Ini Fokus Program INOVASI di Daratan Sumba

  • Whatsapp
Share Button

Waingapu, seputar-ntt.com – Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan melalui Program INOVASI di daratan Sumba maka dibagi sesuai kebutuhan real yang ada di masing-masing Kabupaten. Pasalnya, setiap wilayah di Sumba memiliki persoalan yang berbeda sehingga membutuhkan kejelian dalam menentukan program yang cocok dan tepat untuk dijalankan.

Hal ini disampaikan oleh program Manager INOVASI, Hironimus Sugi dalam materinya pada kegiatan Media Engagement Program INOVASI di hotel Padadita, Rabu, (21/2/2018).

“Program ini baru berjalan pada November 2017 dan akan berakhir pada 2019. Program INOVASI ini menyasar pendidikan dasar yakni SD dan MI dengan fokus pada Literasi dan Numerisasi atau Baca, Tulis dan Hitung (Calistung),”jelas Hironimus.

Dia menjelaskan, Fokus Program INOVASI di Sumba Timur, melakukan program multi bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam mendukung pembelajaran Ieterasi. Di Sumba Barat program Inovasi fokus pada manajemen sekolah dalam mendukung hasil pembelajaran.

“Di Sumba Barat Daya kita fokus pada kurikulum dan pembelajaran di kelas dengan target guru BAIK yakni Belajar, Inspiratif, Inklusif, dan Kontekstual. Sementara di Sumba
Kita fokus pada literasi dasar,” ungkap pria asal Flores Timur ini.

Dia menjelaskan pendekatan yang dilakukan oleh INOVASI adalah berupaya mencari gagasan atau solusi yang berbasis masalah dalam konteks lokal untuk meningkatkan  hasil pembelajaran. “Pendidikan harus menjangkau semua yang bersifat inklusi. INOVASI juga bekerja sesuai kebijakan nasional dan kerjasama dengan kabupaten terkait komitmen pendanaan” ujar Hironimus.

Dia juga mengakui bahwa ada beberapa kendala yang dihadapi dalam menjelankan Program INOVASI seperti wilayah yang sulit. Selain itu banyak juga guru yang bukan lulusan kependidikan. ” Tantangan lain adalah bagimana kita memastikan isu Literasi bisa maauk dalam penganggaran di daerah,” urainya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur, Yusuf Waluwanja saat membuka kegiatan Media Engagement Program INOVASI di hotel Padadita, Senin, (20/2/2018), berharap agar Program INOVASI mampu memutuskan lingkaran setan yang selama ini menjadi momok di dunia pendidikan khususnya di Kabupaten Sumba Timur dan daratan Sumba pada umumnya. INOVASI sebagai lembaga yang berbasis pada penelitian diharapkan bisa memberi solusi bagi pengembangan dunia pendidikan.

“INOVASI adalah lembaga yang ditunjuk oleh kementerian pendidikan dan bekerjasama dengan Pemprov NTT dan empat Kabupaten di daratan Sumba untuk melakukan penelitian terhadap berbagai persoalan pendidikan yang ada di Sumba. Untuk itu kita berharap INOVASI bisa memutuskan lingkaran setan yang sudah sekian lama mencengkram dunia pendidikan. Kita juga berharap ada kesadaran dari semua pihak terkait persoalan yang ditemui saat penelitian di lapangan,” kata Yusuf.

Yusuf Waluwanja menjelaskan, lingkaran setan yang menjadi momok dalam peningkatan mutu pendidikan di Sumba Timur tidak sebatas pada kompetensi guru semata. Kendala lain adalah rombongan belajar yang tidak sesuai, sarana penunjang kegiatan belajar mengajar yang tidak memadai dan persoalan lainnya.

“Dari penelitian yang dilakukan oleh INOVASI yang dipusatkan di Kecamatan Hahar, ternyata banyak hal yang menjadi indikator kenapa pendidikan kita tidak berjalan dengan baik  misalnya jarak tempuh anak yang jauh, anak yang tidak sarapan ketika pergi sekolah, anak-anak yang tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan persoalan lain. Persoalan-persoalan tersebut menjadi lingkaran setan di dunia pendidikan,”papar Yusuf Waluwanja.

Menurut Yusuf Waluwanja, problem pendidikan di Sumba Timur tidak hanya terjadi di pedalaman tapi juga di wilayah kota. Jika di pedalaman, jarak dan kemampuan guru dan siswa menjadi persoalan maka  sebaliknya di Kota, persoalan teknologi sudah mulai meresahkan terutama bagi anak-anak sekolah.

“Kalau di pedesaan mungkin kekurangan sarana dan ruang belajar tapi di Kota terjadi penumpukan siswa dalam rombongan belajar (Rombel). Jika di pedesaan jarak dan sarapan pagi menjadi persoalan bagi siswa maka di Kota adalah persoalan kemajuan teknologi. Teknologi ini baik jika dimanfaatkan untuk hal baik tapi juga akan merusak bila disalahgunakan untuk hal yang negatif. Anak-anak SD di kota sudah pegang Android dan mengakses internet dengan bebas. Jika tidak di pantau maka bisa menimbulkan hal negatif,” paparnya.

Dia juga mengungkapkan, luas wilayah di Sumba Timur juga menjadi kendala dalam melakukan pengawasan yang melekat terkait kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Tak jarang sebagai kepala Dinas kata Yusuf, dia harus berjalan kaki karena daerah yang dituju tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Dia juga terkadang harus menginap di pedesaan karena kondisi wilayah yang cukup sulit.

“Kita di Sumba Timur ada 265 SD. Jumlah ini tidak termasuk SD kecil dan SD paralel. SD kecil atau Paralel ini adalah sekolah yang kita buat untuk memperpendek jarak tempuh siswa.  Jumlah sekolah SMP ada 77 buah. Harapan kita, kemajuan itu terus meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan berbagai pembenahan yang kita lakukan,”harapnya.

Dia juga mengatakan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan. “Jadi urusan pendidikan itu bukan hanya urusan guru dan pemerintah semata tapi juga peran aktif orang tua dalam mendukung anak untuk belajar yang giat dan rajin sekolah. Bagimana orangtua menyiapkan makan pagi buat anak dan mengontrol mereka untuk belajar,”pungkasnya. (joey rihi ga).

Komentar Anda?

Related posts