Jenazah TKI Korban Kapal Tenggelam di Malaysia Tiba di Flores

  • Whatsapp
Share Button

Maumere, seputar-ntt.com – Jenazah TKI korban kapal tenggelam pada pekan lalu di perairan Johor Malaysia, Maria Yuliana Reku (30) akhirnya tiba di Flores-NTT tepatnya di bandara Frans Seda Maumere, Senin (30/1/2017) siang.

Jenazah Yuliana yang diterbangkan dari Kupang menggunakan pesawat Nam Air ini diterima oleh seorang sanak keluarga korban, Margaretha Lima, didampingi beberapa staf dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Maumere.

Usai menyelesaikan administrasi, peti Jenazah Yuliana langsung dimasukan ke dalam mobil jenazah  RSUD TC. Hillers Maumere untuk diberangkatkan ke kampung halamannya di Kabupaten Ende.

Koordinator BNP2TKI Maumere, Darmina Noach yang ditemui di bandara Frans Seda, menjelaskan bahwa awalnya rencana pemulangan jenazah Yuliana pada tanggal 28 Januari namun berkat koordinasi dengan beberapa pihak sehingga prosesnya lancar.

“Proses pemulangan jenazah ini dibuat secara estafet, jadi jenazah dari Jakarta langsung diterbangkan ke Kupang lalu dari kupang langsung ke Maumere. Setelah dari sini kami akan langsung bawa ke kampung halamannya di Ende,” papar Darmina.

Lebih lanjut Darmina mengungkapkan bahwa semua proses pemulangan jenazah tersebut dikoordinir oleh BNP2TKI pusat hingga ke propinsi sehingga dapat berjalan dengan lancar.

“Upaya ini kami lakukan sebagai bagian dari tangung jawab kami karena itu kami berharap agar kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua mengingat banyak orang-orang kita yang merantau di Malaysia tanpa mengantongi surat sah,” tandas Darmina.

Sementara itu, Margaretha yang dikonfirmasi menuturkan bahwa korban sudah merantau ke Malaysia sejak ia masih muda. Menurutnya korban selama ini memang berada di Malaysia bersama suaminya namun beberapa bulan terakhir korban dikabarkan berada di kampungnya di Ende.

“Selama ini saya dengar dia di Malaysia tapi sudah beberapa bulan ini dia ada di kampung. Saya yakin dia ke Malaysia untuk ikut suaminya. Yang saya tahu dia ada passport lengkap tapi karena sudah agak lama di kampung mungkin surat-suratnya sudah mati,” tutur Margaretha.

Lebih lanjut, Margaretha mengungkapkan bahwa tidak mendengar kabar kalau iparnya ini sudah berangkat ke Malaysia untuk mengikuti suaminya yang bekerja di perkebunan kelapa sawit.

“Saya tidak tahu kalau dia sudah masuk ke Malaysia, tapi karena saya nonton berita di TV dan coba baca nama korban langsung lihat ada namanya lalu saya yakin kalau itu memang ipar saya yang jadi korban di Johor. Tadi saya sudah kontak dengan keluarga di Ende dan mereka sementara dalam perjalanan dengan travel ke sini untuk jemput jenazahnya,” imbuh Margaretha.

Tidak Punya Firasat

Xaverius, suami dari Yuliana, tiba di Bandara Frans Seda Maumere mengenakan jaket merah, sontak terdiam ketika turun dari mobil travel dan mendapati peti jenazah istrinya tercinta sudah dimuat di dalam mobil ambulans. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dari sudut matanya hanya ada tatapan kosong dan jauh.

Menurut pengakuan Xaverius, dirinya sudah melarang Yuliana untuk pergi ke Malaysia namun Yuliana tetap ingin pergi menemuinya. Xaverius juga menceritakan bahwa kontak terakhir antara dia dan almarhumah terjadi pada tanggal 23 januari 2017 lalu atau tepatnya sebelum Yuliana menaiki kapal naas yang akan melintasi perairan Johor Malaysia.

“Saya sudah larang dia untuk masuk Malaysia, tapi dia tetap mau menyeberang. Kira-kira jam 11 malam sebelum dia naik kapal kami masih sempat telpon dan dia beritahu kalau dia sudah mau naik kapal jadi tolong doakan supaya perjalanannya selamat hingga tempat tujuan. Saya jawab bilang kalau begitu hati-hati saya tunggu di sini,” tutur Xaverius terbata-bata

Xaverius menambahkan bahwa ia tidak memiliki sedikitpun firasat kalau istri dan kapal yang ditumpanginya akan mengalami musibah seperti ini. Menurutnya berita tentang kapal yang tenggelam di perairan Johor didengar dari teman kerjanya.

“Saya tidak punya firasat sama sekali karena dia sudah biasa pulang balik Malaysia. Berita kapal yang tenggelam juga saya dengar dari teman karena waktu itu saya sedang kerja. Teman saya suruh untuk cek saja ke petugas karena menurut berita korban yang tenggelam ada 9 orang, 6 perempuan dan 3 laki-laki,” akhirnya saya beranikan untuk cek saja dan ternyata ada nama istri saya,” sambung Xaverius.

Mengetahui bahwa istrinya juga menjadi salah satu korban dalam kecelakaan maut tersebut, Xaverius langsung mengurus surat-suratnya untuk segera berangkat ke Ende dan menunggu jenazah istrinya.

“Saya baru dari kemarin (29/1/2017) sore berangkat dari Malaysia ke sini. Tadi saya dari Ende pakai travel untuk jemput istri saya di Maumere. Kami akan bawa dia ke Ende supaya kubur di sana saja,” kata pria yang sudah sepuluh tahun bekerja di Malaysia ini.

Yuliana sudah merantau ke Malaysia sejak ia masih belia. Bahkan ia juga berkenalan dengan suaminya yang sekarang di Malaysia. Yuliana adalah warga Desa Jegarangga, Kecamatan Nangapanda, kabupaten Ende.

Selain Yuliana masih ada satu lagi korban yang sekampung dengannya yakni Marselina Sere. Hingga saat ini jasad Marselina belum berhasil ditemukan oleh tim pencari di perairan Johor Malaysia.(chs)

 

 

Komentar Anda?

Related posts