Home / Kesehatan / Dinkes Manggarai Targetkan 2020 Bebas Filariasis

Dinkes Manggarai Targetkan 2020 Bebas Filariasis

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Share Button

Ruteng, seputar-ntt.com. Meningkatakan derajat kesehatan masyarakat Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya Kabupaten Manggarai, Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Selasa (3/5/2016) menggelar Rapat Koordinasi Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis tingkat Kabupaten Manggarai di aula Hotel Dahlia Ruteng.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Sekretaris Dinkes Kabupaten Manggarai, Drs. Adrianus Adipatma, M.Si, yang berlangsung selama dua hari Rabu dan Kamis, sedangkan sumber dana berasal dari Satuan Kerja Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sekretaris Dinkes Manggarai, Adipatma menjelaskan, ada 23 jenis nyamuk yang bisa menyebabkan timbulnya filariasis. Khusus di Elar juga terdapat pasien yang terkena filariasis tahun 1985. Mengatasi hal itu, demikian dia, Daerah Manggarai yang tropis menjadi sarang timbulnya filariasis.

Melihat kondisi Manggarai yang menjadi sarang nyamuk penyebar filariasis, Patma berharap agar semua pihak bisa bekerjasama membasmi filariasis di Kabupaten Manggarai. Karena itu, harap Ady, mulai 2016 sampai 2020, penyakit kaki gajah dipastikan zero di Manggarai.

Baca Juga :  1 Mei, STIKES Maranatha buka pendaftaran

Kegiatan tersebut dihadiri pemangku kepentingan di Kabupaten Manggarai, di antaranya Aparat Desa, Lurah, Staf Kecamatan, Kodim, Polres, Kantor Agama, tokoh masyarakat dan stakeholders lainnya.

Sedangkan, pematerinya masing-masing Joice Tibuludji, SKM. , M.Kes, Kasi P2P Dinkes Propinsi NTT dan dr. Gusti Made Sengia, A.A., Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam BLUD RSUD dr. Ben Mboi Ruteng. (

Joice melalui materinya berpesan jangan takut obat filariasis karena efek samping yang ditimbulkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan kondisi penyakitnya sendiri. “Obat ini aman untuk untuk masyarakat. Nama kumannya microfilaria atau kerap disebut cacing anak. Jika mengkonsumsi obat ini, efek sampingnya hanya 3-5 hari saja terutama jika terjadi ngantuk, pusing, dan mual ada kemerahan. Bila terjadi seperti yang disebutkan di atas, jangan khawatir ada petugas kesehatan yang siap membantu”, jelasnya.

Baca Juga :  Rayakan HUT ke-43, KNPI NTT Gelar Donor Darah di Car Free Day

Kasi Joice paparkan, di NTT ada 3.185 kasus yang kronis. Sedangkan, ada 42 di Manggarai kasus kronis, 420 kasus akut, dan yang terinfeksi 42.000 kasus. “Yang ditakutkan hanya cacat seumur hidup. Tidak menimbulkan kematian tetapi menimbulkan cacat yang berpengaruh terhadap perekonomian. Dengan minum obat, bisa memangkas rantai penularan, menbatasi kecacatan, dan diharapkan cacatnya tidak meluas karena minum obat jangan diharapkan untuk sembuh terutama bagi yang kronis. Yang bisa sembuh dengan obat adalah mereka yang terkena akut dan terinfeksi. Minum obat dapat menyembuhkan yang akut dan yang terinfeksi. Sejak dini harus minum obat filariasis”, demikian pesannya. (Melky Pantur)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]