Home / Seputar NTT / Jeriko: Banyak Guru Jadi Korban Politik

Jeriko: Banyak Guru Jadi Korban Politik

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Kupang, seputar-ntt.com – Anggoa DPR RI, Jefri Riwu Kore mengatakan, para guru sering menjadi korban politik dari para kelapa daerah ketika terjadi perhelatan politik seperti Pilkada. Untuk itu dia berkeinginan supaya para guru dikembalikan menjadi urusan pemerintah pusat.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa guru merupakan komoditas politik yang empuk di daerah sehingga mereka harus dikembalikan ke pusat. Dengan demikian mereka tidak dihantui oleh perasaan takut seperti dimutasi atau dicopot dari jabatanya,” tegas Jefri saat melakukan reses dan bertemu dengan masyarakat di Pulau Sumba, Kamis (5/3/2015).

Jefri menegaskan, dengan posisi para guru yang berada dibawah kendali Pemerintah Daerah maka mereka sering dijadikan komoditas politik. “Ketika seorang menjadi bupati/walikota maka mereka bisa mengangkat para guru sebagai tenaga honor kemudian nasib mereka tidak jelas,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bobby Akui Pertumbuhan TLM Luar Biasa

Berdasarkan data dari Kemendikbud padaTahun 2015 terjadi pensiun guru mencapai sekitar 300.000 guru, jumlah ini belum termasuk para guru yang meninggal dunia dan alihtugasprofesi. Diperkirakan kekurangan guru SD saja diseluruh tanah air mencapai sekitar 400.000 orang.

Menurut Anggota Komisi X DPR RI ini, berdasarkan temuan diberbagai daerah, banyak SD yang memiliki 6 rombongan belajar tapi hanya punya guru PNS dua orang dan satu kepala Sekolah. kelasnya 6, guru PNS nya 2 dan 1 Kepala Sekolah.

“Yang menyesatkan Kemdikbud sering mengklaim bahwa guru cukup. Bahkan sering diklaim kelebihan guru bahkan dengan rasio 1:15 melebihi rasio guru dan siswa negara-negara maju. Padahal, kekurangan tersebut diisi dan dicukupi dengan guru honorer atau guru Wiyata Bakti yang secara kepegawaian kesejahteraannya tidak jelas dan tidak manusiawi” ungkap Jefri.

Baca Juga :  Bank DKI Tempatkan Dana Rp.300 Miliar ke Bank NTT

Johannis Jacob, warga kelurahan Kambaniru Kecamatan Kambera, yang hadir pada kesempatan itu mengharapkan agar pemerintah lebih serius memperhatikan nasib-nasib guru terutama yang honor dan kontrak yang selama ini tidak jelas nasib kepegawaiannya. Atas perihal ini Jeriko berjanji untuk membicarkannya kepada Menteri setelah selesai reses dan dalam rapat kerja bersamapemerintah.

Menjawab harapan Johanis, Jefri berjanji akan memperjuangkan nasib para guru yang selalu ini jauh dari perhatian pemerintah. “Setelah reses kita akan sampaikan kepada Menteri apa yang kita temui sehingga nasib para guru tidak terkatung-katung,” pungkas Jefri. (joey)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]