Home / Sabu Raijua / Tikar Pandan Yang Terkoyak Di Bumi Gajah Mada

Tikar Pandan Yang Terkoyak Di Bumi Gajah Mada

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Seba, seputar-ntt.com – Tikar pandan yang ada di Pulau Sabu dan Raijua atau di beberapa wilayah di NTT hanya bisa dibuat oleh orang Raijua, orang Sabu dari tempat lain tidak bisa menganyam tikar kehormatan bagi orang Sabu Raijua ini. Namun, seiring perjalanan waktu, tikar pandan yang menjadi tikar kebanggaan tersebut harus koyak di negeri sendiri, lantaran  menjamurnya kasur busa, karpet dan berbagai jenis tikar dari plastik yang lebih keren, bila dibanding dengan daun pandan yang telah dihaluskan sebelum dianyam menjadi sebuah tikar. Tulisan ini bermula saat Harian bisnis NTT, bertemu seorang penjual tikar pandan di terminal Kupang, Kelurahan LLBK pada (24/12) lalu. Namanya, Bora Raja, Warga Desa Kolorae Kecamatan Sabu Raijua. Dia harus menyeberangi ganasnya laut Sabu dengan memikiul tikar pandan hanya untuk mengais rejeki yang tak terlalu besar di Kota Kupang.  Dia berkisah tentang sulitnya menjual tikar pandan saat ini di Kota Kupang, tidak seperti yang diceritakan oleh para pendahulunya bahwa Kupang adalah tempat yang menjanjikan untuk bergadang tikar pandan.  Menurut Bora,  mencari daun pandan rupanya sudah menjadi pekerjaan yang sangat sulit saat ini di pulau Raijua. Tidak seperti dulu yang dengan gampangnya orang bisa mendapatkan daun pandan sebagai bahan baku untuk membuat tikar pandan atau peralatan lainnya seperti tempat menaruh barang, makanan atau tempat menaruh sirih pinang atau oko mama dalam bahasa dawan. Bagi pengrajin tikar pandan, mereka harus merogoh kocek  demi mendapatkan daun pandan sebagai bahan baku pembuatan tikar pandan. Padahal harga jualnya jika sudah menjadi sebuah tikar tidak terlalu mahal, karena memang sudah sedikit sekali orang Sabu Raijua mau menggunakan tikar buatan tangan sendiri dalam berbagai acara baik itu acara keluarga hingga acara akbar. Mereka lebih bangga jika duduk di atas karpet, tikar plastik bahkan berbaring di kasur busa. Jika demikian, sebegitu parahkah tikar pandan itu terkoyak dibuminya sendiri dan tanah yang dibanggakan sebagai tempat asal maha patih Gajah Mada yang kesohor pada jaman majapahit itu? Menurut Bora,  dirinya terpaksa tetap menajalani profesi turun temurun tersebut karena memang hanya itulah yang bisa dilakukan sambil menanti kondisi laut membaik untuk kembali berbudidaya rumput laut.”Kalau untuk hidup memang tidak bisa lagi, soalnya daun pandan saja kita harus beli. Untuk membuat satu tikar perlu waktu satu minggu padah kalau dijual harganya juga tidak mahal paling sekitar Rp. 50-70 ribu per lembar.  Intinya kita kerja supaya kita punya identitas ini jangan hilang karena memang kita orang Raijua dikenal karena tikar pandannya,”ujar Bora dalam bahasa sabu dialek Raijua yang khas. Untuk mendapatkan bahan baku, kata Bora,  maka masyarakat berusaha mencarinya di hutan  untuk dijual. Ada juga yang memang sengaja memelihara pohon pandan di pekerangan rumah kemudian daunnya di jual jika tidak punya waktu lagi untuk menganyam tikar. “Cuma yang dulunya ada kebun pandan sekarang mereka sudah tebas habis karena mereka sudah tidak lagi membuat tikar.  mereka lebih memilih untuk kerja rumput laut atau bagi anak anak muda lebih suka keluar pulau untuk merantau bahkan ada yang pergi TKW. Kalau dulu setiap muda-mudi harus bisa dan trampil mambuat tikar pandan, sekarang tidak lagi. Jari mereka sudah terlampau kaku untuk memegang dan menghaluskan daun pandan. Tangan mereka justru lebih lincah menari diatas tuts handphone. Mereka sudah lupa berdendang  sambil menganyam tikar pandan. Mereka lebih suka bercerita kilaunya rantauan sambil bergaya dengan pakaian moderen. celena umpan, celana kaki botol bahkan baju ketat ditas pusar. Tidak lagi memakai kain sarung dan kebaya. Di Raijua, ungkap Bora,  kita hanya akan bisa menemukan nuansa tradisionalnya pada warga yang berusia senja. Kalau demikian maka jangan heran jika tikar pandan itu akan semakin terkoyak dan hanya akan menjadi kisah dan dongeng pengantar tidur di hari esok. Lantas yang sipa punya tanggungjawab untuk tetap mempertahankan ini semua? orang Raijua? Tentu!! Semoga dengan semangat otonomi yang ada, tidak sampai menggerus dan mengubur setiap potensi, indetitas bahkan budaya leluhur yang telah mengurat akar dalam sejarah Sabu Raijua.(Joey Rihi Ga)

Baca Juga :  Resmikan Pabrik Rumput Laut, Gubernur Bilang Ini Masa Depan Sabu Raijua

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]