Home / Seputar NTT / Awang Notoprawiro, Menembus Sekat di Rumah Flobamora

Awang Notoprawiro, Menembus Sekat di Rumah Flobamora

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Share Button

Kupang, seputar-ntt.com – Pembawaannya cukup sederhana. Bagi mereka yang tidak mengenal sosok ini, maka tak menyangka jika dia adalah pengusaha sukses yang juga ketua PAN NTT. Pria yang selalu berkaca-mata ini bernama lengkap Awang Notoprawiro. Lahir dan besar di Kota Kupang, dia tumbuh besar menjadi sosok yang pluralis dan humanis. Sekalipun Bergama Islam, tapi dia menempuh pendidikan di sekolah Kristen. Itulah yang menempa pribadi Awang menjadi sosok yang mampu menembus sekat tanpa melihat suku, agama maupun ras dan antar golongan.

Terlahir dari keluarga nelayan yang sederhana, membuat Awang harus berjibaku dengan getirnya kehidupan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Sebagai anak Namosain, Laut adalah sahabat yang bisa memberi nafkah. Bagi Awang, laut bukan hanya deburan ombak semata tapi juga sumber berkah yang harus dikelola untuk kehidupan. Saking mencintai laut dan rezekinya, panggilan tak humanis sempat dia berikan untuk Awang ketika menempuh pendidikan di SMA. Siapa yang menyangka jika Awang yang dipanggil si “Amis” oleh gurunya saat bersekolah di SMK Giovani Kupang kini telah menjadi orang yang berpengaruh di kancah politik NTT. Sekalipun sukses dalam bisnis dan politik, tidak membuat Awang menjadi Jumawa.

“Dia (Awang) sering datang ke sekolah dengan melekatnya sirik Ikan, sehingga bau amis, saya sering memanggil Awang itu Amis, kalau saya panggil Amis pasti teman-temannya tertawa, saat itu air susah dan tidak mengenal adanya sabun jadi Awang usai melepas pukat, mengurus kapal hingga menjual ikan selesai baru bisa datang ke sekolah tanpa mandi,” kata , Emannuel Mane Riberu guru Awang Notoprawiro di SMAK Giovani Kupang.

Sosok Awang dikenal luas oleh masyarakat Kota Kupang, tidak saja mereka yang berduit tapi juga rakyat jelata. Bukan pula mereka yang sesame muslim, tapi awing juga menjadi sandaran umat lain yang hidup di Kota Kupang. Sebut saja, ketika perayaan Paskah Tiba, maka angkutan milik Awang paling banyak digubakan secara gratis oleh peserta pawai paskah. Dia sadar bahwa dia hidup di rumah Flobamora, rumah yang dibangun dalam suka dan duka bersama tanpa melihat sekat agama dan suku.

“Ini bentuk sumbangan dari Pak Awang kepada beberapa gereja yang melakukan permintaan untuk menggunakan mobil dan perlu dicatat pula bahwa ini disumbangkan secara gratis tanpa dipungut biaya sehingga jangan berpikir bahwa sumbangan ini diberikan karena ada biayanya. Mobil yang disumbangkan oleh pak Awang ke beberapa gereja antara lain,  GMIT Lahairoi Kunheum, Gereja Mawar Saron Kelapa Lima,  Gereja GMIT Nitmeo, Gereja Pentakosta Tabernakel serta kepada Panitia Paskah BP. GMIT,” ungkap Marthen Lenggu, karyawan yang bekerja di perusahaan milik Awang Notoprawiro.

Tak cukup dengan memberi bantuan berupa kendaraan Tronton, Wang juga menyiapan ratusan dos air mineral bagi para peserta pawai paskah tahun 2017. Para kawan Awang sudah menunggu di Depan Kathedral Kupang untuk membagikan air mineral bagi peserta pawai. “Ini adalah wujud kasih dan persaudaraan dari Pak Awang yang kami berikan bagi umat Kristen yang sedang merayakan paskah,” ujar salah satu Kawang Awang, Yoseph Pito Atu.

Walaupun sebagai Ketua PAN NTT, Awang bukan tipe yang suka disanjung dan dipuja. Dia lebih banyak bermain dari tepian bahkan cenderung menjadi pemain dibelakang layar. Tangan dinginnya telah mengantarkan Jefry Riwu Kore dan Herman Man menjadi Wali Kota dan Wakil Walikota Kupang periode 2017-2022. Semua orang tahu bahwa salah satu sutradara dihajatan politik lima tahunan di Kota Kasih itu adalah Awang Notoprawiro. Tapi dia selalu tidak mau nemapk di depan. Dia kadang merasa malu seperti anak nelayan kebanyakan, padahal dia adalah sosok yang sudah dibicarakan publik NTT.

Untuk merekam apa yang menjedi keluhan masyarakat di pedalaman, Awang sebagai ketua PAN NTT secara diam-diam, turun dan bersilaturahmi dengan masyarakat di berbagai Kabupaten. Kedatangannya sering membuat Ketua PAN di Kabupaten merasa canggung karena dia hadir dalam senyap untuk mendengar dan tidak menuntut pengharmatan berlebih dari anak kader partai.

“Awang datang ke SBD, itu pun kami tidak disampaikan, Beliau datang dan mencari tahu pokok permasalahan di daerah secara diam-diam, itu semata mata hanya untuk kepentingan rakyat,” ungkap Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN Sumba Barat Daya (SBD), Syamsi P Golo kepada media ini.

Bagi para kader PAN maupun Ketua DPD PAN di Kabupaten, Awang adalah sosok yang tegas namun rendah hati. Dia akan marah jika ada kepentingan masyarakat yang tidak diperjuangkan oleh kader PAN yang duduk di kursi legislatif baik yang ada di Provinsi maupun Kabupaten. Walaupun demikian Awang adalah sosok yang bisa menerima saran dan pendapat dari bawahan untuk ssesuatu yang baik. “Awang sangat welcome, Kami pun bebas menyampaikan aspirasi dari tingkat bawah, keterbukaan Awang membuat kami selalu mendapatkan aspirasi baru untuk kepentingan bersama,” tambah Syamsi P Golo.

Bagi para buruh yang bekerja di Pelabuhan Tanjung Lontar Tenau Kupang, Awang adalah sosok pemimpin yang luar biasa sekagus bapak yang bijak dan selalu mengayomi mereka. Walaupun sudah menjadi Bos, Awang tak pernah menggunakan kedudukannya untuk menekan para buruh. Dia justru sangat perhatian dengan kehidupan mereka. Dia bahkan tak jarang menjenguk keluarga para buruh jika ada yang sakit.

“Bagi saya Awang adalah sosok pemimpin yang luar biasa itu semua karena saat kami bekerja Beliau datang dan berbincang-bincang tanpa memandang sebuah jabatan, dan juga beliau senantiasa mengarahkan kami dalam bekerja dalam bentuk tanggungjawab, selain itu juga Awang merupakan seorang Bapak, kakak yang senantiasa mengayomi kami dalam segala hal,” kata Daniel Nggeok, salah satu pekerja di pelabuhan tenau kupang, Selasa (29/08/2017).

Bagi Daniel Nggeok yang sudah 20 tahun bekerja sebagai buruh di pelabuhan tenau kupang sangat mengenal benar sosok Awang. Hal yang unik dalam diri Awang saat memimpin adalah Awang tidak memandang bulu, banyak karyawan yang sering sakit dan adapula istri atau keluarga karyawan yang sakit pastinya Awang selalu berkunjung, tidak sekedar berkunjung melainkan Awang sering membawa mereka untuk melakukan perobatan ke Rumah Sakit.

“Pembahasan tentang upah, bila dibuat perbandingan dari pemimpin-pemimpin sebelumnya sangat berbeda jauh, kadang-kadang masalah tawar menawar harga di TKBM dengan biaya 500 rupiah saja setengah mati, tetapi ternyata dengan pak Awang ini banyak kemudahan yang Awang berikan kepada kami sebagai buruh,” ujarnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini Awang Notoprawiro sedang memintal harapan menju gedung senayan lewat Partai berlambang Matahri itu. Dia merasa terpanggil untuk bisa memperjuangkan ribuan asa rakyat jelata yang masih tidur di ruang-ruang kemiskinan di tanah Flobamora. Awang adalah sosok yang mampu menembus sekat di rumah Flobamora sambil membuat jejak menuju senayan. (joey rihi ga)

 

 

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]