Home / Sabu Raijua / Kampanye di Bolua, Paket TRP-Hegi Bicara Soal Potensi Kemaritiman

Kampanye di Bolua, Paket TRP-Hegi Bicara Soal Potensi Kemaritiman

Paket TRP - Hegi saat Kampanye di desa Bolua, Kecamatan Raijua, Senin (28/9/2020)

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Share Button

Seba, seputar-ntt.com – Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sabu Raijua dengan nomer urut 3 Takem Irianto Radja Pono dan Herman Hegi Radja Haba melakukan kampanye di Desa Bolua, Kecamatan Raijua, Pulau Raijua pada, Minggu, (27/9/2020). Disana Calon Bupati Takem Radja Pono berbicara tentang pontesi kemaritiman di wilayah Kabupaten Sabu Raijua.

Takem mengatakan, Pulau Sabu dan Raijua, adalah dua pulau yang dikelilingi oleh laut. Sendirian di tengah samudera hindia tanpa ada tetangga terdekat sehinga Sabu Raijua harus mampu survive ditengah berbagai kesulitan. Namun walaupun demikian kata Takem Radja Pono, laut memiliki kekayaan yang bisa memberi kesejahteraan bagi masyarakat bila di kelola secara baik dan menggunakan sentuhan-sentuhan teknologi.

“Orang pintar menyebut Sabu Raijua sebagai wilayah kemaritiman. Daratan kita kecil tapi laut kita luas. Dulu orang Sabu Raijua begitu bangga dengan laut Sabu yang ganas. Siapapun yang melewatinya pasti oleng dan kita bangga dengan itu. Kita hanya sekedar bangga saja. Kita tidak pernah menikmati hasil dari laut kita. Yang menikmati hasil laut kita adalah orang-orang dari luar Sabu yang telah memiliki peralatan dan teknologi yang tidak kita punyai,” kata Takem.

Takem Radja Pono mengatakan, setiap ada angin barat maupun angin timur yang keras, tiba-tiba saja kapal-kapal penangkap ikan menepi untuk bersembunyi dari angin baik menepi di Sabu Timur, Sabu Barat maupun di Raijua. Hal itu menandakan bahwa mereka tidak jauh dan sedang mengeruk hasil laut di wilayah Sabu Raijua tapi tidak diketahui dan disadari oleh masyarakat setempat.

“Laut yang begini kaya raya tidak dinikmati oleh pemiliknya tapi dikeruk oleh orang lain dari luar. Yang miris adalah ketika kapal mereka datang sembunyi dengan penuh ikan dan masyarakat kita minta beli mereka tidak mau. Ikan kita punya, pemiliknya datang beli tapi mereka tidak mau kasih. Kita tidak bisa menyalahkan mereka karena meraka juga orang Indonesia dan negera memberikan keleluasaan untuk itu,” kata Takem.

Kedepan Kata Takem Radja Pono, ada hal yang akan dilakukan oleh Paket TRP –Hegi jika rakyat memberi mandat pada tanggal 9 Desember 2020 nanti dengan mencoblos nomer 3. Hal yang akan dilakukan tersebut dimulai dengan nelayan-nelayan yang ada di Sabu Raijua untuk dibantu dengan berbagai peralatan apakah alat tangkap hingga perahu mulai dari yang kecil hingga besar.

“Kita akan bantu para nelayan, mulai dari alat tangkap air dangkal sampai air dalam seperti pukat, jukun dan lain-lain termasuk  juga minyak solar yang selama ini menjadi persoalan tersendiri. Pembelian kapal dan pabrik pangalengan ikan akan membuka lapangan kerja baru bagi anak-anak kita yang sudah tamat  akademi komunitas Sabu Raijua jurusan tangkap dan pengolahan hasil supaya mereka tidak boleh menganggur. Kita akan bantu para nelayan kita dengan teknologi untuk menangkap ikan. Dengan teknlogi itu mereka sudah bisa tau dimana tempat ikan berkumpul. Kalau ada ungkapan mengatakan, dalam laut dapat di duga, dalam hati siapa yang tahu, maka dengan teknologi yang ada saat ini kita sudah bisa menduga dan mendeteksi ikan-ikan yang ada di laut sehingga para nelayan tidak lagi mencari-cari dan menghabiskan bahan bakar. Kita juga bisa membuat istana untuk ikan yang biasa kita kenal sebagai Rumpon di laut kita sendiri sehingga nelayan tidak lagi sulit untuk mencari ikan. Satu titik rumpon itu tidak mahal sekitar 40-50 juta. Tidak terlalu mahal jika kita berpikir untuk rakyat,” ungkap Takem.

Untuk menunjang hasil laut yang ada kata Takem, maka langkah yang akan dilakukan adalah bagimana memperbaiki pabrik es yang sudah ada tapi dibiarkan mubasir. Ini penting dibangun kembali supaya ketersediaan es sebagai pengawet ikan bagi para nelayan bisa tercukupi. Setiap nelayan yang turun melaut harus membawa pengawet sehingga ikan yang mereka tangkap bisa tetap segar dalam beberapa waktu. “Jangan sampai nelayan menggunakan pengawet lain seperti formalin. Itu untuk mayat,” kata Takem.

Hal lain yang juga akan dilakukan kata Takem adalah membeli kapal penagkap ikan yang memiliki peralatan yang canggih serta memiliki tonase yang besar. “Kapal ini sudah dilengkapi dengan cool storeage yang memadai sehingga tunggu kapalnya sudah terisi penuh dengan ikan baru kembali ke darat. Nah kapal dengan muatan 200 ton itu sekitar 8-9 miliar. Kapal itu sudah lengkap peralatannya. Jadi kalau kita punya satu kapal saja maka sekali dia mendarat, ada 200 ton ikan yang dia bawa. Ini juga kita membuka lapangan kerja bagi anak-anak kita yang sekolah kelautan jurusan tangkap yang sudah lulus dan sekarang menganggur saja. Kita bawa orang luar untuk ajar mereka untuk operasikan kapal itu, setelah mereka mahir maka mereka sudah bisa operasikan sendiri,” ujar Takem.

Takem juga mengatakan bahwa pabrik pengalengan ikan yang akan dibangun di Raijua nanti akan mendapat pasokan ikan dari kapal besar yang bertonase 200 ton itu selain dari hasil tangkap para nelayan di Sabu Raijua. “Di sabu sudah ada beberapa pabrik yang dibangun sehingga ketika kita bisa kelola perikanan kita maka tidak sulit membangun pabrik pengalengan ikan di Raijua. Karena itu maka sangat penting untuk kita membantu para nelayan kita dengan peralatan yang cukup sekaligus kita harus memiliki kapal yang besar dan lengkap untuk menangkap ikan. Kita juga akan membangun tempat ikan bermain yang kita kenal dengan sebutan rumpon sehingga ikan tidak lagi kemana-mana tapi mereka bermain ditempat yang kita buat sebagai istana mereka. Pada akhirnya hasil laut kita ini tidak lagi hanya dikeruk oleh orang lain tapi kita sudah bisa kelola sendiri dan bisa memberi dampak bagi lapangan kerja bagi anak-anak kita,” kata Takem.

Untuk petani rumput laut kata Takem, akan dibantu dengan berbagai peralatan sehingga mampu meningkatkan produksi untuk pemenuhan kebutuhan pabrik rumput laut yang ada di Sabu Timur. “Kita akan bantu mulai dari benih yang baik, tali, patok, gabus, waring dan lain-lain supaya produksinya meningkat karena ada pabrik yang tunggu. Nah harga juga kita akan atur supaya petani bisa hidup sejahtera dan kita harus tata dengan baik sehingga rumput laut yang ada tidak lari keluar dari Sabu secara mentah tapi harus keluar dalam bentuk olahan sehingga harganya sudah meingkat jika kita jual dalam bentuk bahan setengah jadi. Sekali lagi petani rumput laut harus hidup sejahtera. Air laut tidak boleh lagi bertambah asin dengan keringat mereka yang bercucuran sebab mereka adalah pahlawan ekonomi bagi daerah ini,” pungkas Takem.

Pasangan Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati, Sabu Raijua, Takem Radja Pono dan Herman Hegi Radja Haba atau Paket TRP – Hegi berjanji akan menaikkan upah para pekerja tambak yang ada di Sabu Raijua. Kehadiran tambak garam di Sabu Raijua kata Takem Radja Pono harus mampu memperbaiki ekonomi rakyat terutama para pekerja yang menjadi ujung tombak produksi garam Sabu Raijua.

“Garam ini harus kita kelola secara baik sehingga bisa menggerakkan ekonomi dan pembangunan di Sabu Raijua. Pekerja tambak adalah ujung tombak dari berhasil tidaknya kita memproduksi garam. Yang perlu ina ama ketahui adalah, hadirnya tambak garam ini memiliki tujuan yakni bagimana mengangkat dan menggerakkan ekonomi rakyat di daerah ini. Oleh karena itu jika jika saya dipercaya memimpin Sabu Raijua maka gaji pekerja tambak bisa kita naikkan dari 1,2 juta menjadi dua juta rupiah setiap bulan. Dari hitungan yang kita lakukan, masih banyak sisa uang yang bisa kita gunakan untuk kepentingan pembangunan,” kata Takem yang juga di dampingi calon wakil bupati, Hegi Radja Haba.

Paket TRP – Hegi berjanji akan menjadikan garam sebagai salah satu produk unggulan yang akan keluar dari Sabu Raijua. Produksi garam yodium kata Takem akan lebih ditingkatkan lagi tidak saja mengandalkan hasil jualan garam curah. “Garam Yodium kita harus tingkatkan untuk memenuhi kebutuhan di Sabu Raijua dan juga kita jual ke luar Sabu Raijua. Kita tidak hanya bergantung pada hasil jualan garam curuh. Nah jika kita kelola dengan baik tambak garam yang ada maka para pekerja bisa sejehtera dan kita bisa pacu pembangunan lewat uang dari penjualan garam,” tambah Paket yang diusung koalisi rakyat lewat jalur perseorangan atau independen ini.

Hal baru yang dia akan lakukan oleh Paket TRP – Hegi kata Takem Radja Pono adalah mengembangkan Nigarin atau Sari Air Laut (SAL). Nigarin sedang dikembangkan di Madura satu tahun terkahir ini. Nigarin, jelas TRP adalah  ekstrak air laut yang mengandung mineral mikro yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. I a memiliki kandungan lebih dari 80 jenis mineral, termasuk Magnesium, Kalium, Besi, Kalsium, Boron, Selenium, dan Zinc. Nigarin merupakan cairan isotonis yang dapat membantu menjaga keseimbangan reaksi metabolisme di dalam tubuh. Khasiatnya banyak sekali, antara lain melangsingkan badan, detoksifikasi  atau mengeluarkan racun tubuh, merawat kulit, mencegah osteoporosis,mengatasi diabetes, dan memblokir serta membakar lemak. Di Jepang,  nigarin bahkan dikenal sebagai minuman pelangsing no 1.

“Kalau di Jepang Sari Air Laut itu disebut Nigari, lalu di Indonesia di Sebut Nigarin. Dalam bahasa ingris disebut Bittern. Kalau kita di Sabu mungkin lebih mengenal dengan sebutan Ai Ad’du” atau air pahit. Nah kedepan kita akan kembangkan ini. Harganya cukup tinggi. Sekarang produk Nigarin ini banyak orang yang menjual secara online atau lewat internet. Masyarakat Jepang sangat beruntung karena mereka sudah terbiasa minum nigari sebagai sumber magnesium. Sebenarnya Nigarin ini sudah digunakan oleh masyarakat Jepang maupun Cina dan Korea sejak ribuan tahun silam. Namun di Indonesia, Nigari ini baru diketahui dan dikembangkan. Nah Sabu Raijua sebagai wilayah dengan panas yang cukup baik untuk produksi garam maupun Nigarin tidak boleh diam. Sekali lagi kedepan saya akan lakukan itu jika rakyat Sabu Raijua memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengurus daerah ini,” kata TRP.

Di negeri Matahari Terbit lanjut TRP, nigari yang pahit memang sangat terkenal. Anak-anak hingga orang tua terbiasa mengkonsumsinya dalam kehidupan sehari-hari. Meski budaya memproduksi garam sudah sangat tua di Indonesia, tetapi nigari baru diperkenalkan setahun terakhir. Dr. Nelson Sembiring periset pada Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Timur yang memperkenalkannya. Nelson mengetahui khasiat nigari saat belajar di Jepang.

“Dari sisi ekonomi, Nigarin ini cukup mahal, sehingga selain kita mengelola garam, kita juga kelola nigarin ini. Harga di pasaran saat ini satu liter nigarin sekitar 30 hingga 40 ribu rupiah. Cukup menjanjikan sehingga saya yakin ketika kita mulai mengolah Nigarin di sabu raijua maka ada dua sumber uang yang kita punya yaitu uang jual garam dan uang jual nigarin. ” papar TRP.

Semua itu kata Takem Radja Pono akan bisa terealisasi jika masyarakat di Sabu Raijua bersatu hati memilih Paket TRP – Hegi dengan Nomer Urut 3 pada tanggal 9 Desember 2020. (joey rihi ga)

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]