Home / Sabu Raijua / Disambut Secara Adat, TRP-Hegi Paparkan Strategi Hadapi Kekeringan dan Perubahan Iklim

Disambut Secara Adat, TRP-Hegi Paparkan Strategi Hadapi Kekeringan dan Perubahan Iklim

Takem Radja Irianto Radja Pono dan Herman Hegi Radja Haba disabut secara adat saat hendak melakukan Kampanye di Desa Ballu Kecamatan Raijua pada Senin (28/9/2020).

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Share Button

Seba, seputar-ntt.com – Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sabu Raijua, Takem Radja Irianto Radja Pono dan Herman Hegi Radja Haba disabut secara adat saat hendak melakukan Kampanye di Desa Ballu Kecamatan Raijua pada Senin (28/9/2020). Takem dan Hegi diberi makan gula dan kacang hijau dalam satu tempurung kelapa dengan sendok dari daun lontar sebagai simbol penerimaan sebagai anak dalam rumah. Pasangan dengan nomer urut 3 dengan sebutan Paket TRP Hegi berbicara tentang perubahan iklim dan stategi mengahdapi kekeringan yang melanda wilayah Sabu Raijua.

Takem Radja Pono mengatakan,  ancaman kekeringan di Kabupaten Sabu Raijua, ini sebenarnya bukan sekedar isu, tapi sebuah kenyataan yang dialami oleh masyarakat. Ancaman ini bukan baru dan tiba-tiba terjadi tapi sudah diketahui sejak dari tahun tahun 2013-2014 karena itu sudah diramal bahwa di wilayah Nusa tenggara Timur itu akan terjadi extreme climate change atau perubahan iklim yang sangat ekstrem.

“Ada beberapa kabupaten yang akan mengalami situasi Itu dan Sabu Raijua, Sumba Timur dan Kabupaten Manggarai merupakan kabupaten-kabupaten yang akan langsung dilalui kondisi dan situasi itu. Tetapi berbicara extreme climate change bukan hanya masalah kekeringan, dia bisa hujan tiba-tiba sangat deras, bisa-bisa kekeringan yang meluas. Sabu Raijua tiba-tiba mengalami kekeringan yang sangat luas dan panjang, demikian juga Sumba timur. Sementara Manggarai mengalami hujan yang sangat banyak,” ungkap Takem.

Sebenarnya masalah climate change ini lanjut Takem, bukan hanya masalah kekeringan saja, tapi juga gelombang menjadi tinggi, terjadi abrasi lalu kemudian menghancurkan rumput laut dan usaha nelayan. ini masalah yang harus disikapi. Karena itu mengatasi masalah kekeringan di Sabu Raijua, kata Takem, pihaknya tidak akan tinggal diam, dan akan bekerja dengan sangat luar biasa sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

“Pertama, kita mencoba mengatasi kekeringan dengan membuat embung-embung, baik embung kecil maupun embung besar, di lokasi-lokasi yang cocok  untuk itu. Jadi bukan seperti orang katakan bikin embung bikin embung, tidak begitu. Embung itu ada syaratnya, dia harus ada didaerah atasnya ada penangkapan air, yang nanti mengalir ke embung yang kita bikin di bawahnya. Kalau itu tidak ada, tidak bisa bikin embung di padang disana, karena tidak ada tangkapannya. Jadi banyak orang berambisi kenapa tidak bikin embung, mereka tidak mengerti persyaratannya,” jelas Takem.

Sesungguhnya kata Takem Radja Pono, Sabu Raijua kita sudah membangun sekian banyak embung embung kecil dengan nilai Rp 50 Juta lewat APBD. Ada juga embung besar yang kerjakan dari APBD dan ada yang dari Balai Wilayah Sungai yang dialokasikan misalnya embung Guriola, Maripuloa, Loborui. Kekeringan di NTT dan Sabu Raijua khususnya merupakan hal yang lasim sehingga tidak perlu diratapi atau ditangisi tetapi harus diatasi dengan cara-cara cerdas namun tidak memerlukan banyak biaya.

“Salah satu cara yang kita tempuh bagimana supaya kesulitan air ini bisa kita tuntaskan adalah bagimana membangun embung-embung supaya bisa menangkap air hujan ketika musim penghujan tiba. Semakin banyak embung yang dibangun maka akan semakin banyak persediaan air baku. Selain pembangunan embung untuk jangka panjang dan menengah untuk jangka pendek akan mengolah air laut atau air payau menjadi air bersih dengan menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO) sehingga apa yang selama ini menjadi pergumulan masyarakat bisa terjawab,” ujar Takem

Takem Radja Pono mengatakan, langkah lain yang akan dilakukan, untuk mengatasi kekeringan adalah kita sudah rencanakan disetiap banyak titik di kecamatan kita akan mengolah air laut menjadi air tawar atau air payau. “Air laut bisa langsung tapi alatnya mahal, air payau alatnya lebih murah, tapi keduanya 1 jam pengolahannya bisa mencapai sekitar 20.000 liter, dan bisa aktif sampai 24 jam. nanti tinggal kita menampungnya dan pada akhirnya tanki-tanki kalau terjadi kekeringan bisa melayani di wilayah-wilayah yang sulit. Masyarakat bisa ambil air bersih disitu,” tambah Takem.

Takem menambahkan,  waktu lalu Pemda Sabu Raijua pernah melakukan pengolahan air laut menjadi air tawan atau desalinasi seperti di Napae, Raijua, dan Lederaga. Proroyek-proyek tersebut dibuat oleh Australia  tapi itu tidak bertahan lama.

“Pengolahan air laut yang akan kita bikin bukan seperti di desalinasi, tetapi dengan  reverse water treatment technologi atau tehnologi pengolahan air terbalik, alatnya ada dan sudah dipakai di satu pulau di Gili terawangan NTB dan kami nilai ini praktis dan lebih gampang supaya masyarakat mendapatkan pelayanan. Itu kira-kira jika Tuhan berkenan kami memimpin daerah ini. Kami pikir tidak ada cerita lain, sehingga tidak ada masyarakat di sisi manapun yang harus mengalami air saja susah,” pungkas Takem.

Takem Radja Pono mengatakan dalam mengantisipasi kekeringan di Sabu Raijua maka Paket TRP – Hegi akan melakukan gerakan penghijauan di setiap pelosok terutama di tempat-tempat yang bisa menyimpan air.  Sumur-sumur resapan juga akan dibangun dalam rangka menyediakan air baku dalam tanah. “Daerah-daerah tangkapan air itu harus kita tanami pohon-pohon besar seperti beringin. Dulu sudah ada kebun Mandiri waktu lalu, kedepan kita lakukan inovasi-inovasi sesuai dengan teknologi yang ada supaya, gerakan penghijauan yang kita lakukan bisa berhasil di Sabu Raijua. Kita akan ajak setiap penduduk menanam sekian pohon di tanah mereka sendiri. Gerakan ini akan sebut sebagai gerekan tanam pohon dan tanam air menuju Sarai Hijau, Sarai sejuk dan Sarai Asri” kata Takem

Hal lain yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat di Sabu Raijua adalah dengan segera dioperasikannya Pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Oasa yang ada di Sabu Timur. Dengan demikian masyarakat di Sabu raijua bisa mengkomsumsi air minum yang higienis tapi murah. “Sudah ada produknya, MDT sudah bawa keliling NTT, sudah dipromosi dan pasar sudah terbuka. Sayangnya air kemasan ini dihentikan begitu saja, orang China yang bekerja di pabrik ini yang mengerti mengoperasikan pabrik ini, dihentikan. Entah ada masalah apa saya tidak tahu, tetapi ini dihentikan, pada akhirnya pabrik tidak beroperasi,” kata Takem.

Harus segera beroperasinya Pabrik Air Oasa kata Takem Radja Pono karena berkaitan dengan kesehatan masyarakat di Sabu Raijua. “Masyarakat harus mengkonsumsi air ini, karena kita lihat pabrik ini sama dengan pabrik Aqua. Mesin-mesinnya juga sama, justru teknisinya orang Aqua yang datang ke sini waktu lalu. Kita cari itu orang China, kita bayar dengan harga tinggi, daerah membiayainya, kita akan memulainya, karena masyarakat kita harus mengkonsumsi Air yang bersih dan bermutu,” kata Takem.

Jika dipercaya memimpin Sabu Raijua kata Takem, pihaknya  ingin program air kemasan ini harus memberi manfaat bagi masyarakat tapi harus dengan harga yang terjangkau. “Kita akan produksi dan jual, karena galon-galon produksi kita, airnya 1 jam 1000 galon kita produksi. Kita ingin semua rumah yang ada di Sabu Raijua atau sekitar 25 ribu rumah harus kita bagi dengan air ini. Antar desa atau kelurahan datang ambil kesini dengan harga sangat murah, satu galon Rp 5.000 saja. Kalau ada keluarga tidak mampu, kita tidak perlu kasih dengan harga, nanti ada subsidi dari pemerintah,” tambah Takem.

Salah satu tokoh masyarakat, yang juga wakil Bangu Udu do Natalo, Bai Ma Petu pada kesemapatan tersebut mengatakan bahwa apa yang disamapikan oleh TRP-Hegi adalah jawaban bagi pergumulan dan kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini lebih khususnya masyarakat yang ada di Pulau Raijua. Oleh sebab itu dia meminta kepada semua sanak saudara yang mengikuti kampanye TRP-Hegi untuk mendukung dengan tulus pasangan yang datang dengan harapan baik bagi masyarakat. “Kita berjanji untuk memangkan TRP-hegi. Dan janji ini adalah hutang. Mereka mendapat nomer urut 3 yang melambangkan 3 batu tungku. Tidak mungkin kita bisa memasak jika hanya menggunakan satu atau dua batu saja. Mari kita sama bekerja keras untuk paket ini,”kata Bai Ma Petu. (joey rihi ga)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]