Home / News Flash / KotaKupang Tidak Boleh Jadi Tempat Produksi Narkoba

KotaKupang Tidak Boleh Jadi Tempat Produksi Narkoba

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Kupang, seputar-ntt.com – Wakil wali kota Kupang Hermanus Man menegaskan Kota Kupang tidak boleh menjadi tempat produksi obat – obatan terlarang atau Narkoba. Penegasan ini disampaikan Herman pada acara pembukaan Kegiatan Sosialisasi Narkoba bagi para camat Kapolsek, Danramil, Lurah, dan pejabat terkait di Kota Kupang, Senin (29/1/2018) di Restoran Celebes Kupang.

Wakil Wali kota Herman mengatakan bahwa bahaya penyalahgunaan Narkoba telah menjadi isu nasional. Juga bahaya HIV AIDS dan penyakit menular TBC. Pemerintah kota Kupang dan seluruh jajaran tidak boleh tinggal diam. Kota Kupang satu mata rantai untuk memutus peredaran Narkoba baik langsung maupun tidak langsung.

Di mana berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Jalur transportasi sudah terbuka lebar. Penerbangan langsung dari Kupang – Dili Timor Leste dan dimungkinkan penerbangan Kupang – Darwin Australia.

“Saya perintahkan lurah, camat. kita semua punya komitmen yang sama. Narkoba di kota Kupang tidak boleh jadi tempat produksi. Apapun kita harus berjuang,”katanya Herman di hadapan para lurah dan camat sekota Kupang.

Ditambahkannya, sudah ada peredaran gelap dan ada bukti penyalahgunaan di kota Kupang. Selain itu, ada faktor – faktor mempermudah orang mengkonsumsi Narkoba, yaitu minum – minuman keras (miras). Untuk itu, pemerintah harus melakukan pencegahan dan pemberantasan.

Baca Juga :  Lantik Badan Pengurus, Walikota Sebut TP PKK dan Dekranasda Mitra Pemerintah

“Pemerintah akan melakukan uji urine bagi seluruh aparat di lingkup pemerintah kota. Peranan pemkot adalah sosialisasi. Kita masuk kepada kelompok – kelompok yang rawan. Yang penting intensifikasi dalam sosialisasi,”tambahnya.

Dia berharap para lurah dan camat untuk membantu memberikan sosialisasi akan bahaya Narkoba kepada masyarakat. Mengamati ciri – ciri pengguna Narkoba untuk dilaporkan kepada BNN. Kata Herman, ciri – ciri seorang terkena Narkoba adalah ada perubahan gaya hidup, mulai menyendiri dan cenderung mengurung diri dalam kamar.

“Saya ingin dengan BNN melakukan koordinasi secara teratur, mungkin setiap 3 bulan. Update tindakan, langkah – langkah yang sudah dibuat. Pemantauan, pengamatan. Mengenal pemakai. Narkoba itu menyerang otak kecil sehingga jalannya sempoyongan, seperti mau jatuh. Saya harap para lurah mengamati gaya – gaya anak muda seperti ini,”ujarnya.

Baca Juga :  Wagub NTT Segera Diperiksa Kejari So’e Terkait Dana Bansos TTS

Kepala BNN NTT Muhammad Nur, mengatakan bahwa peredaran narkoba saat ini sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Belum lama ini, pil PCC dari Cina sebanyak 9 kontainer atau sekitar 150 ton ditangkap di Timor Leste, dan akan diedarkan di Indonesia.

Dikatakannya, bahwa saat ini penyalahgunaan Narkoba menyasar anak usia dini dari usia 10 tahun hingga 50 tahun. Munculnya Narkoba jenis dan modus penyelundupkan yang semakin canggih. Untuk itu, para pemangku kepentingan untuk saling bekerja erat sesuai dengan tugas dan peran masing – masing memutus peredaran Narkoba.

“Kabupaten kota di seluruh NTT tidak ada yang bebas dari HIV AIDS, penunjangnya adalah narkoba. Kita berharap melalui sosialisasi ini, kita bersinergis untuk menjaga generasi muda dari bahaya penyalahgunaan Narkoba agar tercipta masyarakat yang bersih dan bebas Narkoba,”kata Nur.

Dia berharap pemerintah kota Kupang perlu membuat regulasi yang mengikat fi tingkat pemerintah kota, berupa perda dan instruksi wali kota Kupang. Efeknya adalah adanya penganggaran untuk deteksi dini berupa test urine. (Pelipus Libu Heo)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]