Kisah Pengusaha di Kupang Yang memilih Berpisah Karna Cinta

  • Whatsapp
ILUSTRASI
banner 468x60
Share Button

Sahabatku………!!
Sempatkanlah dirimu tersenyum sekali lagi,
tempatkanlah masa-masa indahmu tuk menikmati apa arti senyummu itu.
Sebab…. Seburuk apapun suasana keadaanku kini,
namun tiada sisi yg menjengkelkan diantara yg paling menjengkelkan sekalipun. Dan jika ada niat untuk menerima dan memilikiku seutuhnya kelak, maka mungkin itu akan merupakan kebahagian tersendiri buatku…
Dili, 28 Juli 1998
Sahabatmu……
Fredy 

Kupang, seputar-ntt.com – Matahari sudah condong kearah Barat, saat saya dan rekan Elas Jawamara meninggalkan Caffe Off The Record, pada awal pekan, Senin, (3/2/2020). Kami meninggalkan warung kecil tempat para wartawan bersenda gurau dengan satu tujuan yakni menuju Liliba. “Teman saya mau cerita soal kisahnya kepada kita,” kata Elas. Saya hanya terdiam dalam tanya sambil memacu sepeda motor. Jam tepat menunjukkan pukul 14:15 saat kami tiba di sebuah bengkel yang juga satu gedung dengan toko bangunan. Bengkel itu bernama Fredelin Jaya II dan Toko Indo Bangunan. Belum sempat duduk, keluar sang pemilik bengkel dan toko bangunan. Namanya Fredy Tahady Bria. Pria asal Bidukfoho Kabupaten Malaka ini adalah orang yang hendak mengisahkan perjalanan hidupnya kepada kami. Kisah Hidup Fredy dan FH, wanita yang menjadi tulang rusak dan ibu dari anak-anaknya.

Saya baru mengenal Edy, demikian sapaan akrab Fredy Tahady Bria. Kesan pertama saya adalah dia terlampau sederhana bagi seorang pengusaha bengkel dan bahan bangunan yang tempat bisnisnya sudah berkembang dibeberapa sudut di Kota Kupang. Berkaos oblong dan sandal jepit Fredy menjabat tangan kami dengan penuh akrab. Kami duduk didepan tokonya yang bersebelahan dengan bengkel. Bertiga saja, ditemani air mineral dan tiga cangkir kopi. Ketika hendak memulai kisahnya, Fredy agak canggung. Maklum, saya mungkin orang asing bagi aktivis GMNI ini. Namun seiring waktu, kisah yang mengharu biru mulai mengalir dari bibir ayah tiga anak itu.

Kisahnya berasal dari Kota Dili, Provinsi Timor-timur kala itu. Pada tahun 1998, saat kegiatan Mabim di Kampus Politeknik Negeri Dili, Fredy berkenalan dengan seorang remaja putri. Saat kenalan, belum ada getaran cinta. Semua biasa-biasa saja. Namun ada rasa lain saat Fredy bertanya tentang asal sang cewek yang pada akhirnya dia nikahi. Kesan pertama ketika ditanya, sang cewek tersebut menyebut sebuah kampung di Malaka dimana keduanya ternyata berasal dari tempat yang sama. “Ternyata kami berasal dari tempat yang sama yakni Bidukfoho. Saya sendiri sudah di Dili sejak SD. Dia ternyata ikut saudara di Dili,” kata Fredy memulai kisahnya.

Kebersamaan di Kampus membuat Fredy dan sang kekasih menjadi lebih akrab. Akhirnya memilih untuk menjalin sebuah hubungan cinta. Pada tahun 1998, konflik di Timor-Timur mulai memanas. Banyak mahasiswa yang berdemo. Ada yang pro kemerdekaan ada yang memilih tetap menjadi Indonesia. Seiring konflik yang kian panas, cinta mereka juga mulai membara dalam dada. Atas inisiatif para mahasiswa yang berasal dari luar Timor-Timur maka diutuslah beberapa orang ke Kupang untuk melobi Politeknik Negeri Kupang supaya bisa menerima mahasiswa dari Politeknik Negeri Dili, jika pada akhirnya Timor-Timur harus berpisah. Rombongan yang ke Kupang tersebut adalah Fredy dan beberapa teman. Salah satunya adalah sang pujaan hari. “Kami bertemu Direktur Politeknik Negeri Kupang dan semua mahasiswa dari Politeknik Negeri Dili pindah dan kuliah di Kupang sebelum kerusuhan Dili pecah karna pro kemerdekaan menang. Dari situ hubungan kami semakin erat dalam cinta dan kasih sayang,” kenang Fredy sambil menerawang seperti sedang melihat masa lampau yang indah kala cinta sedang bersemi.

Cinta memang melampaui batas logika. Itulah yang terjadi dalam kisah cinta Fredy dan sang pujaan hati. Setahun di Kota Karang, mereka sudah tinggal satu atap. Meniti cinta dalam kering-kerontangnya kota Kupang. Fredy adalah mahasiwa jurusan teknik sipil sedangkan sang pujaan jurusan teknik mesin. Rupanya kisah cinta mereka tak semulus hayalan. Mereka harus menerima kenyataan bahwa hidup seatap walaupun karena cinta, tidak membuat orang tua langsung memberi restu. Mendengar mereka sudah hidup satu atap, maka orang tua dari kampung menghentikan semua sumber dana. Otomatis mereka harus berpikir keras untuk mencari kerja, sebab modal cinta saja tak cukup untuk bisa hidup. Cinta Fredy terhadap sang kekasih tidak boleh kandas hanya lantaran perut. Dia mengalah untuk tidak melanjutkan kuliah tapi sang kekasih tidak boleh berhenti. Orang tua di kampung harus tahu bahwa mereka mampu selesai kuliah karna mereka saling menopang dalam cinta dan kasih saying.

“Saya memilih untuk mengalah dan tidak melanjutkan kuliah waktu itu. Saya berpikir keras bagimana mencari kerja untuk bisa hidup berdua. Saya sempat kerja di NTT Ekspres waktu itu. Dari hasil kerja itu saya membeli sebuah motor. Setelah itu saya memutuskan berhenti dan membuka tambal ban motor. Modalnya dari hasil jual motor dan tabungan. Tambal ban itu adalah usaha pertama saya dan istri. Kami buka tambal ban pertama di Pasar Seribu, Tarus. Kami dua tahun di situ. Sampai istri selesai kuliah baru kami pindah ke kos-kosan di depan Kantor Radar Timor. Kami punya tekad bahwa salah satu dari kami tidak boleh putus kuliah. Karna itu kami tetap membuka tambal ban dan menjual bensin eceran,” kisahnya.

Bagi fredy, sang istri adalah perempuan ulet dan tangguh. Dia pekerja keras membantu sang suami. Sang istri juga ikut kerja membongkar ban motor maupun mobil yang datang. Bahkan Fredy pastikan istrinyalah yang menjadi tukang tambal ban wanita pertama di Kota Kupang. Bagi orang kebanyakan pekerjaan tambal ban adalah pekerjaan para lelaki. Namun tidak demikian bagi istrinya. Dia begitu gigih membantu suami dalam meniti usaha. Usaha yang mengantar mereka pada titik sukses saat ini. ‘Dari Kos di Radar Timor kami pindah ke depan Gereja Maranatha Oebufu. Ada satu rumah kecil ukuran 2 kali 3 meter yang menjadi tempat kami berusaha untuk tambal ban,”urai Fredy.

Seiring perjalanan waktu, sang istri sudah selesai kuliah. Giliran Fredy yang harus melanjutkan kuliah dengan tetap bekerja membuka tambal ban dan jual bensin eceran. Pekerjaan itu awalnya hanya untuk tetap bisa membiaya kuliah dan biaya hidup. Mereka berpikir bahwa setelah selesai kuliah nanti, keduanya bisa mencari kerja sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka dapat saat kuliah. Namun rupanya pekerjaan tambal ban punya prospek yang bagus dan itu membuka jalan bagi usaha lain. Pada tahun 2007 dengan modal 10 juta rupiah Fredy dan sang istri mengembangkan usaha tambal ban mereka menjadi bengkel sepeda motor. “Kami buka bengkel dengan barang yang pas-pasan. Hanya bermodal dua orang mekanik. Modal awal waktu itu adalah 10 juta rupiah. Itu modal dari tabungan. Kami buka bengkel pertama di Oebufu,” ungkap Fredy.

Bengkel motor itu berkembang dengan baik. Nama bengkelnya Fredelin. Sekarang sudah ada dua bengkel yakni Bengkel Fredelin I dan II. Pada tahun 2012, usaha mereka sudah berkembang bagus. Tidak lagi hanya usaha bengkel semata, tapi juga membuka toko bahan bangunan. Rupanya perkembangan usaha ini menjadi awal dari kisah pilu perjalanan rumah tangga Fredy Tahady Bria. Istrinya menjaga bengkel di Oebufu sedangkan dirinya menjaga bengkel dan toko bangunan di Liliba. Kebersamaan yang dulunya terekat erat, perlahan memudar. Quality time hingga golden time terlewati lantaran masing-masing sibuk dengan usaha. Dari sisi bisnis, mereka sudah sukses namun mereka kehilangan waktu bersama. Melewati hal-hal kecil dan sederhana yang bisa mengancam kelanggengan biduk rumah tangga mereka.

“Usaha kami yang berada di dua tempat itu yang membuat kami hanya bertemu saat malam saja. Ibu sibuk di bengkel di Oebufu saya juga sibuk di Liliba. Itulah awal petaka dalam rumah tangga kami. Ada hal-hal kecil mungkin yang kami lewati. Sebagai suami saya tentu punya salah kenapa hal itu bisa terjadi. Kenapa istri saya berpaling dari saya. Itu sungguh menyakitkan. Saya merasa hidup saya hancur berantakan. Tak ada arti semua materi yang kita cari jika rumah tangga kita diambang kehancuran. Kalau saya tidak kuat maka saya tidak tahu apa yang akan terjadi,” ungkap Fredy menahan rasa sakit dalam dada.

Sebagai pengusaha Fredy sudah terbilang sukses. Bagaimana tidak, mereka yang dulunya hidup ditempat kontrakan dan hanya tukang tambal ban dan penjual bensin eceran, kini Tuhan melimpahi mereka dengan berkat yang sungguh luar biasa. Omsetnya bukan kaleng-kaleng. Saat ini dia memiliki dua buah bengkel motor yakni bengkel Ferdelin I dan Dua serta memiliki Dua buah toko bangunan yakni Indo Bangunan I dan II. Kesuksesan yang diraih saat ini kata Fredy adalah berkat kerja keras dirinya dan sang istri. Namun sayangnya, kesuksesan tersebut tidak bisa dirawat dengan baik.

“Kalo dari sisi bisnis apa yang kami peroleh saat ini boleh dibilang sukses tapi saya anggap saya mengalami kegagalan yang besar karena tidak mampu menjaga rumah tangga dengan baik sehingga hal ini bisa terjadi. Mungkin kalaupun sampai kami harus berpisah, saya berharap kami tidak bermusuhan. Ada tiga anak yang harus kami jaga dan urus masa depan mereka. Anak pertama sudah besar. Sudah SMA karna saat kami kuliah dia sudah lahir. Anak kedua masih SD dan yang bungsu belum sekolah. Kalau kami akhirnya berpisah maka tidak bermusuhan karna selain karna anak-anak kami juga tentu masih punya hubungan bisnis. Saya berharap kami berpisah dengan baik-baik. Saya memilih berpisah ini karna rasa cinta saya. Saya tidak mau terjadi hal diluar kendali saya,” katanya.

Fredy tak menampik jika hingga saat ini dirinya masih tetap mencintai sang istri sekalipun jalan perpisahan harus diambil. Baginya, umur sekarang bukan lagi saat untuk berpikir memiliki istri yang cantik lagi. “Umur sekarang bukan lagi umur untuk cari istri yang cantik atau seksi tapi berpikir bagaimana memiliki orang yang setia mengurus anak-anak kita, mengurus rumah kita hingga di hari tua kita. Ini keputusan yang sangat berat untuk harus bercerai. Jika saya timbang-timbang antara rasa sakit ketika dikhianati dengan perasaan cinta, ternyata kadar sakit hati saya lebih besar sehingga saat ini sangat mengambil keputusan untuk kita berpisah. Proses di pengadilan sangat cepat. Kita urus akhir Desember dan awal Februari tinggal tunggu putusan. Padahal biasanya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun,” ungkapnya.

Fredy mengakui bahwa dirinya sudah berusaha sekuat mungkin menghadapi badai rumah tangga yang menerjang keluarganya. Sang istri sudah mengakui kesalahan hingga meminta kesempatan untuk berubah namun Fredy tak kuasa memenuhi permohonan itu dan memilih untuk hidup masing-masing. Keputusan itu dia ambil bukan karna tak cinta tapi itulah jalan terbaik yang harus diambil untuk kebaikan kedua belah pihak. “Dia pendiam. Jika ada persoalan dia tidak bicara. Itu kadang bikin saya jengkel. Namun dari semua itu dia adalah wanita yang pekerja keras, ulet dan kuat. Sukses ini diperoleh dari kontribusi dia yang cukup besar. Saya hanya seorang konseptor tapi dia pekerja keras. Kami saling mengisi,” papar Fredy.

Hidup bersama dalam rentang waktu yang cukup lama dalam sebuah wadah yang disebut keluarga tentu banyak kisah yang akan dikenang. Fredy berkisah bahwa pernah suatu ketika, tidak ada makanan sama sekali di rumah kos. Sang istri pergi kuliah, tanpa makan. Ditengah kekalutan dan rasa lapar yang menerjang, Frdey membersihkan lantai kamar kos yang hanya beralaskan tanah. Dibawah tumpukan barang ternyata ada empat buah ubi yang sudah tidak diketahui lagi berasal dari mana. “Kami masih kos di Tarus waktu itu. Saat saya bersih-bersih ada ubi empat buah. Karna ubi langsung bertentuhan dengan tanah sehingga awet namun sebagian sudah hampir rusak. Saya pergi ke tetangga, minta kelapa dan saya buat kolak. Lalu kami dua makan. Sesuatu yang sulit saya lupakan,” kenang Fredy.

Kenangan lain ungkap Fredy, saat mereka sudah Indekos di Samping Stadion Merdeka Kupang. Saat itu mereka tak punya makanan hingga harus mencuri pepaya milik tetangga. “ Disana ada satu dokter akupuntur di samping Stadion. Dia punya pepaya pendek-pendek. Saya masuk ke dalam. Saya jujur sampaikan bahwa saya kos disebelah dan sudah tidak makan karna tidak ada makanan. Kalau bisa saya minta ibu punya pepaya dua buah. Tapi itu ibu dokter bilang di saya lu lihat itu pepaya untuk makan ko untuk hias. Saya minta maaf saya pulang. Saya tidak marah. Tapi malamnya saya dengan istri pergi ambil itu pepaya dengan karung,” kata Fredy sambil terbahak mengenang masa sulit.

Kenangan soal cinta dan Rindu kata Fredy, dia punya bersama sang istri. Waktu itu mereka masih kuliah. Suatu saat dia ingin menjaga jarak dengan sang kekasih. Bulan pertama masih aman. Bulan kedua, dia sudah seperti cacing kepanasan lantaran terbakar rindu. Ternyata dia tak berdaya terhadap perasaan rindu yang bergelora dalam dada. Dia bingung karna mencari sang kekasih di Kota Kupang, tidak lagi dia temukan. “Saya bayar orang untuk antar saya ke Betun. Sampai disana dia bawa saya ke bukit Kateri namanya. Dari atas situ dia menunjukkan kampung istri saya yakni Kampung Nunbei dan saya harus berjalan kaki menuju kampung dia. Sampai disana ada saya punya mantan ibu guru namanya ibu Yustina Luruk dan bapak kepala sekolah Bapak david Berek. Saya ingat betul. Saya bermalam di rumah mereka. Yang bikin saya kecewa dan sakit hati itu ternyata dia tidak ada di kampung. Dia punya saudara datang kasih tahu kalau dia ada di Dili. Pagi-pagi saya sudah bangun dan pergi ke Dili. Setelah ketemu dia baru hati saya lega,” ungkap Fredy sambil kegirangan.

Bukan hanya itu, pada saat kuliah kata Fredy dia bersama sang kekasih pernah bersepakat untuk lari dan merantau ke Pulau Jawa. Sudah ada kata sepakat. Tinggal mau berangkat. Namun Fredy kembali berpikir bahwa, mereka tidak boleh lari. Mereka harus menunjukkan kepada orang tua bahwa lewat cinta yang mereka bina mereka bisa sukses di tanah Timor tanpa harus merantau ke negeri orang.”saya Tanya dia kau bisa kerja apa disna nanti. Dia bilang kerja cuci piring kah atau kerja apa saja. Saya juga bilang saya bisa kerja buruh bangunan. Tapi saya berpikir, saya tidak boleh lari dan harus tunjukkan kalau kami bisa sukses disini. Ini semua karna istri saya pekerja keras,” pungkas Fredy.

Obrolan kami yang harus berhenti bersama sang mentari yang telah masuk ke peraduannya. Kami pamit untuk pulang. Sepanjang perjalanan saya dan sahabat Elas Jawamara masih membahas kisah teman kami Frdey Tahady Bria. Kisah hidup yang memberi pembelajaran bahwa hal kecil bisa menghancurkan hidup kita. Karna itu jangan terlena dengan harta dan kekayaan semata sebab kekayaan yang sejati adalah keluarga yang hidup utuh dalam ikatan cinta dimana setiap anak akan bertumbuh dalam nuansa kasih sayang (joey rihi ga)

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60