Jaga Budaya Orang Sabu, TRP- Hegi Kembangkan Lontar Hybrida Secara Masal

  • Whatsapp
Share Button

Seba, seputar-ntt.com – Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sabu Raijua dengan nomer urut 3, Takem Irianto Radja Pono dan Herman Hegi Radja Haba atau Paket TRP – Hegi siap mengembangkan lontar hybrida secara masal di Kabupaten Sabu Raijua. Hal ini untuk menjaga budaya orang Sabu yang hidup dari pohon lontar.

Hal ini disampaikan Takem radja Pono yang didampingi Hegi Radja Haba saat kampanye terbatas di Desa Daieko, Kecamatan Hawu Mehara, Jumat, (2/10/2020).

“Jadi penelitian yang dilakukan pada waktu lalu oleh UGM  dengan Pemda Sabu Raijua tentang  lontar hybrida itu sudah dimulai, tetapi seperti apa hasilnya dari kerja sama itu apakah telah menghasilkan lontar Hybrida yang benar atau tidak, kita belum  tau. Walupun orang gembar-gembor  bahwa sudah ada lontar hybrida di Sabu Raijua. Yang  saya dengar dari para pakar dan baca dari berbagai referensi bahwa untuk menghasilkan turunan Hybrida tidaklah mudah seperti cerita rakyat Jawa Barat  atau  Legenda Tangkuban Perahu yang mau malam pagi harus jadi tidak sederhana itu,  karena itu maka masalalu telah dimulai dengan mencoba bangun kerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki peneliti handal dan memiliki pengetahuan tentang rekayasa  genitis. Itu sudah benar,” kata Takem.

Takem Radja Pono mengatakan dulu dirinya sering berdiskusi dengan Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome. Dalam diskusi-diskusi mereka sudah  memprediksi bahwa suatu saat nanti budaya sadap lontar dan masak gula di Sabu Raijua akan hilang. Alasannya adalah mungkin generasi penerus pasca generasi penyadap lontar saat ini sudah tidak lagi memilih pekerjaan sadap lontar karena itu pekerjaan yang beresiko tinggi. Disisi lain hampir tidak ada lagi anak-anak Sabu Raijua yang tdk bersekolah karena   mereka akan memilih pekerjaan yang lebih enteng ketimbang pekerjaan sadap lontar yang beresiko tinggi.  Ditambah lagi dengan tawaran pekerjaan lain oleh pemerintah  sebagai pegawai kontrak, pegawai pabrik, pegawai tambak dan lain-lain.

“Dalam diskusi kami bahwa apapun alasannya sadap lontar dan masak gula adalah bagian dari budaya yang tak terpisahkan dari org Sabu  Raijua karena itu  pekerjaan sadap lontar dan masak gula tidak boleh hilang tetapi harus dilestaikan. Untuk itu maka harus dicari jalan keluarnya agar tidak ditinggalkan oleh orang Sabu Raijua. Kita tidak boleh lupa budaya kita. Nah salah satu yang harus dilakukan adalah bagaimana merekayasa genetik lontar yang ada, supaya tumbuh dan kembang lontar yang masih pendek tapi sudah bermayang (hubi),  kita liat kelapa Hybrida ada, kenapa lontar tidak bisa kita buat?,” Tanya Takem.

Takem Radja Pono mengungkapkan bahwa Pemikiran tentang orang Sabu Raijua akan meninggalkan budaya sadap lontar itulah yang mendorong MDT mulai melakukan tindakan kerja sama dgn UGM dan Universitas Samratulangi. Jika kegiatan masa lalu sudah berjalan sesuai kaidah ilmiah dan telah menghasilkan turunan lontar hybrida yang benar maka  TRP-HEGI akan kembangkan lebih banyak lagi. Tetapi kalau ternyata apa yang dikerjakan dan dihasilkan saat ini bukan hasil rekayasa genetik  tetapi justru  rekayasa  cerita saja maka kedepan Paket TRP-Hegi kembali bekerja sama dengan para pakar dari berbagai perguruan tinggi.

Takem Radja Pono mengatakan, pohon lontar sebagai pohon kehidupan tidak boleh hilang dari budaya orang Sabu Raijua. “Disisi lain rekayasa genetik sama dgn  kita sedang mengusir ketakutan dari anak cucu kedepan untuk menyadap lontar yang sangat tinggi dan rentan terjadi kecelakaan yang dapat mengancam keselamatan jiwa,”kata Takem.

Alasan lain kenapa TRP-HEGI serius menjadikan lontar hybrida kata Takem Radja Pono adalah untuk mendamaikan dunia pendidikan dengan kebudayaan masyarakat.  Alasannya, dari masa ke masa pendidikan akan semakin maju dan tidak ada orang tua yang mau anaknya sekolah tinggi dan bergelar serjana tapi akhirnya harus menjadi penyadap lontar.

“Dengan demikian kita juga sedang mendamaikan budaya dan dunia pendidikan, sebab lewat pendidikan itulah kita cari cara untuk tetap memilihara budaya kita. Percaya atau tidak, 50 hingga 60 tahun kedepan, budaya sadap nira yang menjadi ikon Sabu Raijua akan hilang. Dengan lontar hybrida, masyarakat tidak takut lagi menyadap lontar bahkan pekerjaan tersebut bukan hanya dapat dilakukan oleh pria dewasa namun juga bisa dilakukan semua orang baik itu anak – anak hingga kaum perempuan,” ungkapnya.

Dengan demikian kata Takem Radja Pono maka dengan sendirinya produksi nira di Sabu Raijua akan semakin banyak, yang akan berimbas pada terciptanya ladang industri baru seperti industri pembuatan Kecap, Cuka, minuman beralkohol yang memiliki merek dagang, bio etanol dan  produksi lain yang menggunakan bahan dasar nira atau  dan  Gula Sabu.

“Kita harus optimis bahwa ini bukan pemikiran di taman hayal. Bukan sesuatu yang sulit untuk menjadikan lontar hybrida. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin canggih maka rekayasa genetika terhadap pohon lontar bukan sesuatu yang mustahil,”pungkasnya.

Dia mengatakan, dari nira lontar orang tidak saja membuat minuman keras tanpa lebel seperti sopi. Saat ini Gubernur NTT sudah punya produk minuman keras yang berlabel Sophia. Minuman tersebut salah satu bahan dasarnya adalah nira dan gula. Jika Sabu Raijua konsen untuk itu maka bisa menjadi daerah penghasil bahan dasar Sophia.

“Dulu MDT omong dimana-mana, akan bikin sopi. Sekarang pak Gub. Wujutkan dalam bentuk  Sophia. Mungkin juga pak  gubernur bikin hanya untuk kumpul  sopi dan moke dari pengrajin dari berbagai daerah di NTT  tetapi saya lihat sudah berkembang dengan baik sehingga kita harus menagkap peluang itu,” ungkap Takem.

Takem Radja Pono juga  mengaku heran jika saat ini sudah ada lontar hybrida yang ditanam di Sabu Raijua. Padahal menghasilkan  lontar hybrida   membutuhkan waktu tidak pendek kurang lebih  6 tahun baru tuak hybrida bisa kelihatan hasilnya. Sebagai orang Sabu yang lahir dan besar dibawah pohon lontar kata Takem, dirinya tidak bisa main-main dalam menjaga budaya menyadap lontar di Sabu Raijua.

“Katanya ada kerjasama lagi dengan Universitas Sam Ratulangi Manado. Bekerja belum terlalu lama, tiba-tiba sudah ada. Padahal secara ilmiah bahwa lontar hibrida bisa dipanen minimal 6 tahun. Tapi tiba-tiba sudah ada. Saya khawatir itu penipuan saja,  itu bukan rekayasa genetis tapi rekayasa cerita, koker biji saboak alias wokeke, lalu dibilang itu biji hibrida. Saya tidak sampai hati, jujur saja saya ingin ini harus jadi betul, dan kita lihat lagi kerjasama, agar kedepan budaya sadap lontar dan masak gula tidak boleh hilang, ini juga sumber penghasilan kalau bisa  kita tata secara baik. Gula Hela sudah langka di Sabu. Sebagai orang sabu dan lahir di Sabu sangat paham itu, supaya program ini harus dilanjutkan. Sehingga kedepan ini menjadi pekerjaan yang mudah dilakukan oleh siapa saja. (joey rihi ga)

Komentar Anda?

Related posts