Home / Rumpu-Rampe / Air Mata Jemaat dan Khotbah Terakhir Pendeta Deazsy di Imanuel Batukadera

Air Mata Jemaat dan Khotbah Terakhir Pendeta Deazsy di Imanuel Batukadera

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Share Button

Kupang, seputar-ntt.com –  Suasana kebaktian  di Jemaat Imanuel Batukadera pada Minggu 24 Januari 2016, terlihat berbeda dari minggu sebelumnya. Pasalnya, ini adalah Khotbah terkahir Pdt. Deazsy A. Liu-Tatengkeng sebagai Ketua Majelis Jemaat di gereja tersebut.  Pendeta. Deazsy  akan dimutasi ke Jemaat Batu Karang Koenino setelah memimpin Jemaat Imanuel Batukadera dalam kurun waktu Limat Tahun dua bulan.

Kebaktian yang berlangsung pada pukul 7:00 Wita tersebut, awalnya nampak biasa. Namun saat kebaktian dimulai dan dibuka dengan votum salam oleh pendeta Deazsy seketika jemaat dibuat bingung dengan keadaan mengharu biru yang ditunjukan oleh para majelis jemaat. Ada beberapa majelis jemaat yang diawal kebaktian sudah mulai mengeluarkan air mata kesedihan, hal ini sontak membuat jemaat bingung karena banyak jemaat yang tidak mengetahui perihal mutasi ini.

Kebaktian pun berjalan seperti biasa pada umumnya dilakukan di GMIT Imanuel Batukadera, namun isak tangis jemaat mulai pecah saat diakhir khotbahnya Pendeta Deazsy membeberkan mengenai mutasi dirinya ke jemaat lain dan perihal pelayananya yang terakhir kali pada saat itu sebagai Ketua Majelis Jemaat.

Baca Juga :  Merah Putih Yang Lusuh Di Selatan Indonesia

Banyak diantara jemaat dan majelis terlihat sedih terharu. Hal ini tentu saja tidak mengherankan jika melihat sepak terjang yang dilakukan Pendeta Deazsy selama kurang lebih 5 tahun 2 bulan pelayanannya di Jemaat Imanuel batukadera. Begitu banyak Prospek pembangunan didalam jemaat selama masa layan Pdt. Deazsy, baik itu dari koinonia, marituria, diakonia, dan oekonomia  begitu nampak jelas dalam hal tugas dan pelayanan gereja di muka bumi khususnya di bumi Batukadera.

Hal yang cukup menarik muncul dalam kesaksian Pdt. Deazsy dalam khotbahnya mengenai dilema yang ia alami. Ia mengatakan bahwa saat dirinya diperhadapkan dengan mutasi yang diadakan sinode pada dirinya ia mengalami dilema yang cukup besar dan cukup mengganggu.
Pdt.Deazsy mengatakan bahwa dilema yang dialaminya saat itu adalah ketika ia merasakan bahwa kasihnya yang begitu besar kepada jemaat dan ingin tetap melayani pada jemaat GMIT Imanuel Batukadera atau tunduk pada Utusan Tuhan sebagai sang pemilik pelayanan untuk melayani di jemaat yang baru. Namun Ia pun melanjutkan bahwa pada akhirnya dilemanya pun terjawab dan ia harus memilih untk tunduk pada panggilan Tuhan sebagai sang pemiilik Pelayanan. Hal ini dipertegas dengan khotbah yang diambil dari Yeremia 1 ayat 3-10 dengan mengusung tema selalu siap untuk menerima panggilan Tuhan.

Baca Juga :  POTENSI PENGEMBANGAN USAHA PETERNAKAN BERBASIS LAHAN KERING MELALUI SISTEM INTEGRASI TANAMAN-TERNAK MODEL ZERO WASTE DI KABUPATEN SABU RAIJUA

Pada kebaktian pagi saat itu juga terjadi perhadapan untuk Badan Pengurus Tingkat Jemaat yang meliputi PAR, PEMUDA, PAK, KAUM BAPAK, KAUM IBU. Ini merupakan Pengutusan terakhir yang dilakukan oleh Pdt. Deazsy terkait dengan pelayanannya yang telah berakhir sesuai SK  yang telah dikeluarkan oleh Sinode GMIT pada 23 Januari 2014. (dian rihi ga)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]