Home / Rumpu-Rampe / Merah Putih Yang Lusuh Di Selatan Indonesia

Merah Putih Yang Lusuh Di Selatan Indonesia

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Share Button

Bangsa Indonesia telah merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan yang ke 68 tahun. Namun diusianya yang telah melewati setengah abad ini, masih banyak wilayah di NTT seperti belum merasakan manfaat dari kemerdekaan itu sendiri. Berbagai aspek kehidupan yang bila dibandingkan dengan wilayah lain di bumi indonesia sepertinya jauh langit dan bumi. Kita tidak bisa pungkiri bahwa Merah putih masih lusuh walau tetap berkibar di berbagai pelosok diselatan Indonesia dan NTT lebih khususnya. kemiskinan yang telah akut ditambah kesenjangan pembangunan yang kian melebar antara wilayah kota dengan pedesaan telah membuat pertanyaan besar dari meraka yang marjinal di pelosok tentang cita-cita The founding Father saat mendirikan bangsa ini. Untuk membuktikan bahwa merah putih sudah lusuh di selatan Indonesia maka Koran ini memulai dari Kabupaten Sabu Raijua. Entah harus menyebutnya pulau terluar  atau pulau terdepan dari indonesia, tapi memang kenyataannya Kabupaten Sabu Raijua berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, tidak ada pulau lagi didepannya. Begitu jauhnya masyarakat disana dari sumbu Ibukota  membuat kehidupan masyarakat disana seakan tidak pernah berubah dari waktu ke waktu dalam berbagai aspek kehidupan. Mereka akhirnya harus hidup dan tetap hidup hanya untuk menghabiskan sisa waktu yang diberi yang kuasa. “Usia bangsa Indoensia sama dengan usia saya saat ini, tapi apa yang saya alami selama hidup, Daerah ini seperti tidak pernah berubah wujud,”kata Rihi Huki Miha, salah satu warga Desa Bodae, Kecamatan Sabu Timur,Kabupaten Sabu Raijua. Lalu bagaimana dengan para penerus bangsa yang ditakdrikan untuk dilahirkan di bumi sejuta lontar itu? Berjalan kaki bagi anak sekolahan di Sabu Raijua adalah olahraga yang harus dilakoni sepanjang pagi dan siang. Jarak tempuhnya berkilo-kilo meter tapi mereka tetap tegar hanya untuk menimba ilmu dan mengusir kebodohan demi masa depan dihari kelak. Walaupun dipaksa harus berjalan begitu jauh dari rumah ke sekolah tapi mereka tak pernah terlambat, sebab disana tidak ada kemacetan, yang diperlukan hanya energi. Kalau melihat ciri fisik, mereka anak sekolah di Sabu Raijua gampang sekali. Tinggal melihat betisnya yang besar dan mukanya yang hitam pekat berarti dia adalah pelajar. bukan petani. Mereka yang telah lulus ujian jalan kaki hingga akhirnya berhasil lulus sekolah, kini sudah banyak sekali yang menjadi orang-orang sukses. Anehnya disana, walaupun harus masuk kelas jam tujuh pagi, tapi tidak ada murid yang terlambat, walaupun mereka berada ditempat paling jauh dari sekolahnya. Mereka jago dalam mengatur waktu. Untuk bangun pagi, mereka tak perlu jam weker seperti anak kota. Weker mereka adalah suara kokok ayam dan kicauan burung. Mereka harus cepat bangun dan berlari menuju kali untuk mandi, lalu tanpa sarapan pagi sudah harus bekerka keras dengan mengukur panjangnya jalan menuju sekolah. Bayangkan mereka pergi sekolah tanpa sarapan, tapi tetap skuat untuk berjalan pulang dengan sengatan matahari yang mengganas di pulau gersang tersebut. Yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang adalah kalau mau sekolah maka harus siapkan kaki yang kuat untuk berjalan. belum lagi jumlah sekolah di Sabu Raijua belum merata. “Kita tidak mau ketinggalan dalam dunia pendidikan walapun harus bertarung dengan keadaan yang serba sulit,”ujar Markus Miha, salah satu siswa SMPN I Sabu Timur. Walaupun dunia pendidikan sudah terbilang maju, tapi di Sabu Raijua masih belum bergeming dari area keterbatasan. salah satunya buku cetak atau buku mata pelajaran yang harusnya dimiliki sorang anak sekolah tidak pernah menjadi milik mereka. Imbasnya mereka harus menulis hingga tangan kelelahan. Semua mata pelajaran wajib dicatat dan para guru harus rajin mendikte. Buku cetak adalah barang mahal bagi mereka. Padahal itu adalah kebutuhan yang mesti dimiliki oleh anak-anak sekolah. Mencatat setiap pelajaran yang diberikan oleh guru dengan cara mendikte dari muka kelas adalah pekerjaan sehari-hari bagi anak sekolah. jangan bilang untuk foto copy buku cetak kepunyaan guru, sebab selain tak memilki uang,fasilitas seperti Foto Copy juga adalah barang langka disana. Apalagi perangkat modern seperti Komputer yang seharsunya dimiliki oleh sebuah sekolah, masih jauh panggang dari api. Mereka hanya tau teori pelajaran Teknik Informasi Komputer (TIK) tapi bagaimana prakteknya, belum pernah mereka coba. Internet atau dunia maya, saat ini sudah menjadi kebutuhan setiap orang. Mulai dari siswa, guru hingga orang kerja. Namun kisah tentang internet, hanyalah dongeng belaka bagi mereka yang ditakdirkan hidup dipulau terluar diwilayah NKRI.  Jauh dari sarana komunikasi membuat mereka hidup seperti katak dalam tempurung. “Kita hanya bisa ajarkan teori saja kalau plajaran TIK karna disini tidak ada computer,”kata Mariana Upa, salah satu guru di SMPN I Sabu Timur. Memang ada bantuan Mobil internet dari Pemerintah Pusat bagi Kabupaten Sabu Raijua lewat Dinas perhubungan Dan kominfo sebanyak enam unit, tapi itupun tidak bekerja secara maksimal dalam melayani masyarakat, karna terbatasnya SDM. ketika Kabupaten Sabu Raijua diresmikan Oleh Menteri dalam negeri di Jakarta pada tanggal 26 Mei 2009 silam, salah satu harapan masyarakat Sabu Raijua adalah sarana jalan akan berubah. Mereka bermimpi tidak akan lagi berjibaku dengan jalan yang berlubang karena aspal jenis lapen yang telah digerus usia. Kerikilnya sudah lepas dan jalannya sudah berlubang, melewati jalan-jalan dikabupaten Sabu Raijua membuat perasahan haru biru.  Impian masyarakat Sabu Raijua untuk segera menimati jalan licin sempat terkabul, ketika ada Dana dari APBN tahun 2011 silam untuk mengerjakan jalan trans Seba-Bolou yang merupakan jalan strategis nasional dengan Hot Mix. Tapi sayang, jalan yang memiliki panjang cuma dua kilometer itu harus buntu karena tidak ada kelanjutan lagi pembangunannya. Ini hanya dua contoh dari Kabupaten Sabu Raijua bahwa di usia Negara Republik Indonesia yang ke 68, masih banyak yang belum menimati hasil dari kemerdekaan itu sendiri. (Joey)

Komentar Anda?

Baca Juga :  Dinas PU SaRai Diduga Kong Kalikong Dengan Kontraktor

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]