Home / Pendidikan / Suka Duka Gerakan Literasi Pembelajaran di Daerah 3T

Suka Duka Gerakan Literasi Pembelajaran di Daerah 3T

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

 

Waingapu, seputar-ntt.com – Berada di daerah yang terluar, terdepan dan tertinggal (3T) banyak sekali tantangannnya. Tak terkecuali dalam bidang pendidikan.

Sering sekolah belum teraliri listrik, letaknya jauh dari kampung penduduk, belum terkoneksi internet, dan jaringan telpon. Namun semua tantangan seperti itu tidak menyurutkan para guru yang berkiprah di daerah seperti ini untuk konsisten menerapkan pembelajaran modern yang menyenangkan, yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri siswa, mampu bekerja sama dalam tim, dan kritis. Model pembelajaran yang dikenal dengan nama pembelajaran aktif.

Seperti misalnya yang dilakukan oleh ibu Sarvina Mbali Rima yang sudah 13 tahun sejak tahun 2004 mengabdi sebagai guru honorer kelas satu di SD Kadahang, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Salah satu kabupaten terluar, terdepan dan juga dinilai tertinggal.

“Berkat penerapan pembelajaran aktif, kini anak-anak bertambah berani. Mereka berebutan untuk maju ke depan menjawab pertanyaan atau presentasi kecil-kecilan. Tidak seperti dahulu saat saya mengajar dengan metode kebanyakan ceramah. Mereka pemalu, takut-takut dan jarang berani yang maju,” ujarnya saat dihubungi telepon (16 September 2018)

Apalagi Ibu Sarvina juga menerapkan cara baru dalam mengajar anak-anak berbahasa ibu Bahasa Kapunduk tersebut. Satu jam pelajaran pertama menggunakan bahasa ibu dan ketika anak sudah paham dengan materi, baru pada jam kedua mengulangi kembali pelajaran dengan Bahasa Indonesia. Metode baru tersebut, menurut Sarvina, terbukti efektif membuat siswa menyerap pelajaran lebih baik.

Sementara itu, di Sumba Barat Daya, Heronima Gole Rere, guru kelas dua yang mengabdi sebagai honorer sejak di tahun 2011 di SDN Potogena, juga aktif menggunakan pendekatan pembelajaran aktif yang menyenangkan dalam menunjang kemampuan literasi anak.

Sekolahnya terletak di padang savanna yang jauh dari kampung sekitarnya. Gajinya yang kecil yang cuma 200 ribu sebulan tak pernah menyulutkan dirinya berkorban berangkat mengajar walau kadang harus berjalan dua kiloan untuk pergi ke sekolah.

Baca Juga :  Peringati Hardiknas di Amabi Oefeto, Camat dan Kepsek Tanam Pohon

Menurutnya, berkat pembelajaran aktif dia menjadi tahu memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Misalnya, bagaimana menjadikan binatang-binatang ternak seperti kambing dan babi yang sering menerabas masuk ke sekolahnya menjadi sumber belajar.

Awalnya kehadiran binatang-binatang tersebut dia rasa amat mengganggu. Tapi kini, memudahkannya mengajar anak-anak untuk mengenal kosa kata. Para siswa diajak untuk mengamati binatang-binatang tersebut sambil belajar menuliskan nama-namanya dan anggota tubuhnya. Dengan cara langsung bersentuhan dengan objek, para siswa ternyata lebih senang belajar dan dua kali lipat lebih cepat menguasai suku kata dan kata.

Ini adalah sekelumit contoh-contoh para guru di daerah terluar, terdepan dan tertinggal yang saat ini mulai mengenal cara mengajar menggunakan metode pembelajaran aktif berkat hadirnya program INOVASI di daerah tersebut. Program pendidikan kerjasama antara Kemendikbud, Kemenag, Pemerintah Australia dan pemerintah setempat yang telah dijalankan semenjak awal tahun 2018 ini telah banyak mengubah cara guru mengajar dan cara pandang guru terhadap profesi mereka.

“Kalau kemarin saya mengajar sesuai apa yang terdapat di pikiran saja. Tanpa persiapan, tanpa perencanaan. Bahkan saya sering menyalahkan anak kalau tidak bisa menjawab. Ternyata sumbernya saya sadari sekarang karena kesalahan guru yang kurang menguasai metode mengajar,’ ujar Heronima.

Mereka berdua juga tampil pada acara Diskusi Temu INOVASI yang digelar di Jakarta hari Kamis (13 September) yang lalu.

Butuh Dukungan Kebijakan Pemerintah

Agar pembelajaran aktif ini berjalan baik, maka dibutuhkan media pembelajaran sebagai media diskusi dan belajar. Ibu Servina tidak hanya mengandalkan buku paket yang diterbitkan Kemendikbud. Menggunakan media buatan sendiri yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai bisa lebih sesuai konteks daerah dan lebih mampu membuat siswa terlibat. “Kalau menggunakan buku paket terus menerus, pembelajarannya menjadi membosankan bagi siswa, tidak lagi menyenangkan. Jadi kita harus kreatif membuat media belajar sendiri,” ujar Sarvina

Baca Juga :  LPMP NTT Kawal 8 Standar Pendidikan

Menurut Sarvina, karena harus sering harus menggunakan media pembelajaran, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan. “Efek model pembelajaran ini sangat kentara. Namun model ini juga butuh lebih banyak pendanaan terutama untuk membuat alat peraga, media pembelajaran dan hasil karya siswa,” ujarnya.

Sebenarnya ia sering membuat sendiri dari bahan-bahan bekas seperti kardus dan sebagainya, namun sering kali tetap butuh alat tulis menulis seperti spidol, kertas plano, kertas post it dan lain-lain.

Yohanna Lingu Lango Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumba Barat Daya sangat mendukung realokasi dana APBD untuk pembelajaran yang menurutnya saat ini lebih banyak digunakan untuk manajemen

Ia juga sangat mendukung program INOVASI ini didiseminasi ke sekolah-sekolah lain. ““Model ini telah memberikan harapan pada kami, bahwa ketertinggalan, kemiskinan dan keterbatasan yang kerap menjadi isu besar di daerah ini, bukan penghalang bagi guru-guru untuk memunculkan ide-ide kreatifnya dalam mengajar di sekolah. Kami akan mendiseminasikan ke 333 guru SD lainnya dengan memakai dana APBD,” jelas Yohanna

Umbu Lili Pekuwali, Bupati Sumba Timur, menyatakan bahwa saat ini FPPS (Forum Perduli Pendidikan Sumba) tengah menyiapkan rapat Steering Committee program INOVASI yang rencananya dilaksanakan di Waingapu, 20 September mendatang. Dikegiatan tersebut, Umbu Lili akan meminta dukungan dari seluruh pemangku kepentingan se daratan Sumba agar program INOVASI terus berlanjut di Sumba.

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]