Diferensiasi Kurikulum, Hanya Istilah Bukan Hal Baru

  • Whatsapp
Share Button

Oleh : Lay A. Yeferson

Istilah diferensiasi dalam pengertian kurikulum menunjuk pada kurikulum yang tidak berlaku umum, melainkan dirancang khusus untuk kebutuhan tumbuh kembang bakat tertentu.

Semiawan, C, (1996)  yang di kutip oleh blogger https://shaalytikaa.blogspot.com menyatakan bahwa Kurikulum berdiferensiasi bagi anak berbakat merupakan suatu rancangan jangka panjang dalam pengembangan pendidikan anak berbakat dengan konsiderasi terhadap berbagai kondisinya.

Walaupun model pengajaran ini memperhatikan atau berorientasi pada perbedaan-perbedaan individual anak, namun tidak berarti pengajaran harus berdasarkan prinsip satu orang guru dengan satu orang murid. Berbeda dengan kurikulum reguler yang berlaku bagi semua , kurikulum berdiferensiasi bertujuan untuk menampung pendidikan berbagai kelompok belajar, termasuk kelompok berbakat. Melalui program khusus, berbakat akan memperoleh pengayaan dari materi pelajaran, proses belajar dan produk belajar.
Kurikulum berdiferensiasi tetap bertitik tolak pada kurikulum umum yang menjadi dasar bagi semua anak didik. Kurikulum berdiferensiasi juga memberikan pengalaman belajar berupa dasar-dasar keterampilan, pengetahuan, pemahaman, serta pembentukan sikap dan nilai yang memungkinkan anak didik berfungsi sesuai dengan tuntutan masyarakat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini sudah ada dalam K13, dan di jabarkan melalui spekturum dan struktur kurikulum.

Deferensiasi kurikulum spesifikasinya atau mikronya itu pada prioritas pengembangan bakat dan minat, artinya guru yang berberperan dalam memilih model dan pendekatan pembelajaran. Jika memang mau terapkan di ntt maka guru-harus di persiapkan kemampuan skil teknik nya baik itu adaptif maupun produktifnya. Dalam pelaksanaannya kebutuhan akan tenaga pengajar dan pengawasan perlu diprioritaskan, dan juga dalam pengembangan kurikulum berdeferensiasi itu akan terkendala jika dilaksanakan tanpa ada pemenuhan dan penataan 8 SNP pada semua tingkat satuan pembelajaran.

Contoh anak memiliki bakat seni, sarana pendukung di sd, smp, oke, ketika di SMA atau SMK tidak sarana pendukungnya  maka anak akan mengalami hambatan dalam mengembangkan bakat seni. Coba saja lakukan pemetaan PTK, saya yakin pendidik di NTT ada banyak yang  belum memperoleh kesempatan untuk diklat ketrampilan teknik atau vokasi. Contoh peningkatan ketrampilan teknis guru bidang keahlian Nautika, sejak dan kawan-kawan jadi guru tak pernah ada program pelatihan peningkatan skill teknis bagi guru produktif yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan NTT.

Jika saja pak Gubernur ingin mengimplementasikan program kurikulum berdiferensiasi maka Dinas Pendidikan harus segera melakukan pemetaan dan penataan  8 SNP, serta bidang GTK yang menangani guru maupun bidang dikmen harus berkolaborasi menyusun program   antara lain peningkatan ketrimpilan teknis guru adaptif dan produktif. (*) Penulis adalah Praktisi Pendidikan

Komentar Anda?

Related posts