Home / Seputar NTT / Desa Hebing, Desa Pertama di Sikka yang Rumuskan Perdes Mata Air

Desa Hebing, Desa Pertama di Sikka yang Rumuskan Perdes Mata Air

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Share Button

Maumere,seputar-ntt.com – Desa Hebing Kecamatan Mapitara merupakan desa pertama di Kabupaten Sikka yang berhasil merumuskan Peraturan Desa (perdes)Mata Air.

Upaya ini merupakan lanjutan dari Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam yang dilakukan oleh kader Wahana Tani Mandiri (WTM) atas potensi mata air di sumber mata air Egon Ilimedo.

Demikian disampaikan Koordinator Program WTM, Herry Naif, Jumat (28/4/2017) sore.

Menurut Herry, perdes mata air yang dirumuskan di Desa Hebing sangat penting demi menjaga keberlangsungan sumber mata air di Gunung Egon.

“Perdes mata air ini untuk mengakomodir usaha penyelamatan ekologi di Gunung Egon. Selama ini mata air di sana menjadi sumber yang menghidupkan masyarakat 4 desa di kecamatan Mapitara. Karena itu, perumusan perdes mata air sifatnya penting bahkan mendesak,” papar Herry.

Dijelaskan Herry, proses perumusan perdes mata air tersebut melibatkan beberapa unsur terkait diantaranya aparatur Desa Hebing, tenaga pendidik, kader WTM dan Konsultan hukum.

“Awalnya kami mereview dan mengidentifikasi masalah ekologi yang terjadi seperti longsor, kebakaran hutan, banjir, gagal panen, penurunan debit air. Dari masalah itu, kami mulai rumuskan perdes tersebut,” terang Herry.

Sementara itu, Konsultan Hukum, Yohanes S. Kleden mengungkapkan proses perumusan perdes mata air dilakukan dengan metode advokasi artinya tim perumus diberi ruang untuk menemukan sendiri masalah yang ada di tengah masyarakat. Dari permasalahan yang ada, lanjutnya, tim perumus akan diarahkan untuk menemukan solusinya.

Lebih dari itu, Sun, sapaan Yohanes Kleden, menjelaskan metode lain  yang digunakan dalam perumusan perdes tersebut adalah metode analisis ROCCIPI.

Dijelaskan Sun,  ROCCIPI adalah singkatan dari beberapa kata yakni R: Role (aturan), O: Opportunity (peluang), C: Capacity (kapasitas), C: Communication (komunikasi), I: Interest (kepentingan), P: Process (proses), dan I: Ideology (sikap atau nilai).

Menurutnya dengan menggunakan metode ansalisis ini, tim perumus dapat saling belajar sehingga memudahkan mereka untuk menyusun perdes-perdes lainnya di waktu mendatang.

“Sejatinya proses perumusan perdes yang kami buat adalah bagaimana menemukan masalah dan mencari solusi secara bersama. Dengan metode ini saya yakin perangkat desa dilatih untuk menyusun perdes yang lain di kemudian hari,” ujar salah satu staf Lembaga Bantuan Hukum ini.

Lebih dari itu, Sun mengakui pentingnya kehadiran perdes mata air karena geografis wilayah desa Hebing yang berada dalam kawasan hutan lindung sehingga dasar hukum untuk menerapkan aturan harus jelas.

“Sekarang desa sudah otonom untuk menerapkan aturan melalui perdes. Yang menjadi kendala adalah soal kompetensi dan kemauan perangkat desa untuk memanfaatkan ruang yang sudah tersebut. Karena itu, kami hadir untuk damping mereka. Nanti hasilya akan dikonsultasikan ke bagian pemdes dan bagian hukum setda Sikka untuk disahkan,” tukas Sun.

Kepala Desa Hebing,Polikarpus mengatakan dirinya dan masyarakat desa Hebing terbantu dengan adanya perdes mata air tersebut. Menurutnya perdes mata air sudah menjadi legitimasi jelas untuk menerapkan aturan tentang perlindungan atas mata air yang ada di Desa Hebing.

“Di sini ada 12 mata air, yang 8 stabil tapi yang 4 sudah mulai turun debit airnya. Kalau sudah ada perdes mata air maka kami pemdes bisa tegakan aturan supaya mata air yang ada terus terjaga. Ini kan untuk kebutuhan masyarakat. Jadi sekarang kami sudah tidak takut atau segan untuk larang orang tebang hutan atau buat kegiatan yang bisa buat mata air kering,” tegas Polikarpus. (Chs)

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]