Hujan Tak kunjung Tiba, Pendekatan Amphibi Berlaku di Sabu Raijua

  • Whatsapp
banner 468x60
Share Button

Kupang, seputar-ntt.com – Perubahan iklim yang sudah diperkirakan sejak beberapa tahun silam kini sedang melanda wilayah NTT. Hal ini ditandai dengan belum turun nya hujan secara masif dihampir seluruh wilayah termasuk Sabu Raijua.Banyak Pemerintah daerah yang tidak mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan musim ini.

Namun tidak demikian dengan Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dibawah kendali Bupati Marthen Dira Tome. Saat dirinya menjadi bupati, Dia sudah menerapkan pola pendakatan aphibi kepada masyarakatnya. Pola pendekatan ini adalah, dimana darat tidak bersahabat karena kekeringan, maka laut akan menjadi tempat mengais rupiah. Demikian juga sebaliknya.

“Apa yang dikatakan oleh para ahli bahwa akan terjadi perubahan iklim tidak ditanggapi serius oleh banyak orang. Bagi kami, itu adalah sebuah peringatan sehingga harus mampu berinovasi dengan kondisi yang ada,” katanya kepada seputar-ntt.com, Selasa, (12/1/2016).

Dia mengatakan, sekalipun saat ini masyarakat di Sabu Raijua belum menanam, namun dengan panas yang ada saat ini mereka bisa tetap memanen garam di sejumlah lokasi yang tersebar di Sabu Raijua.

“Mungkin bagi sebagian orang, panas yang terjadi adalah malapetaka, tapi bagi kami ini adalah anugrah Tuhan. Bagimana kita dengan bijak mengelola kondisi yang sulit melalui berbagai inovasi,” ungkapnya.

Jika tahun ini terjadi gagal tanam kata Dira Tome, maka uang hasil penjualan garam bisa digunakan untuk mengantisipasi rawan pangan yang bisa saja terjadi di Sabu Raijua. “Pola pendekatan aphibi yang kita lakukan mampu menghadapi perubahan musim yang sedang terjadi,” katanya.

Pada tahun 2015, ada 121 hektar lahan tambak garam yang dibangun Marthen Dira Tome. Satu hektar lahan membutuhkan 10 orang tenaga kerja. Dengan demikian maka tambak garam akan menyerap 1.210 orang tenaga kerja di Sabu Raijua. Mereka diperlakukan bukan sebagai buruh, tapi diangkat lewat kontrak kerja daerah dengan gaji Rp.1.200.000 per bulan.

“Ini bukan lagi hanya mimpi karna sudah banyak karyawan tambak garam yang telah mengecap manisnya bekerja sebagai karyawan tambak garam. Di Desa Bodae Kecamatan Sabu Timur maupun di Kecamatan Sabu Barat para karyawan sudah menikmati gaji mereka,” ungkap Marthen.

Dia mengatakan, garam akan menjadi komoditi unggulan di Kabupaten Sabu Raijua. Saat ini ada 121 hektar lahan yang sedang dikembangkan diwilayah tersebut dan bisa menampung ribuan tenaga kerja. “Garam adalah komoditi sensitif yang harus dijaga dan dilindungi sehingga perlu didukung semua pihak karena saat ini garam adalah masa depan Sabu Raijua,” kara Dira Tome.

Bupati berharap agar seluruh masyarakat termasuk camat dan para kepala Desa untuk melakukan pengamanan terhadap wilayah tambak garam sehingga terhindar dari gangguan tangan-tangan tak bertanggungjawab. “Demikian juga dengan hewan-hewan jangan dibiarkan keliaran supaya tidak merusak lahan tambak,” harapnya.(joey)

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60