Home / Seputar NTT / Cinta Budaya Lamalera, Perempuan Biasa Gelar Nobar Film Leva

Cinta Budaya Lamalera, Perempuan Biasa Gelar Nobar Film Leva

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Kupang, seputar-ntt.com – Tradisi penangkapan ikan paus atau Leva tetap lestari di kalangan masyarakat Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, sejak abad ke-14. Kini, budaya Leva menjadi kontroversi di tengah konservasi dan tradisi. Menanggapi hal tersebut, Komunitas Teater Perempuan Biasa, asuhan Dr. Lanny Isabella Koroh, M.Hum menggelar sebuah kegiatan Pemutaran Film dan diskusi bersama dengan tema “Ina Leva” yang berarti Ibu Laut.

Kegiatan yang digelar di Aula Komodo Ballroom Kantor DPD RI-NTT yang dihadiri oleh istri Wakil Bupati Lembata, Maria N. Sadipun ini, secara khusus juga mengundang P. Charles Bheraf, SVD, seorang putra Lamalera yang kini mengabdi menjadi Imam di Paroki Detukeli, Keuskupan Agung Ende, sebagai narasumber diskusi. Dimulai sekitar pukul 17.15 WITA, kegiatan ini dibuka dengan pembacaan puisi oleh Dr. Lanny Koroh.

Baca Juga :  Gubernur NTT Lupa Berterimakasih Saat Menerima Penghargaan Toleransi

Adapun film yang diputar dan disaksikan bersama oleh sekira 46 peserta itu adalah Film berjudul “Lamalera Tua” dan “Ina Lefa.” Setelah pemutaran film, diadakan pula sesi diskusi yang dipandu langsung oleh Ketua Panitia kegiatan, Katarina Kewa Sabon Lamablawa. Diskusi ini semakin menarik dan meriah dengan dihadiahkannya lima buah novel Lamafa karya Fince Bataona kepada kelima peserta diskusi yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan moderator.

Dr. Lanny Koroh, ketika ditanya mengenai alasannya menginisiasi kegiatan ini, mengaku ingin mengangkat dan memperkenalkan tradisi Leva dari Lamalera,  kepada kalangan masyarakat yang lebih luas. Secara khusus Teater Perempuan Biasa menyoroti filosofi Ina Leva, dimana masyarakat Lamalera melihat laut sebagai ibu dan sumber kehidupan. Laut tidak sebatas menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga menjadi suatu sumber sistem jaminan sosial bagi masyarakat, khususnya para janda dan yatim piatu.

Baca Juga :  Muhamad Anshor Bantah Usir Orang Tua Kandung

Reno Matrecano, salah seorang peserta kegiatan, mengapresiasi inisiatif Perempuan Biasa untuk memperkenalkan budaya ini, sehingga tidak akan luntur dari ingatan generasi muda masa kini. Reno mengaku senang dan terus mendukung langkah Perempuan Biasa ke depan.

Rencananya, Perempuan Biasa masih akan menggelar beberapa rangkaian kegiatan menjelang malam Puncak Panggung Teater Perempuan Biasa III pada 17 Juli mendatang, antara lain Seminar Internasional dan Bakti Sosial. (*)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]