Ini Pesan Ketua Umum PGI Saat Perhadapan Panitia Konas FKP Kaum Bapak di Ebenhaezar Oeba Kupang

  • Whatsapp
Share Button

Oeba, seputar-ntt.com – Kerakusan  tidak  akan pernah terpuaskan. Tetapi dia sangat berbahaya. Ingatlah ceritera tentang Manna. Apa yang terjadi? Busuk menjadi ulat. Demikian juga keseharian kita: gula-diabetes, lemak-kolesterol, garam-hipertensi. Sekali lagi, kerakusan itu tidak akan pernah terpuaskan, selalu menuntut dan menuntut: Amsal 30:15 .

Penegasan tersebut disampaikan  Ketua Umum Persekutuan Gereja Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Dr. Gomar Gultom dalam refleksi khotbahnya pada kebaktian Perayaan Pentakosta dan Perhadapan Panitia Konsultasi Nasional (Konas)  Forum Komunikasi (FK) Pria (P)-Kaum Bapak (KB) PGI, di Jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Ebenhaezar Oeba, Minggu (5/6) 2022

Selanjutnya dalam kotbahnya yang terbaca dari Galatia 5:16-26 dengan Tema Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus  Pdt. Gomar menyebutkan  Sidang Raya PGI (Nias 2014 dan Sumba 2019) mencatat bahwa sumber dari berbagai krisis dan malapetaka di dunia ini adalah kerakusan: dan itulah kesimpulan daftar dari kedagingan itu. Dan kedua Sidang Raya itu mengamanatkan gereja-gereja untuk menghidupi Spiritualitas Keugaharian sebagai kontras terhadap kerakusan itu.

“Saya mau mengajak kita melihat kedua kutub itu. Kerakusan  tidak akan pernah terpuaskan. Tetapi dia sangat berbahaya. Ingatlah ceritera tentang Manna. Apa yang terjadi? Busuk menjadi ulat,” ujranya sembari menambahkan  demikian juga keseharian kita: gula-diabetes, lemak-kolesterol, garam-hipertensi. Sekali lagi, tandasnya kerakusan itu tidak akan pernah terpuaskan, selalu menuntut dan menuntut: Amsal 30:15 .

Mantan Sekretaris Umum PGI ini mengungkapkan menurut para ahli kesehatan, gaya hidup seperti itu, akan cenderung mengakibatkan metabolism anda memproduksi hormon nor-adrenalin dan kortisol dalam tubuh.

Sebagai akibatnya akan terjadi peningkatan gluko-neo-genesis dalam tubuh kita yang akan memacu pengeluaran asam lambung yang berlebih, yang tentu saja akan mengganggu pencernaan.

Manifestasi dari penyakit ini  ujar pria yang lahir 8 Januari 1959 ini adalah adanya rasa gelisah, berdebar-debar, suhu tubuh meningkat, banyak kencing, mual, dan perut kembung. Apabila hal ini terus terjadi, lambat laun akan menyebabkan penyakit jantung koroner, gondok, lever, ginjal, dan dispepsia, bahkan dapat berisiko terkena penyakit kanker. Konon, kulit juga akan makin cepat mengeriput dan menua. Itulah kalau selalu melihat untuk dirinya!

Menurut dia, itulah yang Masmur 32:3-4 maksudkan: “tulang-tulangku menjadi lesu, karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tanganMu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering seperti teriknya musim panas”.

“Hati-hati, Kesehatan tubuh kita sangat banyak dipengaruhi oleh suasana hati kita,” katanya mengingatkan dan menambahkan  itulah akibatnya apabila kita masih terbelenggu oleh kedagingan sebagaimana diperingatkan oleh Paulus (16-21)

Ditambahkannya, sebaliknya adalah apa yang ditawarkan oleh Sidang Raya: menghidupi Spiritualitas Keugaharian, yakni sikap hidup yang mampu menguasai diri, mampu mengendalikan diri, dan berani berkata “cukup!”.

“Sikap-sikap seperti ini akan memudahkan kita menyikapi semua peristiwa dengan lapang dada, dan pada gilirannya akan membebaskan diri dari kegalauan dan kegelisahan; dan pada gilirannya mudah bersyukur dalam segala hal.

Berkebalikan dengan yang pertama tadi, sikap seperti ini akan merangsang metabolism tubuhnya memproduksi hormon endorphin. Hormon endorfin ini, menurut penelitian, akan membantu pertumbuhan sel-sel dalam tubuh kita yang mudah mengabsor asupan makanan dan minumanobat-obatan. Hormon endorfin ini akan menjadikan tubuh kita tetap bugar, sehat dan hidup bahagia,” tambahnya.

Berbeda dengan yang pertama tadi, yang terekspresikan dengan wajah yang muram, orang yang hidup dengan keugaharian ini akan menampilkan wajah yang cerah berbinar.

“Anda mau yang mana? Mau hormon kortisol yang membuat kulit anda cepat keriput dan wajah selalu muram atau hormon endorfin yang akan membuat kulit tetap cerah dan wajah yang berbinar?,” tanyanya retoris dan menambahkan  saya yakin anda semua menginginkan yang kedua. Bagaimanakah merangsang agar metabolisme tubuh kita memproduksi banyak hormon endorfin ini? Mudah dan tidak membutuhkan biaya sama sekali.

Caranya hanya dua lanutnya banyak bergerak dan banyak senyum. Betul, banyak bergerak: berolah-raga. Saya suka heran melihat bapak-bapak: mengeluarkan biaya besar di luar rumah untuk bergerak (golf dan gimnasium). Demikian juga ibu-ibu di studio-studi fitness dan senam. Sementara di rumah berleuyeuh-leuyeuh terus, bermalas-malasan.

“Hey, bapak-bapak, ambil itu sapu, ambil kain pel. Anda pasti sehat,” katanya mengimbau disambut tertawa jemaat.

Yang kedua banyak senyum. Banyak itu relatif, “saya selalu katakan senyumlah sedikitnya 20 kali sehari. Dan masing-masing sedikitnya tujuh detik. Tidak boleh dirappel tujuh kali 20 detik sama dengan 14 detik140 detik,” ungkapnya dan mengingatkan  untuk tidak cengengesan: nanti dibilang gila.

Diingatnya harus senyum yang lahir dari hati yang bersyukur, bergembira. Itulah yang kitab Amsal 3:8 katakan,  ”itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu”.

“Itulah yang sering kita nyanyikan: hati yang gembira adalah obat. Nyanyian ini lahir dari pengalaman nyata.

Saudara-saudara, sesungguhnya sangat tergantung dari bagaimana kita mengelola hati,” tambahnya.

Kalau hati  ujarnya masih dikuasai oleh sifat-sifat kedagingan itu, maka yang berkembang adalah model pertama tadi. Cenderung mengutuki dan menyalahkan karena selalu menarik segala sesuatu untuk dirinya semata.

Tapi kalau hati  lanjutnya dipimpi Roh Kudus, maka  akan menghasilkan buah-buah Roh, ada ruang yang luas untuk kasih Allah dan memungkinkan kita membuka diri, selalu berpikir untuk orang lain. Selalu berupaya untuk berbuat dan melakukan yang terbaik.

“Kalau saya berbuat baik, itu bukan agar saya mendapatkan balasnya, bukan agar saya dilihat dan dipuji orang; tidak. Ukuran pertama bukannya memperoleh, tetapi adalah kerelaan memberi, bahkan keberanian berkorban. Itulah kasih, sukacita, damai sejahtera dan kemurahan. Olehnya, berilah dirimu dipimpin oleh Roh Kudus,” paparnya.

Dalam konteks inilah ia mengajak Panitia Konas ke-15 FK-PKB PGI, yang didiantik hari ini, untuk memberi diri dipimpin  Roh Kudus, membuka hati seluas-luasnya bagi usaha-usaha mempersiapkan Konsultasi Nasional yang akan datang.

Maka percayalah: ketika anda memperlebar ruang untuk berbagi sukacita dalam hati anda, Anda dan dunia di sekitar anda akan berbinar oleh sukacita. Memperlebar hati untuk berbagi sukacita, karena Allah yang di sorga mengasihi kita.

“Berikanlah apa yang dapat anda berikan, karena anda tidak tahu apa yang Allah ingin berikan kepada anda, yakni berkat yang tak berkesudahan yang selalu baru tiap pagi,” pintanya.

Semoga tambahnya seluruh persiapan oleh panitia dan usaha bersama dengan pimpinan GMIT akan memberikan inspirasi bagi pria kaum Bapa di seluruh Indonesia, untuk juga sedia memberikan diri dipimpin oleh Roh Kudus.

Kebaktian Perayaan Hari Pentakosta dan Perhadapan Panitia Konas  FK P-KB PGI diawali dengan prosesi panitia masuk ke ruang kebaktian, selanjutnya para pendeta liturgos dan pengkhotbah serta majelis jemaat, petugas yang membawa lilin  diiringi tari tarian Timor.

Liturgos kebaktian ini adalah Pdt. Piter Tameno, Sekbid Kaum Bapak dan Pemuda Majelis Sinode (MS)  GMIT.  PS Maranatha GMIT Jemaaat Ebenhaezar Oeba,  PS Jemaat GMIT Teun Baun Amarasi,  PS. Simphoni Gloria Singers Jemaat GMIT Laharoi Tofa,  dan VG Nazareth Jemaat GMIT Ebenhaezar Oeba menyanyikan lagu I don’t know why Jesus love me.

Seluruh rangkaian kebaktian hingga acara pelatikan dan pentahibisan Panitia Konas berlangsung dari pukul 08.30 Wita hingga Pukul 13.00 Wita.

Hadir Ketua Umum FK P-KB Olly Dondokambey, SE , yang juga Gubernur Sulawesi Utara, Anggota DPR RI,  asal NTT, Herman Heri dan pengurus FK P-KB serta jemaat tamu dan Jemaat GMIT Ebenhaezar Oeba.

Untuk mensukseskan kegiatan Konas ini dimana GMIT sebagai tuan rumah. Kaum Bapak MS GMIT yang dipimpin  Dr. Roddialek Pollo telah membentuk Panitia dengan total keanggotaan panitia 340 orang yang dipimpin Ketua Panitia, Ir. Emelia Nomleni, Penatua dan Majelis Harian Jemaat GMIT ebenhaezar Oeba, sehari hari Ketua DPRD NTT.  Dalam perhadapan Panitia Konas Minggu (5/6) dihadiri 90-an persen panitia.

Panitia yang dilantik dan dithabiskan tersebut laki laki  mengenakan celana hitam, kemeja putih dengan selimut tenun ikat sementara perempuan mengenakan atasan putih bawahan sarung.

Warga Jemaat yang diwawancarai media ini mendoakan agar semua panitia diberi kesehatan dan hikmat dituntun Roh Kudus sehingga bisa menyukseskan Konas.

Selain itu mereka mengharapkan paskah Konas ada sesuatu yang berubah dari kaum bapak di GMIT. Paling tidak angka kekerasan dalam rumah tangga berkurang, angka mengkonsumsi miras berkurang, bapak bapak warga GMIT tidak malu dan enggan mengerjakan pekerjaan domestik meringankan beban ganda mama mama di GMIT sehingga tidak hanya menjadi yel yel kaum bapak tetapi dalam spirit dan perilaku hidup

“Jadi tidak saja gebrakan gerakan masuk gereja, tetapi gebrakan stop KDRT,  Stop Miras dan mau kerja kerja domestik,” ujar Mama Lisa.(non)

Komentar Anda?

Related posts