Home / Seputar NTT / DINAMIKA SELF – ADJUSTMENT DIMASA ADAPTASI KEBIASAAN BARU

DINAMIKA SELF – ADJUSTMENT DIMASA ADAPTASI KEBIASAAN BARU

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Share Button

Oleh: Pdt. Daniel Hendrik

Pengantar

Coronavirus Disease 2019 (Covid -19) benar-benar menimbulkan kehebohan dan ancaman luarbiasa disegala bidang yang perlu disikapi serius oleh negara-negara di dunia. Data terbaru Worldmeter.Info terkait jumlah kasus Covid-19 di dunia (23 September 2020), 216 negara (termasuk Indonesia) telah terserang virus ini, dengan jumlah pasien terpapar 31.771.411. Dari total jumlah kasus yang dilaporkan, 975.310 meninggal, dan 23.386.714 sembuh. Indonesia, per 22 September 2020, tercatat 252.923 kasus positif, sembuh 184.298 orang, meninggal 9.837 orang. Jumlah ini, walau tidak kita harapkan, tentu masih berpotensi mengalami peningkatan selama langkah-langkah preventif yang disiapkan tidak diikuti dengan baik.

Tidak hanya dalam hal penyebaran virus dan peningkatan jumlah kasus yang belum dapat dihentikan, dampak ikutan terhadap aspek-aspek kehidupan lainnya tidak terelakkan. Perekonomian dan peradaban dunia terdampak secara serius. Covid-19 tidak hanya menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Virus ini juga menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi dan menjadi pemicu resesi ekonomi di beberapa negara dan bahkan memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Bisnis penerbangan dunia mengalami penurunan drastis sampai 96%. Menurut Bank Dunia, dalam Global Economic Prospect June 2020, ekonomi dunia diperkirakan mengalami konstraksi 5,2%, dengan penurunan pendapatan per kapita 3,6%. Itu berarti berdampak pada meningkatnya angka kemiskinan ekstrim tahun ini. Ini merupakan prosentasi resesi yang luarbiasa sejak Perang Dunia Kedua.

Umat manusia menghadapi krisis global yang luar biasa. Banyak hal terjadi yang tak terpikirkan sebelumnya. Para pemangku kepentingan diposisikan pada situasi yang dilematis. Segala kebijakan memiliki dampak ikutan. Pembatasan perjalanan, dan kebijakan karantina jangka waktu tertentu bisa menjadi pilihan untuk menghentikan penyebaran virus. Tapi tidak bisa dalam jangka waktu panjang karena berpotensi menimbulkan dampak-dampak ikutan tak terkontrol. Seperti digambarkan Yuval Noah Harari, pembatasan dan karantina atau isolasi dalam jangka waktu panjang berdampak pada runtuhnya perekonomian. Penawar yang paling baik, menurut Yuval Noah Harari, seorang Sejarawan Israel, bukan pemisahan, melainkan kerjasama. Sinergitas pemerintah dan masyarakat, serta semua komponen terkait, tidak hanya menyelamatkan kehidupan manusia, tetapi juga menyelamatkan kehidupan perekonomian dan peradaban.

Rasanya tepat jika keputusan untuk memulai proses adaptasi kebiasaan baru (new normal) merupakan salah satu wajah dari semangat kerjasama yang mau dibangun. Pada satu sisi, umat manusia memiliki kesamaan semangat untuk menghentikan penyebaran virus ini, dan di sisi lain proses untuk menghentikan penyebaran virus hanya mungkin dilakukan dengan perubahan laku hidup. Menurut Yuval Noah Harari, krisis global ini merubah tatanan kehidupan dunia. Saat badai berlalu, kita akan hidup di dunia yang baru. Dalam kondisi normal, bekerja dari rumah, sekolah/kuliah online, tidak mudah untuk diterima. Namun dalam kondisi adaptasi kebiasaan baru, hal tersebut bisa menjadi pilihan yang tak terelakkan. Inilah yang Yuval Noah Harari katakan, dalam kondisi krisis, kita diperhadapkan pada dua pilihan: antara pengawasan secara total atau pemberdayaan masyarakat. Adaptasi kebiasaan baru merupakan sikap kolaboratif terhadap dua pilihan ini.

Adaptasi Kebiasaan Baru VS Dinamika Self-Adjustment

Untuk menghindari dampak-dampak sosial-ekonomi yang jauh lebih hebat, maka pemerintah memberi kelonggaran untuk masyarakat beraktifitas. Isolasi-isolasi lokal dibuka. Akses antar wilayah diijinkan. Kewajiban administrative berupa keterangan hasil pemeriksaan Rapid-Test dengan catatan non-reaktif yang sebelumnya diberlakukan sebagai bagian dari alat kontrol mobilisasi rakyat antar wilayah secara bertahap mulai ditiadakan. Kondisi ini kemudian menimbulkan persepsi seolah-olah Covid-19 telah berlalu. Kegiatan-kegiatan sosial, ekonomi, kebudayaan, dan keagamaan dibuka meski dengan protokol yang disesuaikan. Di sisi lain, grafik kasus positif Covid secara nasional terus meningkat. Artinya, kemampuan dan kemauan masyarakat untuk menata dan menjalani hidup dalam kebiasaan yang baru masih menjadi kendala.
Secara teoritis, beberapa ahli memiliki pandangan tersendiri terkait penyesuaian diri, yang pada prinsipnya memiliki kesamaan kajian, yakni terjadinya dinamika psikologis antara tuntutan situasi sosial dan individu. Karena itu, dalam perspektif psikologi, penyesuaian diri (self-adjutment) dimengerti sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mengatasi segala permasalahan baik masalah yang timbul karena tuntutan dari dalam dirinya maupun lingkungannya. Ia tidak hanya berkaitan dengan bagaimana individu mampu menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan lingkungan. Juga terkait bagaimana individu dapat memengaruhi lingkungan. Menurut W.A Gerungan, penyesuaian diri dalam arti yang pertama disebut penyesuaian diri yang autoplastis (auto = sendiri, plastis = dibentuk), sedangkan penyesuaian diri yang kedua disebut penyesuaian diri yang aloplastis (alo = yang lain). Jadi, penyesuaian diri bernuansa “pasif”, di mana kegiatan kita ditentukan oleh lingkungan dan “aktif”, di mana kita pengaruhi lingkungan.

Penyesuaian diri menjadi kata kunci, meskipun tidak semudah yang dibayangkan. Ada hal-hal yang menghambat dalam proses penyesuaian diri individu. Faktanya, aksi-aksi kunci dalam tatanan hidup baru belum dihidupi secara serius. Menggunakan masker, mencuci tangan di air yang mengalir, hindari kerumunan, menjadi budaya baru yang masih sulit untuk diikuti. Belum semua komunitas menaruh perhatian serius terhadap perubahan tata laku dalam beraktifitas. Ruang-ruang publik masih abai untuk mempersiapkan fasilitas-fasilitas pendukung protokol kesehatan. Area-area perkantoran, pertokoan, pasar-pasar, dan titik-titik kumpul massa lainnya masih mempertontonkan keengganan untuk hidup dalam kebiasaan baru. Pengabaian terhadap himbauan physical distancing jadi pemandangan setiap hari. Euforia tak terkontrol bisa jadi mimpi buruk bagi upaya memutus rantai penyebaran virus.
Ada dinamika psikologis yang cukup kuat dalam proses adaptasi baru, yang dipicu oleh faktor-faktor tertentu. Dari sisi individu, persepsi yang dibangun merupakan faktor penting. Ketika individu memiliki persepsi bahwa ia aman, tidak mungkin terpapar virus, disaat itu tingkat kewaspadaan diturunkan, dan dorongan untuk menghidupi tatanan kebiasaan baru menjadi terhambat. Terbentuklah perilaku denial. Selain itu, dalam konteks lokal tertentu counter attack budaya cukup memengaruhi. Menahan diri untuk tidak berjabat tangan dan tidak cium hidung (Mis. dalam budaya Sabu) memiliki dinamika psikologis tersendiri bagi individu ketika itu dimaknai sebagai ungkapan rasa hormat dan persaudaraan. Bagaimana individu menghadapi gempuran hambatan seperti itu.

Menurut Irwan Abdullah, Guru Besar Anthropologi, Fakultas Ilmu Budaya UGM, adaptasi kebiasaan baru (new normal) paling tidak menyangkut dua hal yang harus diperhatikan: Pertama, kebiasaan baru (new normal) sebagai pernyataan kebudayaan, artinya adanya Covid-19 ini menghadirkan sebuah pertanyaan besar tentang seberapa kuat kebudayaan Indonesia. Bagaimana nantinya di saat memasuki era kebiasaan baru, apakah kebudayaan kita cukup elastis, apakah kebudayaan kita punya resilience cukup kuat sehingga bisa mengiringi atau mendampingi masyarakat masuk era kebiasaan baru? Kedua, kebiasaan baru (new normal) dinilai sebagai preseden kebudayaan. Melalui Covid-19 ini sesungguhnya menjadi sebuah momentum historis karena banyak pihak diajarkan pada sesuatu yang baru.

Selama belum ada kepastian ditemukannya vaksin yang tepat dan penghentian penyebaran virus, maka dalam konteks kehidupan adaptasi kebiasaan baru (New Normal), kolaborasi kemauan dan kemampuan menyesuaikan diri merupakan aksi kunci keberhasilan memutus rantai penyebaran Covid-19. Wajah dunia seketika berubah. Persoalan yang dibawa pun seketika berubah dan membutuhkan respon yang tepat. Perlu kesadaran pribadi dan aksi kolektif. Mengurung diri (baca: isolasi) tidak banyak menolong dalam konteks upaya penyelamatan secara menyeluruh. Virus masih terus menyebar, dan kehidupan mesti berlanjut. Penyesuaian diri lewat perubahan perilaku merupakan jembatan penghubung yang tepat antara tuntutan lingkungan, dan elastisitas sikap individu agar dapat bertahan. Maka benar kata Hendri P. Kluge, Direktur Regional WHO untuk Eropa, bahwa pada akhirnya perilaku masyarakatlah yang menentukan penyebaran virus corona.

Pemberlakuan tata kebiasaan baru merupakan salah satu langkah penyelamatan menyeluruh: kehidupan manusia, perekonomian dan peradaban. Tuntutan perubahan perilaku tak terelakkan. Adaptasi kebiasaan baru. Seberapa kuat kita siap dan mau untuk hidup dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tatanan kebiasaan hidup baru, sangat berdampak pada seberapa cepat penyebaran COVID-19 dapat dihentikan.
Salam Sehat. *(Pendeta GMIT/Alumni Magister Sains Psikologi UKSW Salatiga)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]