Home / Seputar NTT / Kunjungi Desa Laob di Polen dan Desa Tainiotob di Numbena, Ini Harapan Warga Kepada Viktor Laiskodat

Kunjungi Desa Laob di Polen dan Desa Tainiotob di Numbena, Ini Harapan Warga Kepada Viktor Laiskodat

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Soe, seputar-ntt.com – Kunjungan Calon Gubernur nomor urut 4, Viktor bungtilu Laiskodat kewilayah terisolir di Kabupaten TTS pada Minggu, (3/6/2018) benar-benar memberi harapan baru bagi warga. Bagimana tidak, dua desa yang dikunjungi yakni desa Laob di Kecamatan Polen dan Desa Taniotob di Kecamatan Numbena berada dalam jarak yang cukup jauh dengan kondisi jalan yang memprihatinkan. Lantas apa saja harapan warga kepada Viktor Laiskodat? Ikuti tulisan berikut ini.

Kontestasi Pilgub Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tinggal menghitung hari lagi digelar benar-benar digunakan secara maksimal oleh Calon Gubernur NTT nomor urut 4, Viktor Bungtilu Laiskodat. Bagi Viktor Laiskodat, masa kampenye tidak sekedar berjalan mencari suara tapi juga kesempatan emas untuk memotret kehidupan nyata warga NTT, terutama mereka yang hidup di daerah-daerah terisolir. Jika pada tanggal 27Juni 2018 nanti kedaulatan rakyat jatuh kepada dirinya untuk memimpin NTT maka dia sudah memiliki gambaran yang utuh dan nyata tentang setiap kesulitan dan pergumulan warga serta potensi lokal apa yang saja yang bisa dikembangkan untuk menunjang kesejahteraan rakyat.

Ketika orang lain sedang memilih istrahat di hari minggu, 3 Juni 2018, Viktor Laiskodat tak mampu menahan rindu untuk bertemu dan bercakap dengan warga. Ia menggelar blusukan ke beberapa wilayah terisolir di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Daerah pertama yang menjadi tujuan blusukan yakni Desa Laob di Kecamatan, Polen. Desa yang jauh dari Kota tersebut rupanya menyimpan potensi yang luar biasa. Salah satu hasil pertanian yang saban hari keluar untuk memenuhi kehidupan masyarakat di Kapan, Soe hingga Kupang adalah Cabai. Namun untuk tiba di Laob, harus berjibaku dengan kondisi jalan yang begitu rusak seperti tak pernah tersentuh pembangunan. Bayangkan, untuk menuju kota Kabupaten di Soe, wara setempat harus merogoh kocek 150 ribu rupiah untuk biaya ojek. Tapi jika musim hujan, harganya bisa berkali lipat.

Kehadiran Viktor Laikodat di Desa Laob, benar-benar memberi semangat dan harapan baru bagi warga setempat. Bagimana tidak, selama ini belum ada pejabat yang mampir untuk melihat kehidupan mereka yang berada diwilayah yang sulit tersebut, padahal mereka membutuhkan sentuhan pembangunan. Sebagai masyarakat yang hidup diwilayah perbatasan dengan Kabupaten Timor Tengah Utara, mereka hanya bisa mengelus dada dan terus menjalani kehidupan seadaya. Toh mau mengeluh juga, tak ada yang menaruh perhatian terhadap tiap jeritan hati mereka. Selama ini mereka hanya mendengar nama Viktor Bungtilu Laikodat dari berita dan cerita orang, sehingga ketika dia datang mereka bersukacita luar biasa.

“Hari ini kami sangat bersukacita karena pak Viktor benar-benar memenuhi janjinya untuk datang ke Desa Laob. Selama ini kami hanya mendengar tentang bapak Viktor dari cerita orang dan dan hari ini warga disini bisa bertemu muka. Jujur kami mau katakan bahwa kami sudah sepakat untuk tidak memilih lagi baik Pilkada maupun Pemilu legislatif sebab kami merasa itu tidak ada gunanya. Kami memilih, tapi suara kami tidak pernah didengar oleh mereka yang sudah kami pilih baik sebagai kepala daerah maupun sebagai wakil rakyat. Kehadiran pak Viktor saat ini mengubah pemikiran kami dan kami berjanji tidak akan Golput lagi. Pak Viktor sudah sampai disini dan kami pastikan tanggal 7 Juni nanti semua akan bersama-sama dengan pak Viktor,” kata Simon Djami, tokoh masyarakat berdarah Sabu yang telah beranak pinak di Desa Laob.

Kepada Viktor Laiskodat, Simon Djami mengungkapkan bahwa ada puluhan hektar lahan cabai yang dioleh oleh masyarakat untuk memenuhi biaya hidup. Hasil dari pertanian cabai tersebut dibawa ke Kapan, Soe dan Kupang. Sayangnya keuntungan tidak  banyak karena biaya angkut cukup mahal karena kondisi jalan yang benar-benar memprihatinkan. Bukan hanya soal jalan yang dikeluhkan tapi juga listrik. Yang paling miris adalah, wilayah mereka tidak dijangkau oleh jaringan telepon selular sehingga sempurnalah penderitaan mereka. Untuk itu, mewakili masyarakat desa Laob dan desa sekitarnya, Simon Djami menitip harap kepada Viktor Laiskodat supaya saat memimpin NTT, harus mengingat masyarakat di Desa Laob dan sekitarnya yang hidup dalam berbagai keterbatasan infrastruktur.

Baca Juga :  Kondisi Jalan Nangaba-Kekajodho, Warga Minta Pemerintah Tidak Tutup Mata

“Masyarakat disini rajin sekali bapak untuk bertani, tapi sekali lagi kami terkendala dengan peralatan pertanian untuk mengolah lahan yang lebih besar. Kami punya potensi air yang ada disini tapi kami butuh alat bagimana air itu dibawa turun dari atas gunung untuk memenuhi kehidupan warga dan juga pertanian. Karena itu kehadiran bapak disini benar-benar menjadi berkat bagi kami yang sudah kehilangan harapan dan bersepakat untuk tidak lagi memilih. Kami berdoa bapak yang akan memimpin NTT dan jangan pernah lupa kami karena sudah menginjakkan kaki diwilayah kami,” ungkap pria berdarah Sabu-Timor ini.

Sementara Viktor Laikodat pada kesempatan tersebut kepada masyarakat mengatakan, dirinya tidak datang untuk kampanye tapi datang memenuhi janji melihat wilayah terpencil yang ada di TTS. Pemimpin kata Viktor hanya akan mampu merancang sebuah program yang benar-benar menjawab kehidupan masyarakat setempat apabila memiliki rekam dan potret nyata dengan turun langsung kelapangan. Karena itulah, ketika semua orang mengatakan bahwa jalan menuju Laob sangat sulit, tidak mengendorkan rasa rindu Viktor Laiskodat untuk bertemu warga setempat. Walaupun harus menghabiskan waktu berjam-jam dengan kondisi jalan yang sulit, Viktor Laiskodat tidak mengeluh bahkan dia tertawa lebar saat bertemu warga setempat.

“Saya bahagia sekali bisa berada dengan bapak ibu ditempat ini. Bagi saya rakyat itu adalah harta yang tak ternilai sehingga dimanapun mereka berada dia harus memastikan keadan hidup mereka dengan cara mendatangi rumah mereka. Saya datang ke NTT karena niat saya untuk mengabdi dan ini adalah panggilan Ilahi untuk saya berbuat bagi daerah ini. Saya ingin mempergunakan semua potensi yang ada pada diri saya untuk NTT. Saya sudah ajak semua anak NTT yang berpotensi diluar untuk bersama-sama  kita pulang dan mengabdi di NTT. Kita tidak bisa kerja sendiri dan oleh karena itu saya mengajak semua bapak ibu untuk kita bersama-sama membangun daerah ini menuju sebuah kebangkitan,” kata Viktor.

Viktor Laiskodat mengajak masyarakat untuk bersama-sama dalam melakukan gerakan kebangkitan NTT menuju sejahtera. Seorang gubernur tidak akan mampu menjalankan programnya dengan baik tanpa dukungan yang kuat dari masyarakat demikuan juga mimpi dan cita-cita seorang pemimpin akan terkubur begitu saja jika masyarakat yang dipimpin hanya berdiam diri. Roh kebangkitan kata Viktor Laiskodat harus berkobar dalam setiap sanubari anak Flobamorata.

“Karena itu maka kita akan merubah cara pikir kita dalam membangun NTT dengan segala macam potensinya. Kita siapkan pondasi pembangunan untuk generasi berikut. Mereka akan menikmati pendidikan yang baik infrastruktur yang baik maka disitulah kebangkitan NTT akan terjadi. Jangan karena kita sudah begitu lama berada dalam kemiskinan lalu kita menikmati kemiskinan itu dengan rasa bangga,” tegas Viktor.

Pada kesempatan tersebut, Viktor berjanji akan memenuhi permintaan warga untuk memenuhi kebutuhan pertanian mereka. “Saya minta supaya apa yang sudah disampikan oleh pak Simon tadi dicacat. Saya sangat suka dengan masyarakat yang rajin kerja dan bersemangat dan saya pasti aka nada dengan mereka. Saya janji apa yang menjadi pengeluhan bisa dijawab nanti baik oleh Provinsi maupun Kabupaten. Saya sudah sampai disini dan melihat secara langsung kehidupan warga disini. Karena itu doakan saya supaya kita bisa bersama-sama membangun daerah ini,” tutup Viktor.

Dari desa Laob di Kecamatan Polen, kami harus menuju Desa Desa Taniotob di Kecamatan Nunbena. Wilayah itu berbatasan dengan Kabupaten Kupang. Rupanya jalan menuju Taniotob membutuhkan perjuangan berat, tidak hanya menahan rasa lelah diombang-ambing kondisi jalan tapi juga harus menahan rasa nyeri tulang belakang yang setiap saat bergerak tak henti. Dari Desa Laob, rombongan berangkat pukul 12:40, tapi baru tiba di DesaTaniotob pada pukul 19:20. Menuju desa Taniotob, harus melewati beberapa kali besar. Sebut saja kali Noebesi yang jika dibuat jembatan bisa 20 kali panjang jembatan Liliba.

Walaupun perjalanan ke Taniotob cukup sulit dan melelahkan tapi sambutan masyarakat disepanjang jalan yang dilewati sungguh luar biasa. Mungkin mereka melihat rombongan mobil yang melewati kampung halaman mereka, memantik rasa ingin tahu dengan cara berdiri di jalan. Mereka malu melihat siapa gerangan yang ada dalam rombongan yang dipimpin oleh mobil dengan bunyi “biu-biu” tersebut. Ketika mereka melihat bahwa yang turun adalah Viktor Laiskodat, Calon Gubenrnur NTT nomor urut 4, mereka langsung berjabatan tangan dan berciuman. Bagi yang belum mengenal Viktor Laiskodat, mereka dengan jujur mengatakan rasa hati bahwa baru pernah melihat wajah pemimpin mereka. Perjalanan yang sering berhenti untuk jabatan tangan dengan warga di jalan itulah yang sedikit membuat perjalan agak lama ke Taniotob.

Baca Juga :  Laiskodat dan Nae Soi Kunjungi Situs Bung Karno

Tiba di Desa Nefokoko, rombongan dicegat oleh warga. Rupanya ada yang tahu kalau dalam kendaraan yang melintas itu ada Calon Gubernur NTT, Viktor Laikodat. Warga meminta supaya Viktor harus singgah di sebuah rumah dengan tenda besar didepannya. Rupanya tenda orang nikah. Setelah bertanya rupanya yang menikah adalah kepala desa terpilih Nefokoko. Disana ada usif Oematan yang mempersilahkan Viktor dan Rombongan untuk berhenti sejenak. “Ini adalah berkat bagi kami dan juga pengantin sehingga hari ini setelah mereka diberkati di geraja ada Calon Gubernur yang lewat, ada Wakil Bupati yang juga calon Bupati TTS serta Ketua DPRD TTS. Tidak ada warga disini yang nikah lalu mendapat selamat dari orang besar. Kami mohon maaf karena tadi terpaksa kami cegat dijalan. Kami sudah melihat calon pemimpin kami dan tentu doa kami ada bersamanya,” kata Usif Oematan.

Setelah rombongan dipersilahkan makan karena katanya daerah yang akan dituju masih jauh, maka iringingan kendaraan kemudian berangkat dari Nefokoko. Dimana ada perumahan disitu pasti ada kumpulan warga yang menanti kendaraan yang lewat dan disitupula Viktor Laiskodat akan turun untuk berjabat tangan dan bercakap walau cuma satu-dua menit. Sepanjang jalan dari Laob menuju Taniotob, praktis tak ada lagi jaringan internet bahkan penunjuk sinyak jaringan di telepon selular juga kosong dan hanya ada tanda X. itu artinya jalur yang ditempuh benar-benar berada diluar jangkauan selular. Setelah berkendara kurang lebih 7 jam dari Laob, akhirnya Viktor Laiskodat tiba di Desa Taniotob, Kecamatan Nunbena tepat pukul 19:20 Wita.

Disitu warga sudah menanti. Sama seperti di Laob warga mengeluhkan hal yang sama kepada Viktor Laikodat. Mesak Anin, tokoh masyarakat setempat kepada Viktor Laiskodat mengungkapkan bahwa banyak anak yang tidak lanjut pendidikan ke tingkat SMA karena jauh dan harus melintasi kali yang lebar sehingga saat musim hujan tidak bisa dilewati. Demikian juga dengan puskesmas yang cukup jauh dan diperparah dengan tidak tersedianya jaringan selular sehingga warga setempat benar-benar terisolir. Untuk menuju Takari Kabupaten Kupang saja, mereka harus menghabiskan waktu 6 jam. Begitu pula kalau ingin ke Soe ibukota TTS mereka harus menghabiskan waktu 6 jam.

“Kami seperti mimpi ketika kami diberitahu bahwa calon Gubernur pak Viktor Laiskodat mau datang ke desa kami sebab belum pernah ada pejabat dari provinsi yang sampai ditempat ini. Kami harap setelah bapak jadi Gubernur, bapak bisa bantu kami dengan sekolah, puskesmas dan juga jaringan selular. Jujur kami mau sampaikan kepada pak Viktor bahwa kami sudah bersatu hati untuk mendukung bapak setelah kami dengar bapak mau kesini. Terimakasih sudah datang menjenguk kami diwilayah terpencil ini,” ungkap Mesak Anin.

Sama seperti di Desa Laob, Viktor Laiskodat menyampaikan tujuannya kenapa harus sampai di desa Taniotob. Dia juga memberi motivasi dan mengajak masyarakat ntuk bekerja keras dan siap membantu pemerintah kedepan lewat berbagai program yang akan dilaksanakan nanti. Pada kesempatan tersebut, Viktor Laiskodat langsung meminta dua orang anak dari desa Taniotob yang sudah lulus SMA untuk dikuliahkan menjadi Bidan dan Perawat. “Saat ini saya minta satu orang cewek dan satu cowok untuk saya kasih kulaih jadi bidang dan perawat. Mereka harus janji setelah kuliah mereka akan kembali mengabdi di desa Taniotob,” kata Viktor.

Setelah bertemu warga Taniotob, rombongan kembali ke Kupang. Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam, rombongan tiba di kupang pada pukul 1:27 dini hari. Sebuah perjalanan yang tidak hanya membuat punggung nyeri tapi juga meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. (joey rihi ga)

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]