Home / Ekonomi Bisnis / Waroenk Podjok Sajikan Soup Szechuan Seafood yang Populer Sejak Dinasti Han

Waroenk Podjok Sajikan Soup Szechuan Seafood yang Populer Sejak Dinasti Han

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Kupang, seputar-ntt.com–Salah satu jenis masakan yang paling disukai di dunia adalah makanan oriental yang berasal dari Asia. Adapun masakan kontinental yang berasal dari negara-negara Barat (Eropa), juga disukai tetapi belum bisa mereduksi kegemaran penikmat kuliner dunia mencicipi makanan oriental.

Saat ini, kepopuleran masakan oriental sudah merambah Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang notabene tempat lahirnya menu-menu kontinental. Jika ditelusuri lebih mendetail, hal tersebut tidak salah. Pasalnya, menu-menu oriental kaya akan rasa yang tidak lepas dari penggunaan rempah dan bumbu khas.

Salah satu masakan oriental yang sudah tidak asing bagi penikmat kuliner adalah Soup Szechuan Seafood. Sup asam pedas dengan aneka seafood dan jamur ini sendiri sudah hadir di Waroenk Podjok, GF Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Oebobo, Kupang.

“Makanan yang berasal dari Tiongkok ini kami luncurkan bersamaan pembukaan Transmart Kupang pada 2 Maret 2018 lalu,” jelas Marketing Communication and Public Relation Waroenk Podjok, Yunita Kitu belum lama ini di Waroenk Podjok.

Menurutnya, jika bicara masakan oriental maka Soup Szechuan tidak dapat dipisahkan dari “trah” kuliner Asia.

“Soup Szechuan, apapun isinya baik berbahan seafood, daging sapi, maupun ayam, merupakan salah satu menu oriental terpopuler di dunia. Hal itu tidak terlepas dari bahan-bahannya yang sederhana dan mudah diperoleh, sehingga tidak sulit bagi pelaku kuliner untuk membuatnya,” papar wanita muda kelahiran 1996 ini.

Baca Juga :  Ini Nama Pengurus Bank NTT Hasil RUPS di Maumere

Soup Szechuan Seafood di Waroenk Podjok, sebut Yunita, dibanderol cukup terjangkau Rp 53 ribu. “Hanya Rp 53 ribu per porsi. Sangat terjangkau untuk menu ‘eksklusif’ yang biasanya dibanderol selangit di resto-resto oriental,” imbuhnya.

Yunita menambahkan, Soup Szechuan pihaknya bersaing dengan menu-menu oriental lainnya di Waroenk Podjok.

“Permintaan terhadap makanan ini cukup bagus. Kompetitif dan bersaing dengan menu oriental lainnya seperti Sapo Tahu Ayam/Seafood, Ayam Kungpao, Ayam Cantonese, bahkan dengan menu Nusantara yang laris di Waroenk Podjok seperti Rawon Daging,” bebernya.

Sekadar diketahui, masakan Soup Szechuan atau biasa disebut sup Sichuan adalah jenis masakan yang berasal dari Provinsi Szechuan, Tiongkok. Masakan ini dikenal dalam kuliner Tiongkok sebagai masakan yang banyak memiliki kombinasi rasa, seperti pedas, asam, asin, dan manis.

Bumbu penting dalam masakan ini antara lain cabai merah. Cabai merah sendiri baru diperkenalkan ke Tiongkok sekitar 200 tahun lalu. Soup Szechuan umumnya berasal dari kedua kota terbesar di daerah itu, Chengdu dan Chongqing.

Soup Szechuan telah terkenal sejak zaman Dinasti Han. Pada zaman Tiga Kerajaan (Samkok), masakan dari daerah ini dikenal dengan rasa manisnya. Pada zaman Dinasti Jin, tercatat rakyat daerah ini memasak makanan dengan bahan-bahan jahe, mustar, kucai, dan bawang, sehingga kemungkinan masakan mereka memiliki aroma dan rasa bumbu yang kuat.

Pada awalnya, Soup Szechuan belum mengenal rasa pedas. Sejak akhir abad ke-17 di zaman Dinasti Qing, ketika cabai merah dan bumbu rempah dari Amerika Selatan diperkenalkan ke Tiongkok, barulah bahan-bahan asing itu menambah cita rasa baru bagi masakan masyarakat di Szechuan.

Baca Juga :  Penerbangan di Bandara El Tari Kacau Akibat Cuaca Buruk

Sejak era Qing, sudah tercatat sebanyak 38 jenis metode memasak dalam kuliner Szechuan. Metode memasak yang populer antara lain ditumis, direbus kering, pao (rebus dalam air), dan hui (goreng dan rebus dengan saus pati jagung). Kondisi geografi juga memungkinkan metode mengawetkan makanan dengan cara fermentasi, mengasinkan, mengeringkan, dan mengasap.

Daerah Szechuan terkurung daratan sehingga masyarakatnya tidak menggunakan bahan-bahan dari laut untuk makanan.

Bahan-bahan yang dimanfaatkan adalah daging hewan ternak, unggas, udang,dan ikan air tawar. Sementara, bahan-bahan untuk menciptakan ragam cita rasa berasal dari saus, antara lain kecap asin, cuka, saus tauco, mustar pedas, dan garam.

Masyarakat di sana jarang menggunakan rasa tunggal, sebab kebanyakan menggabungkan dua jenis bumbu.
Dalam perkembangan selanjutnya, Soup Szechuan dibuat dari lima wewangian bumbu, antara lain adas, lada, jintan, kayu manis, dan cengkeh. Adapun cabai merah sebagai bumbu untuk variasi rasa, dipergunakan sejak akhir abad ke-17.

Uniknya, daerah Szechuan memiliki kelembapan tinggi dan sering hujan, sehingga cabai merah sebagai bahan masakan digunakan dalam banyak masakan panas seperti sup untuk menghangatkan tubuh, termasuk Soup Szechuan. (ira/*)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]