Bupati Kupang Mengaku Malu Terima Tropy Kabupaten Peduli Lingkungan

  • Whatsapp
Share Button

Kupang, seputar-ntt.com – Bupati Kupang, Ayub Titu Eki mengaku malu menerima tropy penghargaan sebagai Kabupaten Peduli Lingkungan di Indonesia dalam event Government Award Sindo Weekly Tahun 2016 di Jakarta.

Menurut dia, Kabupaten Kupang belum berhasil membangun gerakan tanam paksa dan paksa tanam. Gerakan ini mewajibkan masyarakat Kabupaten Kupang untuk menanam tanaman bernilai ekonomis disetiap jengkal lahan miliknya.

“Waktu saya diwawancarai wartawan dari Jakarta, saya bilang begini, saya sebenarnya malu menerima tropy ini karena bagi saya belum berhasil membangun gerakan tanam paksa dan paksa tanam. Ini baru berupa gagasan dan belum terlihat hasilnya secara optimal,” kata Titu Eki di Desa Oelbiteno Kecamatan Fatuleu Tengah, Sabtu (16/4/2016).

Dikatakan, tropy Kabupaten Peduli Lingkungan di Indonesia diterima sebagai sebuah motivasi agar masyarakat Kabupaten Kupang dapat menanam lebih banyak lagi. Tanaman bernilai ekonomis yang ditanam bukan saja bisa membuka rongga udara di tanah tapi juga bisa meningkatkan ekonomi keluarga.

Kedepan, ungkap Titu Eki, Pemerintah akan keluarkan instruksi Bupati agar Desa dan Kecamatan dapat menginvenstarisir orang per orang dan kelompok masyarakat yang telah menanam. Dari data tersebut dapat diketahui jumlah yang menanam dan tanaman yang telah ditanam.

Terkait dukungan instansi teknis, Bupati Titu Eki mengatakan, dukungan instansi teknis di Kabupaten Kupang seperti Dinas Pertanian untuk Gerakan Tanam Paksa, Paksa Tanam yang telah digulirkan sejak 2009 lalu jelak.

“Sejak 2013 lalu sudah keluarkan instruksi agar 35 persen PAD Kabupaten Kupang digunakan untuk mendukung gerakan Tanam Paksa, Paksa Tanam. Ketika itu dianggarkan tapi jumlahnya tidak sampai 35 persen. Tahun 2015 dianggarkan Rp7,5 miliar tapi yang dicairkan hanya Rp1 miliar saja sehingga menunjukkan jeleknya komitmen staf dalam mengaplikasikan apa yang diinginkan Bupati selaku kepala daerah,” tandas Titu Eki.

Titu Eki menambahkan, belum lama ini Perbup soal gerakan tanam paksa dan paksa tanam coba direvisi. Tapi revisi yang dibuat asal jadi dan tidak sesuai dengan yang dikatakannya sehingga kemudian tidak bisa diimplementasikan ke tengah masyarakat.

Dia menambahkan, tahun ini anggaran untuk menunjang gerakan tanam paksa dan paksa tanam harus banyak. Anggaran tersebut dipakai untuk memotivasi kelompok-kelompok masyarakat sehingga muncul gerakan bersama dalam menanam tanaman yang bernilai ekonomis. (sho)

Komentar Anda?

Related posts