Home / Editorial / Kristo Blasin Datang Tanpa Masa, Ray Fernandes Show Of Force

Kristo Blasin Datang Tanpa Masa, Ray Fernandes Show Of Force

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Kupang, seputar-ntt.com – Ada yang menarik di hari pertama pendaftaran bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT di DPD PDIP NTT pada Kamis 4 Mei 2017. Dua kader partai berlambang banteng moncong putih mendaftar sebagai kandidat untuk meraih singgasana di gedung Sasando. Mereka adalah Kristo Blasin dan Ray Fernandes. Cara mereka memberi nuansa saat pendaftaran begitu berbeda, bak langit dan bumi. Jika Ray Fernandes melakukan show of force, Kristo Blasin memilih datang dalam senyap, tanpa masa dan hura-hura. Saat mendaftar, Kristo Blasin datang hanya mengenakan baju Partai. Dia ingin mengatakan dia Kader Tulen. Sedangkan Ray Fernandes dalam dalam busana kebesaran orang Timor. Dia mungkin ingin menunjukkan diri sebagai orang Timor sekalipun berdarah Flores.

Sekalipun datang tanpa masa, Kristo Blasin adalah orang pertama yang mendaftar di PDIP. Mungkin saja Kristo ingin memberi isyarat bahwa dia lebih senior di PDIP. Selain itu dia juga ingin menunjukkan bahwa kemenangan dalam sebuah pertarungan bukan karna banyaknya masa saat mendaftar. Dia rupanya telah belajar dari Pilkada Kota Kupang, dimana kandidat yang dengan bersorak-sorai dan jumlah masa yang membludak, toh pada akhirnya harus pulang dengan kepala tertunduk. Dia juga ingin mengatakan bahwa jika silent majority bergerak maka singgasana bisa digenggam, sebab jika kalah dalam kesombongan, sakitnya menikam dada sebelah kiri. Kehadiran Kristo Balsin dalam kancah Pilgub NTT memang tidak diperhitungkan oleh sesama Kader partai, tapi gerakan dalam senyap yang dibuat Kristo Blasin membuat lawan sulit menebak tendangan tanpa bayangannya saat bertarung di medan laga nanti.

Baca Juga :  OPINI : Partai Politik dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa

Beda dengan Ray Fernandes, sebagai bupati dua periode, dia ingin menunjukkan kelasnya bisa menghadirkan ribuan masa yang sebagian besar berasal dari luar Kupang. Mungkin ini strategi untuk memukul dan menggertak lawan, namun bisa jadi orang menilai ini sebuah kepongahan. Sebab mendatangkan orang dalam jumlah yang banyak tentu berkorelasi dengan dana yang dikeluarkan. Dan untuk kelas bupati dua periode itu bukan hal sulit. Berbagai tarian dari beberapa kabupaten dan etnis di NTT menyambut Ray Fernandes bak pahlawan yang menang perang. Sapaan adat yang menyambutnya di pintu pagar hingga sambutan pasukan berdukda adalah drama di babak awal untuk mendapat legitimasi dan pintu partai. Bahwa semua pertunjukan pada akhirnya apakah akan mendapat tepuk tangan, waktunya masih terlampau jauh. sebab Pilgub baru dilakukan pertengahan tahun 2018.

Infromasi yang diperoleh bahwa sebenarnya, sudah ada kesepakatan bahwa Kristo Blasin akan mendaftar pada hari kedua, namun rencana itu berubah dalam seketika. Kristo ingin mendaftar sebagai orang pertama. Secara politis ini syarat makna. Sebab dalam dunia yang penuh intrik ini, semua hal sah-sah saja selagi tidak menabrak aturan hukum maupun aturan organisasi. Melihat Kristo sebagai pendaftar pertama, mungkin bagi pendukung Ray bukan masalah, toh dia hadir tanpa masa, sementara pendukung Kristo bisa saja menilai, biar hadir tanpa masa toh dia telah menjadi anak sulung dalam buku tanda daftar kandidat di DPD PDIP NTT. Yang menentukan siapa nanti yang akan keluar lewat pintu PDIP bukan berdasarkan jumlah masa yang mengantar saat mendaftar, atau siapa yang pertama kali mendaftar. Semua masih misteri, siapa pemegang tiket dari pintu Partai pimpinan Megawati Soekarno Putri itu.

Baca Juga :  Pilkada NTT 2018: Antara Kapitan Perahu VS Pemimpin Daur Ulang

Apa yang diulas diatas, hanyalah kejadian pada hari pertama pendaftaran dari dua kandidat. Masih ada banyak kandidat yang juga akan mendaftar ke PDIP. Tentu saja-kejutan-kejutan akan terjadi lagi. Semua orang juga tahu bahwa berpolitik tanpa kejutan seperti sayur tanpa garam, Coba tengok Pilkada DKI Jakarta, sipa sangka Ahok akan tumbang, atau yang laing dekat adalah Pilkada Kota siapa duga Petahana akan tersungkur ditengah efouria para pendukung yang katanya meluber atau dalam bahasa Kupang, “Tapo’a”. Semua harus tunduk pada kenyataan di akhir laga. Tarian dan nyanyian diawal pertempuran bukan penentu dalam mencapai puncak kemenangan. Jika para politisi tidak belajar pada  pengalaman maka kekalahan sudah didepan mata. (joey rihi ga)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]