam juga tunggu hujan dulu. Ini mereka bekerja  dengan pengetahuan yang tidak cukup,” tambah Takem.

Karena itu lanjut Takem Radja Pono, pemerintah perlu melakukan intervensi atau campur tangan, untuk itu. Yang perlu dilakukan pemerintah dalam rangka ketersediaan pangan ini. Lahan yang sedang digarap  oleh masyarakat harus dibantu dengan cara  menurunkan semua alat mesin  pertanian (Alsintan), baik itu traktor  besar maupun traktor kecil. Bila masih kurang pemerintah bisa mengadakan Alsintan sesuai dengan kebutuhan.

“Kita olah semua lahan tanpa terkecuali, tidak pakai biaya, semua  kita subsidi. Demikian juga lahan tidur yang ada, kita olah, entah milik siapa itu kemudian, nanti dulu. Kita cari tuan tanahnya, kita bicarakan  siapa yang mau tanam silahkan kita bicarakan apa kita mau peihi rai atau peihi hab’ba. Jika Alsintan seperti Traktor itu kurang, maka kita bisa tambahkan dengan pengadaan baru sehingga semua lahan bisa diolah secara baik. Setiap akhir Oktober, semua camat dan kades wajib menyampaikan laporan kepada bupati, berapa luas lahan yang sudah diolah oleh operator  traktor dan hand traktor, ini ada kaitannya dengan masalah masa tanam, dan berapa juga lahan yang harus kita garap, yang ada kaitan langsung dengan produksi pangan kita karena Tahun 2022 itu, kita ingin supaya sabu Raijua menjadi daerah swasembada pangan, kita memiliki pangan sendiri, tidak perlu kita  menunggu bantuan orang lain. kita coba mengupayakan pertanian dengan cara yang  baik, benar dan mudah. Camat sampaikan hal itu, sehingga ada kepastian, berapa luas lahan yang sudah siap ditanam. Dari luas lahan itu bisa diketahui berapa produksi pangan kita setahun kita bisa estimasi atau perkirakan, berapa banyak pangan yang disiapkan masyarakat kita selama satu tahun. Cukup atau tidak, nanti kita akan berhitung,” kata Takem.

Takem Radja Pono mengemukakan, hal berikut yang harus disiapkan adalah benih. Suatu varietas setiap lima kali  ditanam harus diganti karena kalau tidak diganti, produksi nya akan menurun. Karena itu para ahli selalu menemukan varietas baru, dengan demikian  tugas pemerintah dalam hal ini dinas pertanian juga menyiapkan benih, dan diberikan cuma-cuma kepada petani apakah itu benih padi, benih jagung, benih kacang dan lain sebagainya. Pemerintah tidak berdiam diri saja atau hanya menunggu menjelang panen baru melakukan pendekatan dengan petani untuk ajak bupati datang panen. Semua proses mulai pengolahan lahan, benih, sampai masa panennya harus diketahui oleh bupati.

“Yang berikut selain benih  adalah yang berkaitan jumlah dan ketersediaan  pupuk. Pupuk ini menjadi persoalan, tapi kita harus tahu pupuk ini punya mekanisme tersendiri yang tidak diatur oleh bupati. Mekanisme diatur pemerintah pusat bukan oleh kita, kewajiban kita adalah  semua petani harus masuk dalam kelompok, supaya kelompok ini mudah diinventarisasi, betapa luas lahan yang tersedia untuk diberikan pupuk,” ungkap Takem.

Untuk mendapatkan pupuk subsidi kata Takem Radja Pono maka kelompok akan memasukkan Rencana Detail Kebutuhan Kelompok  (RDKK) ke desa. Dari situ kemudian dikirim ke Kabupaten terus ke Provinsi lalu diteruskan ke Pemerintah Pusat. Dari data kebutuhan tersebut kemudian pemerintah pusat mengalokasikannya. Selanjutnya akan lelang dan distributor akan bersaing, lalu distributorlah yang akan berperan mengirimkan pupuk ke daerah. Setelah tiba didaerah akan dijemput oleh pengecer, mestinya pengecer yang dipilih adalah mereka yang memiliki izin dan punya duit supaya pupuk bisa ditebus dari distributor. Dengan demikian pupuk bisa lancar sampai ketangan petani.

“Tetapi yang terjadi   adalah pupuk tidak lancar karena tidak ada pengecer yang punya duit. Pengecer masih tunggu uang dari petani, petani tidak punya uang, sehingga petani tidak tebus. Pada akhirnya pupuk datang terlambat, sudah selesai dulu masa pemupukan, baru pupuk datang. Semuanya akan jadi gagal. Maka kita harus perbaiki. Kita akan perbaiki mekanisme ini, penyaluran pupuk sampai ke petani, kita akan siapkan anggaran untuk membantu pengecer kalau tidak punya uang, termasuk kita nanti akan membeli lagi pupuk yang lain, untuk subsidi langsung ke para petani,” beber Takem.

Berkaitan dengan pupuk ungkap Takem, pihaknya sementara merencanakan untuk bagaimana membangun pabrik pupuk organik cair. Ada pupuk yang namanya  DIgrow ini pupuk yang dibuat dari bahan dasar rumput laut. “Kita punya rumput laut dan pabrik, sisa rumput laut saat dicuci di bak-bak itu, ada rumput laut yang putus-putus kita ambil dan diolah menjadi  pupuk organik cair, kita punya racikannya, tinggal kita kerjakan. Pabrik kita dirikan, supaya semua  petani mendapatkan layanan pupuk yang berkualitas tapi murah meriah. Ini akan kita bagi-bagi kepada petani, mereka pakai pupuk anorganik seperti urea, TSP  tapi juga harus dibarengi dengan pemberian pupuk organik yang kita produksi sendiri. Dengan demikian produksi pertanian kita akan meningkat,” papar Takem.

Takem Radja Pono mengatakan, seorang pemimpin harus mampu menghitung kebutuhan pangan di wilayahnya, bukan hanya punya kemampuan membuat laporan rawan pangan, kebutuhan pangan kita di Sabu Raijua bisa dihitung sesuai dgn standar WHO. “Untuk menunjang itu semua maka perlu membangun embung-embung di lokasi yang cocok, termasuk bendungan besar. Semua lahan dibawah embung akan diolah. Dengan demikian, pengolahan  dan penambahan  lahan ini akan menjawab pemenuhan  kebutuhan pangan kita. Coba lihat Guriola, dulu orang menolak, tapi sekarang mereka menanam baik pada musim hujan maupun musim panas, ini yang akan kita lakukan. Supaya kebutuhan pangan kita tidak tergantung pada daerah lain,” ungkapnya.

Hal yang kedua yang akan dilakukan kata Takem Radja Pono adalah Pertanian saat musim panas. Masyarakat tidak boleh menganggur lagi pada musim kemarau. “Sisa air dari embung dan sumur kita gunakan untuk usaha pertanian yang quick yielding atau cepat menghasilkan, misalnya bawang merah, bawang putih, sayuran untuk kebutuhan daerah kita. Untuk bawang merah, kita ingin Sabu Raijua menjadi daerah penghasil benih bawang merah. Dari pada uang dari NTT dibawa ke Brebes, Provinsi Jawa Tengah atau ke Bima Provinsi NTB hanya untuk membeli benih bawang , lebih baik uang itu dibawa ke Sabu Raijua. Semua orang harus bekerja, dan kita upayakan ini supaya dimana-mana ada pertanian musim panas,”ujarnya.

Selain itu, khusus untuk pertanian ini pihaknya akan mencoba memakai semua tenaga pendamping, yang merupakan anak-anak  yang sudah tamat Akademi Komunitas Sabu Raijua (Aksara) sebagai tenaga pendamping. Jangan sampai mereka sudah selesai pendidikan tapi kembali menganggur. Karena itu pemerintah harus manfaatkan mereka yang sudah selesai kuliah supaya tidak menganggur. “Kelebihan bawang merah, kita akan olah jadi bawang goreng dan itu tugas PKK yang juga akan didampingi anak-anak yang tamat Akademi Komunitas  jurusan pengolahan hasil mereka akan diangkat menjadi tenaga kontrak daerah. Bawang merah juga  akan dimanfaatkan untuk kebutuhan bahan baku dalam pengalengan ikan. Kita juga akan memacu masyarakat atau petani kita  untuk menanam tomat dalam jumlah yang sangat banyak untuk menunjang  pabrik pengalengan ikan di  Raijua nanti, kita membeli dari petani dgn harga yang wajar,  kita harap tidak ada lagi produksi pertanian kita yang tidak laku jual atau jual dengan harga yang sangat murah hanya karna ketiadaan pasar,” tutup Takem. (joey rihi ga)

Komentar Anda?

Related posts