Home / News Flash / Bintang Mercy di Dada Jeriko

Bintang Mercy di Dada Jeriko

Ketua DPD Partai Demokrat NTT, Dr. Jefri Riwu Kore

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Share Button

Kupang, seputar-nttcom – Matahari belum terlalu tinggi, saat rombongan Ketua DPD Partai Demokrat NTT, Jefri Riwu Kore tiba di Pulau Kera. Dengan menggunakan perahu rakyat rombongan DPD Partai Demokrat yang dipimpin Jeriko, sapaan Jefri Riwu Kore menuju pulau yang menjadi bagian wilayah Kabupaten Kupang itu. Sekalipun letaknya berada di teluk Kupang namun pulau Kera termasuk terisolir dan jauh dari sentuhan pembangunan.

Jefri Riwu Kore yang juga Wali Kota Kupang itu merasa bahwa penduduk yang ada di Pulau Kera adalah bagian yang harus disentuh setelah Badai seroja melanda Nusa Tenggara Timur pada 5 Mei 2021. Ditemani sekretaris DPD Partai Demokrat NTT, Ferdi Leu, Dewan Kehormatan Partai Demokrat, Thobias Uly dan sejumlah kader dan simpatisan Partai Demokrat, Jefri Riwu Kore datang untuk berbagi kasih dengan masyarakat di Pulau Kera.

Kedatangan Jeriko bersama rombongan yang mengenakan baju biru berlogo Partai Demokrat, disambut haru oleh masyarakat Pulau Kera. Mereka tak menyangka, Pemimpin Kota Kupang yang lampunya terang benderang dari Pulau Kera, datang bertemu mereka selepas diterjang badai seroja. Puluhan anak remaja terlihat sumringah. Jeriko disambut oleh Hamdan selau Ketua RT setempat serta Imam Masjid, Rasyad Abdul Latif.

Kepada Jeriko, Hamdan selaku RT menjelasan bahwa 140 KK yang ada di Pulau Kera terkena dampak langsung badai seroja. Kehidupan mereka di Pulau Kera ini sangat memprihatinkan. Salah satu yang paling sulit adalah akses pendidikan dan kesehatan. “Anak-anak kami di sini bersekolah di Madrasyah kecil, dari kelas satu sampai kelas lima, itupun hanya satu ruangan sekolah saja yang tersedia. Kalau mau masuk kelas ujian maka harus pindah ke kelurahan Sulamu, di Kabupaten Kupang,” kisah Hamdan.

Bagi Hamdan dan penghuni Pulau Kera, kedatangan Jeriko bersama rombongan Demokrat adalah harapan baru ditengah situasi sulit dia tak henti menaruh asa dan harap kepada Jeriko untu bisa menyampaikan apa yang menjadi kesulitan mereka di Pulau Kera. Mereka Tahu, Jeriko lewat Jaringan Partai Demokrat bisa menyuarakan harapan mereka sehingga fasilitas pendidikan dan kesehatan bisa diperbaiki. Mereka ingin, ada Puskesmas Pembantu di Pulau Kera sehingga ketika laut sedang tida bersahabat, sudah ada tenaga kesehatan serta fasilitas kesehatan di Pulau Kera.

Hal senada disampaikan oleh Imam Masjid, Rasyad Abdul Latif. Dia mengapresiasi kehadiran Partai Demokrat di Pulau Kera. Sebagai Partai besar dan pernah memimpin Indonesia, dia tak ragu akan jaringan ke pusat. Dia mengaku bangga karena Jefri Riwu Kore selaku Ketua DPD berkenan melihat secara langsung kondisi masyarakat di Pulau Kera, sekalipun secara administrasi mereka bukan warga Kota Kupang “Saya titipkan dua agenda khusus untuk pendidikan agar segera mendapat dukungan dari pemerintah dan juga adanya pengembangan anak muda, lapangan pekerjaan dan potensi olah raga dari orang muda,” ujar Latif.

Dihadapan warga Pulau Kera, Jefri Riwu Kore menyampaikan bahwa, bantuan yang dibagikan Partai Demokrat adalah bantuan dari Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurthi Yudhoyono (AHY) selaku Ketua Umum Partai Demokrat yang pada awal Mei datang langsung ke NTT dan meminta DPD Partai Demokrat NTT agar memberi perhatian bagi warga yang selama ini belum dijangkau oleh bantuan, karena Pulau Kera merupakan salah satu pulau yang sering terlupakan, maka Partai Demokrat memilih tempat ini.

Sosok yang akrab disapa Jeriko ini melanjutkan bahwa, amanat Ketua Umum adalah, bantuan tersebut harus diterima langsung oleh warga tidak boleh dititipkan melalui perantara ataupun pihak lain, dengan hadirnya Ketua DPD melihat kondisi masyarakat di Pulau Kera, Jeriko yang juga Wali Kota Kupang ini mewajibkan Partai Demokrat untuk memberi perhatian penuh, baik melalui Fraksi di DPRD kabupaten Kupang untuk pengembangan pendidikan dan kesehatan maupun kepedulian terhadap rumah warga yang belum diperbaiki.

Jeriko berpesan kepada Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Kupang, Winston Neil Rondo untuk membawa kembali anggota Fraksi Partai Demokrat di DPRD untuk berkunjung langsung di Pulau Kera dan bertatap muka dengan warga, semoga dengan cara itu, ada solusi yang bsa dilakukan, “Partai Demokrat memang bukan pemerintah, tetapi Partai ini punya DPRD yang bisa ikut menyampaikan kepentingan warga,” tukas Jeriko.

Pesan Jeriko dalam kunjungan tersebut adalah, kehadiran Partai Demokrat di Pulau Kera adalah tanda persahabatan dan kekeluargaan, karena urusan Pilkada masih lama Partai Demokrat hanya fokus urus rakyat yang dilanda bencana, semoga hari ini merupakan pertanda silahturahmi untuk membangun masyarakat Pulau Kera.

Dalam kunjungan ini, Jeriko langsung berkunjung ke beberapa rumah warga yang dilanda badai seroja, dirinya mendapati beberapa rumah warga yang belum ditutup atapnya, bahkan ada keluarga lansia yang belum bisa memperbaiki rumahnya . itu satu kisah Jeriko sebagai Ketua DPD Demokrat NTT Lantas bagimana kisahnya sebagai Wali Kota Kupang?

Jejak Jeriko di tengah Pandemi

Sebagai Ibu Kota Provinsi NTT, Kota Kupang adalah wilayah dengan tingkat kesibukan yang paling tinggi dibanding dengan wilayah lain di NTT. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan tapi juga menjadi pusat bisnis untuk wilayah NTT pada umumnya. Sebagai Ibu Kota Provinsi, Kota Kupang paling sering menjadi topik pemberitaan di media. Tidak terlepas juga dengan apa saja yang dilakukan oleh Wali Kota sebagai pemimpin Kota yang berjuluk Kota kasih tersebut. Di saat Pendemi menyerang dunia, Kota Kupang termasuk wilayah yang juga terpapar dan terdampak oleh virus yang berasal dari Kota Wuhan tersebut.

Sebagai Kota yang intesitas pergerakan masyarakatnya cukup tingga maka, ketika ketika Protokol penanganan Covid-19 diterapkan, Kota Kupang terlihat tidak seramai biasanya. Kota Kupang terlihat lebih longgar sebab para ASN baik di Provinsi muapun di Kota melakukan instruksi Pemerintah Pusat dengan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Anak-anak sekolah dan mahasiswa juga belajar dari rumah. Angkutan kota yang biasanya ramai oleh pelajar dan mahasiwa terlihat sepi. Kota Kupang yang sedang ramai-ramainya lantaran beberapa ruang publik sudah disulap menjadi tempat untuk kongkow tiba-tiba harus sepi. Bundaran Tirosa, Taman Ina Bo’i, Taman Son Bai, Taman Nostalgia adalah tempat yang sedang ramai-ramainya dikunjungi warga kota kala malam hari terlebih di akhir pekan. Tempat-tempat ini harus iklas untuk sunyi dan sepi dari pengunjung.

Lalu disaat pendemi terjadi, apa saja yang dilakukan oleh Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore? Orang nomer satu di Kota Kupang tersebut tidak berdiam diri. Dia terus melakukan aktifitas seperti biasa. Ya, memimpin pemerintahan di saat pandemic sekaligus memastikan warganya terlayani dengan baik tentu dengan doa supaya tidak banyak warga yang terpapar oleh virus yang menjadi momok bagi dunia tersebut. Jefri Riwu Kore tak pernah menghentikan langkahnya untuk melayani warga kota sekalipun kerap kali dinilai sebagai pencitraan politik oleh segelintir orang atau lawan politik. Saat warga dilarang untuk berkerumun di tempat umum, Jefri Riwu Kore turut berteriak di jalanan untuk membubarkan masyarakat yang masih saja keras kepala terhadap himbaun pemerintah untuk tinggal di rumah saja. Dia tak peduli kata orang yang memandang sinis terhadap apa yang dia lakukan. Bahkan untuk membagi maskers saja Wali Kota didampingi sang istri tak takut untuk turun ke demi warga kota. Mungkin ini hal kecil bagi orang lain tapi bagi Jefri Riwu Kore, sebagai pemimpin Kota dia ingin memastikan Keselamatan Rakyat diatas segalanya. Bagi Jefri, warganya terlindungi dan sedapat mungkin bisa terhindar dari wabah Covid-19.

Untuk membagikan sembako, Jefri juga turut keliling kota tentu selalu didampingi oleh sang istri yang juga ketua Tim Penggerak PKK yang dipercaya masyarakat NTT sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau DPD asal NTT. Banyak orang yang menilai bahwa pergerakan walikota yang akrab disapa Jeriko ini berbau politik. Tapi sekali lagi, Jefri tak pernah peduli. Dia mau bersentuhan langsung dengan masyarakat. Mendengar apa masalah yang mereka hadapi di kala sulit seperti sekarang. Nyatanya banyak yang tidak terdata untuk mendapatkan bantuan sehingga Pemerintah Kota harus membuat Website khusus untuk urusan bantuan sosial. Ini dilakukan karna keluhan masyarakat yang disampaikan secara langsung kepada jefri sebagai Wali Kota dan dia mengeksekusi itu lewat kebijakan-kebijakan.

Satu yang selalu dilakukan oleh Wali Kota adalah dia tidak pernah tersinggung dengan kritik tajam orang dan dia selalu berusaha untuk mencari solusi terbaik bagi warga kota. Dia memastikan ketersediaan fasilitas kesehatan di RSUD SK Lerik sebagai rumahk sakit Kota, dia juga berkeliling untuk menempatkan tempat cuci tangan di tempat-tempat strategis. Tak ada hari tanpa aktifitas sekalipun ASN Kota sedang bekerja dari rumah. Saat ada Pasien Covid-19 yang meninggal di Kota Kupang, Jefri Riwu Kore memimpin langsung Gugus Tugas untuk melakukan penyemprotan di rumah almarhum. Jefri langsung turun lapangan sekalipun sangat beresiko. Dia mau memastikan semua keluarga dari pasien yang meninggal harus memperoleh pelayanan yang standard dan kebutuhan mereka harus terpenuhi. Demikian juga dengan warga sekitar, sambil tim melakukan penelusuran lebih jauh terhadap kontak pasien.

Di beberapa kejadian ketika Wali Kota mendengar atau membaca lewat media bahwa warganya ada yang mengalami kesulitan, Jeriko sudah langsung bertandang kesana. Sebut saja, saat dia membaca tentang kisah Oma Siti Abdulah, janda Lansia di Kelurahan Penfui yang tinggal di rumah sangat tidak layak. Jeriko langsung kesana. Setelah tiba di lokasi, ternyata bukan hanya rumah Oma Siti Abdula yang harus dibedah, ada juga seorang duda lansia bernama Opa Benyamin Yasin, yang tinggal di rumah tidak layak huni dan harus di bedah. Sebagai seorang Wali Kota, Jefri langsung memerintahkan stafnya untuk segera mengeksekusi apa yang dia perintahkan yakni membedah rumah warga yang dia temui. Jefri bahkan kepada media mengakui bahwa masih banyak warga kota yang hidup dalam kesulitan namun dia terbatas karna tidak memiliki data maupun informasi yang akurat.

Salah satu Pejabat di NTT yang aktif di Media Sosial (Medsos) adalah Jefri Riwu Kore. Dia sadar bahwa lewat media sosial dia bisa memantau dan mendengar setiap keluhan warga sekalipun di jagad dunia maya, orang mengumpat dengan kasar sudah menjadi hal biasa. Bagi Jefri itu bukan tantangan. Contoh kecil misalnya, saat para petugas kebersihan kota mengeluh lewat media sosial bahwa mereka bekerja tidak punya APD langsung dijawab oleh Wali Kota dengan menemui para petugas kebersihan dan membagikan APD kepada mereka. Padahal sudah banyak orang mengumpat Walikota karena hal itu. Bahkan ada pihak yang melontarkan krtitik pedas lewat pemberitaan.

Apa yang dilakukan oleh Jefri Riwu Kore tersebut bukan tanpa kritikan pedas. Kritikan yang paling sering adalah dari DPRD Kota Kupang sebagai penyambung aspirasi rakyat kota sekalipun kritikan yang tajam tersebut sering bernuansa politik yang terang benderang. Mereka menuding bahwa apa yang dilakukan oleh Wali Kota dengan menyalurkan Bantuan di saat Pandemi hanya pencitraan semata. Biar demikian Jeriko tak pernah menghentikan langkahnya. Sebab dia tak mau rakyatnya mengalami kesulitan hanya karna dirinya berhenti bergerak memberi pertolongan hanya karena kritikan dan sudut pandang bahkan pendapat yang berbeda. Sekalipun sering dihadap-hadapkan oleh media lewat pemberitaan tapi Jeriko tak pernah terpancing apalagi melayani kritikan yang ada. Bagi Jefri Riwu Kore, Seorang Pemimpin harus memiliki hati seluas samudera yang tak akan meluap bila diguyur dan tak akan berkurang bila ditimba. Jefri Riwu Kore sudah berkomitmen untuk terus bergerak melayani warga yang dia cintai di Kota Kasih ini.

Empat Tahun Pimpin Kota Kupang

Tanggal 22 Agustus 2021, genap empat tahun kepemimpinan Jefri Riwu Kore dan Herman Man menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang. Tak bisa dipungkiri, Kota yang memiliki julukan Kota Kasih dan kota karang ini, kini sedang berubah. Seperti gadis perawan yang sedang berdandan dalam lekuk tanjung kurung. Kota yang dulu tidak memiliki ruang publik ini, kini telah memiliki sejumlah taman Kota yang indah dan anggun. Jika Pandemi Covid-19 tak menerpa, maka taman-taman Kota yang dibangun sudah pasti dipadati warga Kota. Jefri Riwu Kore dan Herman Man yang dikenal dengan Paket FirmanMu saat Pilkada Kota Kupang, terus berlomba dengan waktu untuk meninggalkan sidik jari pembangunan dan menuntaskan janji kampanye kepada warga Kota Kupang.

Layaknya bayi yang baru mulai berjalan, tahun pertama kepemimpinan Jefri dan Herman dicibir banyak orang. Mereka dianggap tidak mampu memimpin Kota yang menjadi Barometer di Bumi Flobamora ini. Namun seiring perjalanan waktu, Jefri dan Herman mampu menarik simpati warga lewat berbagai Program yang mereka lakukan. “Jujur bahwa tahun pertama kita memimpin bukan kita yang mengatur anggaran, sehingga apa yang menjadi janji kami saat kampanye tidak bisa kami eksekusi karena anggaran yang ada disusun oleh pemerintahan sebelumnya. Saya harap di tahun kedua kami memimpin kami sudah bisa menjawab kebutuhan masyarakat kota sesuai dengan program kami,” kata Jefri Riwu Kore saat berbincang dengan media ini menjelang ulang tahun ketiga kepemimpinan Paket FirmanMu, Senin, 10 Agustus 2020 di Ruang Kerja Wali Kota Kupang.

Catatan redaksi Seputar NTT, ada sejumlah program yang sudah dan sedang dilaksanakan oleh Jefri Riwu Kore dan Herman Man yakni, Pemasangan lampu jalan, Pembangunan taman-taman kota, Pemasangan lampu hias di jalur-jalur protokol, pembagian seragam, buku tulis dan tas gratis bagi siswa/I di Kota Kupang, bedah rumah bagi warga tak mampu yang rumahnya tidak layak huni, pembagian Bantuan Sosial (Bansos), pembagian kacamata baca secara gratis bagi para manula, pengelolaan keuangan daerah yang baik hingga mendapatkan penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI Perwakilan NTT pada tahun 2020 dan bantuan Perlengkapan liturgis bagi rumah ibadah di Kota Kupang.

Yang menarik adalah, dari setiap program yang dilaksanakan oleh Pemkot Kupang, senantiasa disertai oleh berbagai dinamika. Media Sosial adalah tempat paling ampuh bagimana terjadi pro kontra terhadap berbagai kebijakan yang akan dan sedang dilakukan oleh Jefri Riwu Kore dan Herman Man. Waktu pembagian seragam secara gratis misalnya, banyak warga kota memprotes dengan alasan bahwa seragam bukan hal urgen. Tapi Wali

Kota tak ambil pusing, program seragam gratis ditetap berjalan karena dinilai bisa menolong orang tua siswa. Tak kalah heboh juga adalah saat program pembagian kacamata gratis untuk para manula. Banyak yang protes hanya karena ada tulisan “Jeriko” pada gagang kiri kacamata yang dibagikan. Semua orang tahu, Jeriko adalah kependekan dari nama Wali Kota, Jefri riwu Kore. Tak bisa dipungkiri, aroma persaingan Pilkada belum reda sehingga selalu terjadi pro-kontra dalam setiap kebijakan Jefri dan Herman di Kota Kupang. “Bagi saya apa yang menjadi kebutuhan rakyat itu yang utama. Cibiran orang atau apapun itu, biar saja saya yang pikul. Kita tidak punya banyak waktu hanya untuk berbantah-bantah. Kita harus kerja cepat sesuai dengan waktu yang diberikan pada kami untuk memimpin Kota ini,” begitu kata Jefri Riwu Kore.

Tak kalah heboh saat Wali Kota membangun Taman Patung Tirosa atau yang dikenal dengan sebutan Bundaran PU. Saat itu banyak pohon kasuari yang harus ditebang karena akan menghalangi Patung Tirosa yang akan menjadi Ikon saat orang memasuki Kota Kupang dari Bandara El Tari. Pembangunan taman itu berjalan dalam berbagai protes terutama dari warga peduli lingkungan yang tidak terima penebangan pohon sekitar taman. Setelah taman itu jadi, ratusan warga kota mendapat tempat nongkrong baru. Setiap malam penuh sesak oleh pengungjung. Kehidupan kaki lima dan penjual kopi keliling tumbuh subur disana. Bukan hanya Taman Tirosa yang dibangun, Taman Ina Boi juga dibuat dengan megah. Begitu juga dengan Taman Sonbai dan Taman Generasi Penerus atau Tagepe. Taman-taman ini menjadi spot baru warga kota untuk bermain dengan keluarga atau sekedar foto-foto.

“Kenapa Kita Bangun Taman Patung Tirosa demikian, karena saya pernah malu saat menjemput tamu dari Bandara. Kami sudah melewati Bundaran dan sudah mau masuk Kantor Wali Kota, Tamu ini bertanya, apakah Kota masih Jauh?. Saya jawab dengan malu-malu bahwa kita sudah dalam Kota. Kenapa orang Tanya demikian? Karena kita tidak memiliki sesuatu yang ikonik yang menjadi symbol bahwa kita sudah masuk dalam Kota. Lihat saja kota-kota besar, pasti mereka memiliki gedung atau taman atau patung yang ikonik. Karena itulah kita bangun taman Tirosa. Demikian juga dengan taman-taman lainnya. Taman Sonbai itu ada ditengah kota yang harus kita benahi. Kita mau ketika orang datang ke Kota Kupang, mereka akan mengenang taman-taman yang indah dan mereka akan kembali berkunjung di kota ini,” kata Jefri Riwu Kore.

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini Kota Kupang sudah terang benderang dengan ribuan mata lampu yang dipasang oleh Pemerintah Kota Kupang. Jika anda melihat Kota Kupang dari udara saat ini, sudah terlihat jelas, jalur-jalur jalan yang ada di Kota Kupang. Tempat-tempat gelap yang dulunya membuat takut kini sudah terang. Orang yang mau melakukan niat jahatpun harus berhitung cermat jika ingin berbuat jahat. Untuk tahun 2020 ini ada 1200 titik lampu yang akan dipasang oleh Pemkot Kupang. Wali Kota sudah memerintahkan para Lurah dan Camat untuk mendata lokasi disetiap wilayah mereka supaya bisa dipasang lampu. Wali Kota juga akan berkeliling untuk memantau secara langsung pemasangan lampu maupun melihat titik-titik yang semestinya dipasang lampu. Saat ini Jefri Riwu Kore juga sedang manata boulevard disepanjang jalan El Tari hingga jalan Piet A Tallo atau sepanjang jalan dari Polda NTT menuju Bandara El Tari Kupang. Jika taman dan boulevard itu sudah jadi maka Kota Kupang akan semakin indah, seperti boulevard dari Bandara Halim Perdana Kusumah menuju Ibu Kota Jakarta.

Program yang tak kalah heboh saat ini adalah Bedah Rumah. Dalam sepuluh hari rumah warga yang dibedah sudah harus jadi. Selama rumah mereka dibedah Pemkot, warga diinapkan di Hotel atau Rumah Jabatan Wali Kota Kupang. Untuk tahun 2020, ada 50 buah rumah yang menjadi sasaran. Wali Kota yang akan mengecek langsung ke lokasi sesuai laporan warga atau lurah jika ada rumah yang tidak layak huni. Rumah pertama yang dibedah adalah milik Oma Ane Djara. Lansia yang menjadi Warga Fontein tersebut tinggal di rumah yang tak layak huni dan dalam kondisi sakit. Program bedah rumah juga sempat memanas di ruang sidang DPRD Kota Kupang saat Pemkot Kupang hendak membedah rumah milik warga Lasiana, Afliana Kause dan Samuel Kiki. Bahkan sempat menjadi viral di media daring dan media sosial saat Anggota Dewan dari Fraksi PKB, Theodora Ewalde Taek memprotes bahwa warga sudah merobohkan rumah mereka dan tidur ditempat yang tidak layak. Pernyataan Walde tersebut sempat memantik tensi dari Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore saat itu. Sebenarnya tidak ada yang salah sebab belum saatnya rumah dibongkar tapi warga sudah bongkar sendiri tanpa menunggu pemerintah. Walde Taek juga hanya menyampaikan fakta yang dia lihat dilapangan. Hingga saat ini sudah puluhan rumah yang selesai dibedah oleh Pemkot Kupang.

Pemerintah Kota Kupang dibawah kepemimpinan Jefri Riwu Kore dan Herman Man yang memiliki tagline “Ayo Berubah” selalu berpikir dan bertindak out of the box. Pemikiran-dan tindakan itulah selalu menjadi pro kontra di masyarakat. Saat melaksanakan program Gerakan Kupang Hijau (GKH), Jefri Riwu Kore tidak menanam anakan tapi menanam pohon yang sudah tinggi dengan ukuran diameter batang diatas 15 centi meter. Saat pohon-pohon itu ditanam di ruas jalan protocol, masyarakat mulai rebut. Mereka sangsi pohon-pohon tersebut akan tetap hidup dan hanya sekedar menghabiskan anggaran semata. Walaupun demikian, Jefri Riwu Kore tidak berhenti hingga akhirnya, pohon-pohon yang ditanam sudah mulai bertunas dengan dengan baik. “Jadi kontrak kita dengan Pihak ketiga itu adalah pohon hidup jadi kalau pohon itu mati, mereka harus ganti. Banyk yang bilang itu tidak bisa hidup. Mereka tidak tahu kalau pohon yang kita tanam itu kita pasang paralon supaya aur langsung menyentuh akar pohon” kata Jefri.

Sejak menjadi daerah Otonom, tahun 2020 menjadi tahun yang bersejarah karna untuk pertama kali Kota Kupang mendapatkan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI Perwakilan NTT. Sudah tiga Wali Kota yang memimpin Kota Kupang, tapi baru di masa kepemimpinan FirmanMU Kota Kupang mendapatkan Opini WTP. Opini WTP adalah opini audit yang akan diterbitkan BPK jika laporan keuangan dianggap memberikan informasi yang bebas dari salah saji material. Jika laporan keuangan diberikan opini jenis ini, artinya auditor meyakini berdasarkan bukti-bukti audit yang dikumpulkan, perusahaan/pemerintah dianggap telah menyelenggarakan prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan baik, dan kalaupun ada kesalahan, kesalahannya dianggap tidak material dan tidak berpengaruh
signifikan terhadap pengambilan keputusan. “Ini kerja yang luas biasa selama empat bulan. Saya control sendiri kerja teman-teman. Ini memang sesuatu yang berat tapi karena kami memiliki semangat kerja yang tinggi sehingga tahun ini kita bisa dapat WTP,” ujar Jefri Riwu Kore. (joey rihi ga)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]