Home / Pariwisata / Jalan ke Mulut Seribu Rusak, Paulus Henuk Bilang Harusnya Gubernur Jalan Darat

Jalan ke Mulut Seribu Rusak, Paulus Henuk Bilang Harusnya Gubernur Jalan Darat

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Share Button

 

Ba’a, seputar-ntt.com – Jalan menuju wilayah festival mulut seribu yang dalam kondisi rusak parah memantik kritikan dari Anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao, Paulus Henuk. Dia secara blak-balakan mengatakan seharusnya Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat melewati jalan darat dari Ba’a menuju Mulut Seribu sehingga bisa mengetahui secara jelas kondisi jalan yang memprihatikan ke kawasan wisata Mulut Seribu.

“Harusnya Pak Gubernur jalan darat dari Ba’a menuju Mulut Seribu supaya mengetahui dengan jelas betapa rusaknya infrastruktur jalan menuju kawasan mulut seribu. Yang terjadi Pak Gubernur datang lewat laut dan langsung ditempat kegiatan sehingga tidak merasakan betapa menderitanya masyarakat atau pengunjung yang datang lewat jalan darat. Kan tidak semua orang punya kapal seperti Pak Gubernur. Saya baca bukunya Gubernur Sulawesi Utara, Oli Dodokambey. Sulawesi utara itu tidak masuk dalam daerah prioritas untuk destinasi wisata. Lalu apa yang dia buat untuk mengembangkn pariwisata disana? Dia menghadap presiden, dia datang ke Menhub, dia menghadap CEO Lion Air. Dia minta agar ada penerbangan langsung dari China ke Manado. Dia tata semua jalan menuju daerah pariwisata dan apa hasilnya? Sekarang ada 17 triliun setiap tahun yang mereka peroleh dari devisa pariwisata,” Jelas Paulus Henuk di Ba, a,  Sabtu,  (26/10/2019)

Untuk itu lanjut Politisi Perindo ini, pembangunan di Kabupaten Rote Ndao harus ada skala prioritas. Jika mau kembangkan daerah wisata maka harus prioritaskan pembangunan infrastruktur menuju semua kawasan wisata yang ada di Kabupaten Rote Ndao. Apa yang menjadi program Gubernur yakni menjadikan pariwisata sebagai prime mover pembangunan kata Paulus Henuk adalah sebuah visi besar yang harus didukung karna memang NTT memiliki daerah yang indah termasuk di Rote Ndao.

“Apa yang disampaikan bupati tadi bahwa kegiatan festival mulut seribu ini akan menjadi event tahunan, pada prinsipnya kita mendukung. Karena itu kita mau supaya pembangunan di Rote itu harus ada skala prioritas. Kalo mau bangun pariwisata maka dengan dana yang terbatas kita buat skala prioritas untuk pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata. Karna keunggulan yang sangat strategis di Rote itu adalah pariwisata. Sehingga jika kita fokus untuk bangun patiwisata maka saya optimis kita mampu membawa daerah ini lebih maju,” ungkap Paulus Henuk.

Kegiatan Festival mulut seribu yang diselenggarakan kata Paulus Henuk terkesan terburu-buru dan tanpa persiapan yang matang. Hal ini memberi kesan yang kurang baik bagi para pengunjung karna selain infrastruktur jalan yang tidak layak, kegiatan yang berlangsung juga terkesan abal-abal. Hal ini akan membuat spirit orang menjadi pudar untuk tidak mau lagi datang ke tempat tersebut. Jika semua ditata dengan baik, acaranya dibuat bagus, para penjual maupun stand-stand ditata bagus maka orang akan pengen kembali untuk datang karna merasa ada yang baik dan membuat orang bahagia. Jika itu terlaksana maka Rote Ndao akan luar biasa dengan pariwisatanya.

Baca Juga :  Jadikan NTT New Tourism Teritorial

“Yang datang ke acara tadi itu paling banyak ASN bahkan hari ini diliburkan demi kegiatan itu. Pertanyaan kita kepada panitia apakah dia memiki data berapa jumlah orang yang hadir tadi. Sya pikir mereka tidak punya data itu. Kita mau makan di warung saja harus minta ditempat lain. Belum lagi harga jualan yang cukup tinggi bila kita bandingkan dengan harga diluar tempat kegiatan itu. Ini hal-hal kecil yang bisa berdampat besar jika tidak dikelola secara baik,”pungkas Paulus Henuk.

Untuk mengelola pariwisata dengan baik dan menghailkan maka pemerintah harus menyiapkan SDM yang memadai dan tentu berawasan wisata. Demikian juga dengan masyarakat sekitar tempat wisata harus dididik supaya menjadi orang yang mempunyai tourism minded. Termasuk menyiaokan tour giude yang baik. “Ada banyak fariabel yang harus dilerhatikan dalam mengelola pariwisata yakni alam itu sendiri yang indah, SDM yang baik, infrastruktur penunjang memadai. Jangan sampai tempatnya indah tapi karna jalannya rusak maka orang tidak mau lagi datang,” tutup Paulus Henuk.

Sebelumnya, Bupati Rote Ndao, Paulina Haning – Bulu mengatakan, Festival Mulut Seribu akan dijadikan event tahunan di Kabupaten Rote Ndao. Untuk itu setiap kekurangan dalam penyelenggaraan festival mulut seribu yang baru pertama digelar diharapkan bisa diperbaiki di tahun-tahun mendatang.

Hal ini disampaikan Bupati Rote Ndao, Paulina Haning saat memberi sambutan dalam pembukaan festival Mulut Seribu di Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao, Sabtu, (26/10/2019).

“Festival mulut seribu ini akan menjadi kegiatan tetap  dan event tahunan Pemkab Rote Ndao dan kita berharap lewat kegiatan seperti ini kita memperkenalkan kepada dunia luar bahwa ada begitu banyak tempat yang indah di Kabupaten Rote Ndao yang harus dikunjungi,” kata Paulina Haning.

Pada kesempatan tersebut, Paulina Haning meminta kepada Gubernur NTT, Viktor Laiskodat untuk membantu air bersih bagi kepentingan penunjang pariwisata di mulut seribu. Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat kata Paulina adalah ketersediaan air bersih di lokaai wisata mulut seribu.

Baca Juga :  Dukung TdF: PU Manggarai Antisipasi Air, Sanitasi, Toilet dan Exavator

“Kami sangat berharap kepada bapak gubernur untuk bantu kami dengan air bersih di mulut seribu ini karna kami sangat kesulitan air ditempat ini,” pinta Paulina Haning. Permintaan tersebut langsung disanggupi oleh Gubernur dan meminta waktu dua bulan untuk memenuhi permintaan masyarakat terkait air bersih.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat berharap, pariwisata di Kabupaten Rote Ndao bisa berkembang ditangan bupati seorang perempuan. Kenapa demikian karna wanita bekerja dengan kasih dan insting keibuan sehingga dengan menggeliatnya pariwisata akan memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Saat ini kata Viktor, satu-satunya bupati perempuan dan yang pertama di NTT adalah Bupati Rote Ndao, Paulina Haning – Bulu.

“Kenapa saya optimis karna perempuan itu adalah makluk paling kuat di muka bumi ini. Dia memiliki insting keibuan yang akan memberi rasa nyaman bagi masyarakat yang dia pimpin. Jadi harapan saya ditangan ibu bupati nanti, pariwisata di Kabupaten Rote Ndao akan berkembang dengan baik,” kata Viktor Laiskodat.

Gubernur juga meminta kepada masyarakat untuk meninggalkan kesan yang baik terhadap para wisatawan yang berkunjung di daerah wisata baik di Rote Ndao maupun ditempat lain yang ada di NTT. Dengan keramahan dan kenyamanan yang dirasakan oleh para wisatawan maka cerita baik tentang sebuah daerah wisata akan tersiar baik ditempat asal para wisatawan.

“Tinggalkan kesan yang baik. Jangan peras wisatawan sebab sekali dia merasa kecewa maka cerita buruk tentang sebuah daerah wisata akan berkembang dan sulit untuk direhabilitasi kembali. Untuk itu saya minta kita jaga tempat kita dengan baik dan berilah kenyamanan bagi setiap wisatawan baik lokal maupun mancanegara,”harap Viktor.

Pada kesempatan tersebut, Viktor Laiskodat juga menegaskan supaya festival wisata yang digelar di kabupaten-kabupaten harus mampu memberi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Disetiap hajatan ada perputaran ekonomi yang bisa menolong masyarakat yang ada di sekitar daerah wisata.

“Survei BPS menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan itu bersumber dari tenun ikat. Untuk itu, diharapkan wisatawan bisa menguras uangnya dengan membeli tenun ikat maupun souvenir seperti Ti’i langga dan lain-lain. Dengan keramahan yang kita berikan kepada wisatawan maka dia juga tak segan menguras sakunya untuk membeli berbagai souvenir,” tutup Viktor.(joey)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]