KOWMEN NTT Dalam Tamsil Laba-Laba, Semut dan Lebah

  • Whatsapp
Share Button

Kupang, seputar-ntt.com – Suasana di ruang rapat Kolbano Hotel Kristal Kupang pada Jumat, (22/4/2016) tampak ramai. Padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 9:00 Wita. Puluhan Pemimpin Media Online berkumpul mengikuti Rapat Kerja Komunitas Media Online (KOWMEN) NTT. Dalam kegiatan ini, dirangkai juga dengan pengukuhan Badan Pengurus (BP) KOWMEN NTT Periode 2016-2019 oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Benny Litelnoni.

Ada yang menarik saat Ketua KOWMEN NTT, Yohanis Rihi Ga menyampikan sambutan usai dikukuhkan oleh Wakil Gubenrnur. Dalam sambutan tersebut dia mengambil tamsil tentang kehidupan tiga binatang kecil dengan karakternya masing-masing. Tiga binatang kecil yakni laba-laba, semut, dan lebah.

Joey sapaan akrab Yohanis Rihi Ga, dalam tamsilnya mengatakan, laba-laba membuat sarang yang bergelantung di udara dari air liur yang diproduksi dari tubuhnya sendiri. Ketika membuat sarangnya, laba-laba sama sekali tidak memanfaatkan material sekitarnya, karena hanya menggunakan air liurnya sendiri dan semata-mata sarang itu hanya untuk dirinya sendirinya. Laba-laba tidak membuat suatu kemajuan atau perubahan apapun. Memang tidak merugikan pihak lain, tetapi juga tidak memberi manfaat pada pihak lain.

Bagaimana dengan semut? Semut tidak pernah berhenti mengangkut berbagai material seperti makanan sisa, daun-daunan bahkan binatang yang mereka tangkap bersama-sama. Tetapi semut hanya sekedar mengangkut dan mengumpulkan, tanpa mengubah bahan-bahan tersebut agar memberi manfaat lebih lanjut. Barangkali satu-satunya pelajaran dari kerja semut adalah mereka selalu bekerja atas dasar gotong royong, atas dasar kebersamaan.

Selanjutnya, bagaimana dengan lebah? Lebah, tidak hanya bersama-sama mengumpulkan sari bunga dari berbagai pohon, tetapi mencernanya dan mengubah menjadi madu. Hasil kerja lebah tidak hanya bermanfaat bagi kehidupan lebah itu sendiri, melainkan bagi makhluk lain, terutama manusia.

“Kita tentu sepakat supaya KOWMEN NTT harus bisa meneladani kehidupan lebah. Kita memang tidur di ranjang yang berbeda tapi kita memiliki mimpi yang sama. Semangat itu harus menjadi jati diri KOWMENT NTT sebagai pribadi-pribadi dalam melakukan tugasnya sebagai seorang jurnalis,” kata Joey.

Joe mengatakan, Sejarahwan Amerika Serikat, Paul Johnson, pernah mempersoalkan kinerja pers Amerika dalam satu ceramah berjudul What\’s Wrong with the Media and How to Put it Right. Dia mengungkap praktek pers yang menyimpang dan menyebutnya sebagai “seven deadly sins”. Menurutnya, tujuh dosa terberat pers adalah Distorsi Informasi, Dramatisasi fakta, Serangan privacy, Pembunuhan karakter, Eksploitasi seks untuk meningkatkan sirkulasi atau rating, Meracuni benak/pikiran anak dan Penyalahgunaan kekuasaan.

“Tujuh dosa terberat itu, prinsipnya adalah pers yang kebablasan dan tak bertanggungjawab. Pers yang sengaja menyelewengkan informasi, dengan mengubah, menambah, atau mengurangi, beropini terhadap fakta. Pers yang melebih-lebihkan peristiwa atau bahkan mengarang fakta, atau jika terdapat fakta dibumbui dengan illustrasi secara verbal bahkan vulgar,” ungkapnya.

Harus diakui ungkap Joey, Pers saat ini sedang dalam pusaran kemajuan teknologi dan peningkatan kecerdasan masyarakat tidak bisa mengabaikan profesionalisme karena alasan kompetisi. Pers adalah institusi sosial yang mengemban misi ideal. Pasal 3 UU No.40/1999 tentang Pers menyebutkan, fungsi pers selain sebagai media informasi, hiburan, dan kontrol sosial juga sebagai media pendidikan. Pers dituntut mengembangkan pendapat umum berdasar informasi yang tepat, akurat, dan benar (Pasal 6).

Dalam konteks ini, setiap yang disajikan media hendaknya mengandung unsur tuntunan, dapat memberi pencerahan di tengah kondisi masyarakat saat ini. Wartawan harus menjadi guru bangsa. Karena itu mereka dituntut dapat bersikap one step ahead atau satu langkah didepan, lebih dewasa, lebih cerdas dan visioner. Apabila pers sekarang larut dan luruh dalam arus kebebasan, maka sejatinya masyarakat sudah dirugikan. Berita yang tersaji bukan informasi yang mencerahkan tapi malah semakin membingungkan masyarakat.

“Media Online di NTT harus menjadi oase dan cahaya terang optimisme bagi masyarakat tanpa meneror dengan sebuah berita” tegasnya.

Joey melanjutkan, tidak bisa pungkiri bahwa begitu banyak stigma negative yang disematkan kepada Provinsi NTT baik oleh orang diluar maupun orang NTT sendiri. Stigma tentang kemiskinan dan ketertinggalan seperti daki yang sulit untuk dibersihkan dari tubuh bernama NTT. Kondisi ini terus berlangsung dari satu pemimpin ke pemimpin yang lain. Sadar atau tidak media turut berperan dalam menciptakan stigma negative tentang daerah ini.

Media  online di NTT tegas Joey, tidak boleh terjebak menjadi penghasut apalagi menjadi pencemooh terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di NTT. Media online harus memiliki tanggungjawab moral tanpa menuduh pihak lain sebagai Pilatus apalagi Barabas. Media Online harus menjadi garam dan terang sehingga tidak membuat pikiran masyarakat membusuk dan tinggal dalam kegelapan jiwa. Media Online harus menjadi bintang fajar yang mampu memberi harapan dengan menyebarkan berita-berita positif sehingga berdampak baik tidak saja bagi masyarakat NTT tapi juga bagi Indonesia.

“Kehadiran Media Online di NTT dibumbui dengan cibiran, comooh bahkan hinaan. Kita dicibir bukan hanya dari pembaca, masyarakat umum, pemerintah, tapi juga dari para pelaku pers dan sesame kuli tinta. Anggaplah itu badai yang akan menerbangkan kita semakin tinggi seperti rajawali. Ingatlah Orang yang menabur dengan air mata, akan menulai dengan sorak sorai,” pungkasnya. (*tim)

Komentar Anda?

Related posts